Tampilkan postingan dengan label Skripsi Bahasa dan Seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Skripsi Bahasa dan Seni. Tampilkan semua postingan

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENYAMPAIKAN INFORMASI DENGAN TEKNIK INFORMATION GAP PADA SISWA KELAS VIII-D SMP NEGERI 5 SEMARANG TAHUN AJARAN 2005/2006

BAB I


PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang


Manusia  adalah makhluk  sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Mereka hidup  dalam  kelompok-kelompok  yang  saling  berinteraksi  dan  berkomunikasi satu sama lain. Secara garis besar, ada dua cara dalam berkomunikasi, yaitu komunikasi   verbal  dan  nonverbal.   Komunikasi   verbal  menggunakan   sarana bahasa,  sedangkan  komunikasi  nonverbal  memanfaatkan  sarana  berupa  gerak- gerik atau lambang-lambang tertentu. Komunikasi verbal dianggap paling efektif dan efisien serta sedikit kemungkinan terjadi salah penafsiran. Komunikasi verbal dibagi  menjadi  dua, yaitu komunikasi  lisan dan tulis. Komunikasi  lisan sering dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dialog dalam lingkungan keluarga, dialog antara pembeli dan penjual, percakapan di telepon, wawancara, debat, pidato, dan sebagainya.  Kegiatan-kegiatan tersebut memanfaatkan komunikasi lisan berupa kegiatan berbicara (Tarigan dkk. 1997:29).


Keterampilan berbicara merupakan salah satu segi dalam caturtunggal keterampilan berbahasa di  samping tiga keterampilan berbahasa yang lain, yaitu: keterampilan  menyimak (listening  skill), keterampilan  membaca (reading skill), dan keterampilan menulis (writing skill). Setiap keterampilan tersebut saling berhubungan   erat   dan   tidak   dapat   berdiri   sendiri-sendiri.    Dalam   proses memperoleh  keterampilan  berbahasa,  kita  biasanya  melalui  suatu  urutan  yang teratur, pada masa kecil kita menyimak bahasa, kemudian berbicara, sesudah itu kita belajar membaca, dan menulis (Tarigan 1981:1).


Berdasarkan  fungsinya,  keterampilan  membaca  dan menyimak  termasuk keterampilan berbahasa yang reseptif dan apresiatif. Artinya, kedua keterampilan tersebut digunakan untuk menangkap dan memahami informasi yang disampaikan melalui bahasa lisan dan tertulis. Sebaliknya, keterampilan berbicara dan menulis merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat produktif dan reseptif. Artinya, kedua keterampilan berbahasa tersebut digunakan untuk menyampaikan informasi atau gagasan baik secara lisan maupun tertulis (Wagiran dan Doyin 2005:1-2).


Berbicara   merupakan   keterampilan   yang   sangat   penting   dan   harus dipelajari karena setiap proses berbicara pasti ada pesan atau informasi yang ingin disampaikan oleh pembicara kepada pendengarnya. Oleh  karena itu, menyampaikan  informasi  dimasukkan  dalam salah satu kompetensi  dasar yang harus dicapai oleh siswa kelas VIII SMP. Indikatornya adalah: (1) mampu mengajukan pertanyaan untuk meminta penjelasan dari seorang narasumber; (2) mampu menyampaikan   informasi    kepada    orang    lain;     dan    (3)    mampu membandingkan keutuhan pesan yang diterima dari narasumber dengan isi pesan yang disampaikan.


Tahun   2004   mulai   diberlakukan   kurikulum   baru   yang   dinamakan kurikulum 2004 atau sering disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi. Kurikulum ini   menggunakan   pembelajaran   kontekstual   sebagai   landasan   berpikirnya. Walaupun  sudah  satu  tahun  kurikulum  2004  diterapkan  di  SMP  Negeri  5 Semarang, tetapi praktiknya masih belum diterapkan secara maksimal. Guru mata pelajaran  masih  menerapkan  metode  ceramah.  Guru  menyampaikan  materi  di depan kelas dan siswa mendengarkan. Terjadi proses pembelajaran yang berpusat kepada guru, siswa hanya berperan sebagai objek pembelajaran. Kadang-kadang guru juga telah menerapkan  teknik diskusi dalam kelompok  masyarakat  belajar (learning community). Namun, hal tersebut justru menjadi ‘bumerang’  bagi siswa. Siswa sering menggantungkan  diri pada anggota  kelompok  yang lain sehingga mengakibatkan siswa yang aktif semakin aktif dan siswa yang pasif semakin tertinggal. Hal tersebut disebabkan karena selama ini mereka dimanjakan dengan cara menerima materi dari guru.


Walaupun  siswa hanya menerima  materi dari guru, namun salah paham dalam   proses   pembelajaran   masih   terjadi.   Siswa   belum   dapat   sepenuhnya memahami dan menjelaskan kembali materi dari guru sehingga siswa sering salah dalam menjawab pertanyaan. Dalam hal ini, proses komunikasi antara guru dan siswa dalam pembelajaran masih mengalami misunderstanding sehingga pengetahuan yang diterima siswa relatif rendah.


Model pembelajaran yang benar belum diterapkan oleh guru. Kurikulum Berbasis Kompetensi menuntut adanya pembelajaran yang ‘sebenarnya’. Pembelajaran  bahasa yang harus diterapkan   adalah belajar berkomunikasi  baik secara lisan maupun tertulis (Depdiknas 2003:5). Pembelajaran  berbicara masih dilakukan dengan model ceramah. Padahal, model pembelajaran berbicara seharusnya  dilakukan  dengan model praktik secara langsung.  Selain itu, model penilaiannya  pun dilakukan  berdasarkan  teori-teori  yang dikuasai  siswa, bukan kemampuan siswa berbicara karena pada prinsipnya, Bahasa dan Sastra Indonesia adalah sarana komunikasi sehingga pendekatan pembelajaran bahasa lebih menitikberatkan aspek performansi atau kinerja bahasanya (Depdiknas 2003:2-3).


Teknik yang diterapkan oleh guru pun sering tidak sesuai dengan indikator yang ingin dicapai  pada setiap kompetensi dasarnya. Misalnya, untuk kompetensi dasar   menyampaikan   laporan   perjalanan   (indikator:   mampu   menyampaikan laporan perjalanan  dengan bahasa yang komunikatif  berdasarkan  urutan, ruang, waktu, atau topik) guru justru menekankan pada kompetensi dasar membaca. Cara yang  digunakan  yaitu  guru  menyuruh  siswa  membaca  teks  laporan  perjalanan yang ada di dalam buku, bukan bagaimana proses siswa menyampaikan laporan perjalanannya.


Hal    serupa  juga  terjadi  pada  kompetensi  dasar  berwawancara  dengan narasumber  dari  berbagai  kalangan.  Guru  memberi  tugas  rumah  kepada  siswa untuk berwawancara,  siswa mencatat  hasil wawancaranya.  Dalam hal ini, guru hanya menilai kemampuan siswa dari aspek menulis, sedangkan keterampilan berbicara siswa belum terevaluasi.


Berdasarkan  hasil observasi  yang diperkuat  dengan  informasi  dari guru mata pelajaran, kelas VIII-D adalah kelas yang tingkat keterampilan berbicaranya paling rendah di antara kelas yang lain. Kelas yang terdiri atas 21 siswa putra dan


25 siswa putri itu terkenal  dengan  kelas yang paling ramai. Namun,  pada saat proses  diskusi kelompok, kelas itu paling statis. Mereka tidak mau memanfaatkan kesempatan bertanya   atau menanggapi hasil presentasi kelompok lain sehingga guru harus menawarkan kesempatan sampai beberapa kali dan hasilnya hanya satu sampai dua orang saja yang mau berkomentar.


Siswa sering bersikap pasif dalam proses pembelajaran. Hal tersebut disebabkan  siswa  terbiasa  menerima  materi  dari  guru  sehingga  siswa  kurang berlatih berbicara. Bahasa yang digunakan  siswa pun sering kurang santun dan bersifat nonformal. Hal tersebut terlihat ketika mereka berbicara kepada teman, bahkan kepada guru PPL.


Berdasarkan  hasil wawancara,  penyebab rendahnya tingkat keterampilan berbicara siswa tidak hanya berasal dari faktor guru, tetapi juga dari faktor siswa. Anggapan siswa bahwa berbicara merupakan sesuatu yang dimiliki dengan sendirinya  sehingga  tidak  perlu  berlatih  berbicara  lagi.  Hal  tersebut  sejalan dengan  pendapat  Bormann  dan  Bormann  (1991:5)  yang  menyatakan  bahwa berbicara  merupakan  kejadian  yang  sudah  sangat  biasa,  boleh  dikatakan  kita sudah berbicara sejak kecil sehingga keterampilan berbicara dianggap relatif gampang dan kurang penting untuk dipelajari atau dipraktikkan.


Untuk    mengatasi masalah rendahnya keterampilan berbicara dan menambah variasi teknik     pembelajaran berbicara, maka penelitian ini menawarkan  sebuah alternatif pembelajaran  berbicara  menyampaikan  informasi menggunakan   teknik   information   gap yang   penerapannya   sesuai   dengan pendekatan kontekstual.


Information gap merupakan teknik pembelajaran yang mengandung unsur permainan. Pembelajaran yang mengandung unsur permainan terbukti dapat membuat siswa merasa senang dan bersemangat selama mengikuti proses pembelajaran. Selain itu, siswa akan lebih mudah menangkap materi dengan cara tersebut. Pembelajaran menyampaikan  informasi dengan teknik information gap memberi kesempatan kepada siswa praktik berbicara secara langsung dan individu sehingga siswa berlatih berbicara. Selain itu, pembelajaran dengan teknik information gap menggunakan rangsang gambar visual yang terbukti dapat membantu  daya  ingat  siswa.  Kehadiran  narasumber  juga  terbukti  membantu proses pembelajaran. Yang paling penting, teknik information gap memiliki unsur yang tidak dapat diterka sebelumnya, hal ini penting agar proses komunikasi berlangsung  realistis.  Diharapkan,  setelah  pembelajaran  ini  siswa  menyadari bahwa apa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti sehingga mereka mampu mengembangkan potensi berbicaranya masing-masing.


Selain itu, alasan pemilihan teknik information gap pada pembelajaran menyampaikan   informasi  adalah  karakteristik  teknik  information  gap sangat sesuai  dengan 3  indikator yang  ingin dicapai pada kompetensi  dasar menyampaikan informasi yang tertuang dalam standar kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia kelas VIII Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah.


1.2 Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang yang sudah diuraikan pada bab pendahuluan, ada berbagai faktor yang memengaruhi mutu keterampilan berbicara siswa. Oleh karena itu, dapat dilakukan identifikasi masalah sebagai berikut.


Peranan guru dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa belum maksimal dan masih terjadi misunderstanding dalam proses pembelajaran. Guru masih memberikan celah kepada siswa untuk bersikap pasif dan menggantungkan diri kepada guru saat proses pembelajaran. Oleh karena itu, kreativitas guru dalam menciptakan  keaktivan  siswa  dalam  berkomunikasi  saat  proses  pembelajaran masih  perlu  ditingkatkan.  Cara  yang  digunakan  adalah  dengan  memberikan tanggung jawab kepada masing-masing individu. Dengan adanya tanggung jawab tersebut,  siswa tidak akan menggantungkan  diri kepada guru. Teknisnya   yaitu dengan  memberikan   tugas  kepada  sebagian anggota kelompok, semisal ketua, fasilitator, pencatat waktu, notulis, juru bicara, pengamat proses, atau pengelola materi (Silberman 2004:49).


Dalam  mengevaluasi  keterampilan  berbicara  siswa,  ada  banyak  aspek yang  harus  diperhatikan  dan  membutuhkan  penilaian  secara  individu.  Jumlah siswa  yang  banyak  akan  membutuhkan  waktu  presentasi  yang  banyak  pula. Padahal,  mata pelajaran  Bahasa dan Sastra Indonesia  mencakupi  banyak sekali kompetensi dasar. Selain banyak aspek yang dinilai, keterampilan berbicara juga membutuhkan  penilaian  yang cepat dan langsung.  Keterbatasan  waktu  menjadi penghambat  guru dalam melakukan  penilaian berbicara siswa. Kesulitan sistem penilaian yang dialami oleh guru dapat diatasi dengan cara siswa terlibat dalam proses penilaian dan siswa berbicara dalam kelompok-kelompok secara bersama- sama. Guru memberikan pedoman penilaian, siswa melakukan penilaian sebagai bahan pertimbangan guru. Di satu sisi guru tidak mengalami kesulitan, di sisi lain siswa juga dapat berlatih melakukan penilaian.


Dewasa ini banyak strategi pembelajaran yang tersedia. Strategi tersebut meliputi pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran yang cukup sesuai dengan pembelajaran  bahasa.  Namun,  kenyataannya  banyak  guru  Bahasa  dan  Sastra Indonesia  yang  kesulitan  memvariasikan  strategi  pembelajaran  sehingga  guru hanya  menggunakan  teknik  yang  itu-itu  saja.  Akibatnya,  pembelajaran  akan menjadi monoton dan siswa merasa bosan. Teknik pembelajaran berbicara tidak hanya  terbatas  pada  ceramah,  diskusi,  dan  penugasan.  Oleh  karena  itu,  guru dituntut supaya lebih memilih teknik pembelajaran yang merangsang siswa  lebih aktif  dan  antusias  dalam  proses  pembelajaran.  Solusinya,  guru  harus  pandai memilih dan menerapkan strategi pembelajaran (berupa pendekatan, metode, dan teknik) yang lebih menarik  dan mampu mengaktifkan siswa dalam pembelajaran. Namun, pemilihan pendekatan,  metode, dan teknik pembelajaran  tersebut harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran.


Rendahnya keterampilan berbicara siswa juga disebabkan oleh kurangnya kemauan berlatih berbicara di kelas maupun di luar kelas. Di dalam kelas, penyebabnya adalah sikap belajar siswa yang pasif, siswa tidak  mau memanfaatkan  kesempatan  yang diberikan  oleh guru maupun pada saat diskusi kelompok.  Di luar kelas, siswa terbiasa  berbicara  dengan  menggunakan  ragam bahasa nonformal, baik kepada teman maupun kepada guru PPL. Ada anggapan bahwa keterampilan berbicara dianggap relatif gampang dan kurang penting untuk dipelajari. Manusia lahir sudah dapat berbicara, sehingga tidak perlu lagi berlatih berbicara. Hal itu mengakibatkan kurangnya kemauan siswa berlatih berbicara di dalam kelas maupun di luar kelas. Solusinya yaitu membiasakan siswa berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia ragam formal jika berada di lingkungan resmi. Namun,   tidak ada salahnya jika melatih siswa berbicara  dengan ragam formal di segala situasi. Hal itu dilakukan sebagai bentuk latihan.


Pada dasarnya hampir semua kekurangan-kekurangan itu dapat diatasi dengan penerapan pembelajaran kontekstual yang diterapkan bersama teknik pembelajaran lain. Alasan yang logis adalah pendekatan tersebut berusaha mengembalikan bahwa fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu, guru dituntut memperbaiki strategi pembelajarannya. Hal ini perlu agar para siswa dapat mencapai tujuan pembelajarannya.


1.3 Pembatasan Masalah


Berdasarkan   pengamatan,   ada   banyak   permasalahan   yang   berkaitan dengan masalah pembelajaran keterampilan berbicara di sekolah dan harus segera dicarikan jalan keluarnya. Tentu saja hal itu membutuhkan waktu, biaya, tenaga, dan pemikiran yang banyak, sedangkan peneliti memiliki keterbatasan dalam berbagai hal tersebut. Mengingat keterbatasan waktu, tenaga, biaya, serta alasan agar pembahasan dan analisis lebih mendalam, maka dalam penelitian ini peneliti membatasi permasalahan pada upaya peningkatan keterampilan berbicara menyampaikan informasi dengan teknik information gap pada siswa kelas VIII-D SMP Negeri 5 Semarang tahun ajaran 2005/2006.   Pemfokusan objek penelitian ini  disebabkan  kemampuan  berbicara  siswa  kelas  VIII,  terutama  kelas  VIII-D masih rendah. Selain itu, penerapan pembelajaran kontekstual pada setiap proses pembelajaran bahasa sangat dianjurkan, maka  dengan alasan itulah penelitian ini dilakukan.


1.4 Rumusan Masalah


Dalam penelitian  ini, rumusan  masalahnya  adalah bagaimana  perubahan perilaku belajar siswa kelas VIII-D SMP Negeri 5  Semarang  dalam menyampaikan informasi setelah diberikan tindakan pembelajaran menyampaikan informasi dengan teknik information gap?

GRUP MUSIK DANGDUT GONDHANG NADA DI DESA KEDUNGSARI KECAMATAN TAYU KABUPATEN PATI (Kajian Tentang Usaha Pengembangan dan Fungsi)

BAB I


PENDAHULUAN


1.   Latar Belakang


Setiap orang tentu mengenal tentang kebudayaan. Berbagai macam kebudayaan saat ini dapat kita nikmati, baik itu kebudayaan dalam bentuk klasik, tradisional ataupun modern. Pada umumnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan selalu disertai dengan perkembangan kebudayaan, akan tetapi sering pula muncul kecendrungan adanya gejala norma-norma seni budaya yang sudah mulai terabaikan (Kusumastuti, 2004 : 12). Biasanya kebudayaan  yang  berkembang  menjadi  tolok  ukur  kebudayaan  Indonesia, yang tidak lepas dari pengaruh budaya lokal. (Lestari, 2000 : 26).


Kebudayaan menurut Bastomi (1985 : 3) merupakan unsur-unsur budi daya luhur yang indah misalnya kesenian, sopan santun, ilmu pengetahuan, kebudayaan adalah merupakan pikiran aktivitas dan segala hasil karya cipta manusia yang berbudi luhur serta halus, sedangkan setiap hasil karya cipta manusia dapat dikatakan seni yaitu salah satu kebudayaan yang mempunyai nilai keindahan (estetis).


Kebudayaan sering diartikan sebagai hasil karya budi daya manusia dalam usahanya mereplasi tantangan alam dan jaman. Dengan kata lain kebudayaan adalah merupakan buah dari daya cipta, daya rasa, dan daya karsa manusia sebagai reaksi aktif bagi kepentingan hidupnya (Aisyah, 200 : 62)


Pada saat membicarakan masalah kebudayaan, tidak akan lepas dari kesenian atau seni, kerena seni merupakan salah satu perwujudan dari suatu kebudayaan. Menurut Bastomi (1985 : 11), seni adalah aktivitas batin dan pengalaman estetis yang dinyatakan dalam bentuk agung yang mempunyai daya menjadikan takjub dan haru. Hubungan antara pengertian seni dan keindahan  sering  kali  menjadi  rancu, sehingga  terjadi  kesalahan-kesalahan dalam menggunakan  kata  seni  dan  keindahan.  Banyak  orang  beranggapan bahwa  semua  seni  pasti  indah  dan  yang  indah  pasti  seni,  akan  tetapi sebenarnya tidak demikian. Karena, sebuah hasil karya seni tujuan utama tidak berfokus   pada   keindahan   semata-mata,   melainkan   sesuatu   yang   dapat membuat rasa haru dan pesona yang memuncak karena rasa senang. Adapun yang dimaksud dengan keindahan dalam filsafat seni adalah bahwa secara hakiki bagi manusia hal itu terpaut dengan indra.


Menurut Susantina (2000 : 1) keindahan hanya soal indrawi semata- mata. Seni itu sendiri diciptakan manusia tidak hanya untuk dirinya sendiri melainkan juga untuk orang lain. Berkaitan dengan itu, maka jelaslah bahwa seni merupakan ekspresi budaya manusia yang senantiasa hadir sebagai ekspresi pribadi dan ekpresi kelompok sosial masyarakat berdasarkan budaya yang diacunya.


Seni dibagi menjadi beberapa cabang yaitu seni musik, seni tari, seni rupa dan seni drama. Seni musik sebagai salah satu cabang seni menurut Jamalus (1998 : 1-2) adalah suatu karya yang mengungkapkan pikiran dan perasaan  penciptanya  melalui  unsur-unsur  musik  seperti  irama,  melodi, harmoni, bentuk atau struktur lagu dan ekspresi sebagai satu kesatuan.


Menurut Sunarko, (1985 : 5-6) musik adalah penghayatan isi hati manusia yang diungkapkan dalam bentuk bunyi yang teratur dengan melodi dan ritme serta mempunyai unsur keselarasan yang indah. Selanjutnya dijelaskan musik dibedakan menjadi tiga macam yaitu musik vokal, musik instrumental, dan musik campuran dan dijelaskan bahwa musik vokal adalah musik yang dimainkan dengan cara menggunakan suara manusia, musik instrumental adalah musik yang dimainkan dengan menggunakan alat-alat musik saja, musik campuran adalah perpaduan antara suara manusia (vokal) dengan musik instrumen yang disajikan secara bersamaan. Dalam arti ada yang menyanyikannya dan ada yang mengiringi.


Membicarakan masalah musik campuran, dewasa ini banyak sekali bermunculan grup-grup musik campuran di masyarakat. Masing-masing grup berkembang  dengan  situasi  dan kondisi  yang  berbeda-beda  serta  memiliki aliran   musik   yang   berbeda-beda   pula,   ada   yang   beraliran   rock,   pop, keroncong, rnb, campursari, klasik dan dangdut.


Musik dangdut mulai muncul dan berkembang di pulau Sumatra yang perkembangannya melalui dua tahapan yang ditandai dengan era melayu dan era dangdut. Tepatnya, yaitu di daerah pantai Sumatra bagian barat dan pantai Sumatra bagian timur. Dalam perkembangannya, kedua daerah tersebut memiliki ciri khas yang berbeda-beda, di daerah pantai Sumatra bagian barat, memiliki ciri khusus musik melayu yang disebut dengan gamat, sedangkan di daerah  pantai  Sumatra  bagian  timur  tepatnya  di  daerah  Deli  dan  tanah Semenanjung,  yang  terkenal  dengan  sebutan  musik  melayu  Deli  yang memiliki ciri khas terletak pada bunyi alat musik kendang, akordion dan biola. Diperkirakan awal periode kolonial masyarakat etnis melayu berimigrasi ke pulau Jawa, tepatnya di daerah Jakarta / Betawi dengan membawa budaya mereka yang akhirnya bercampur dengan budaya Betawi yang kemudian terkenal dengan sebutan melayu Betawi (Muttaqin, 2006 : 111).


Sekitar tahun 1940-an, sebelum dan sesudah masa kemerdekaan, terdapat tiga ragam musik yang popular saat itu yaitu keroncong, gambus dan hawaian. Dari ketiga jenis musik tersebut, musik gambus merupakan cikal bakal  musik  dangdut  yang  memiliki  dua  sumber  yaitu  melayu  dan warna minor dari musik Arab dan Asia Barat, hal ini dikarenakan pengaruh budaya dari Arab, Persia, dan melayu yang berkembang hingga sampai sekarang ini (Muttaqin, 2006 : 112).


Pada tahun 1950-an, ketika film India banyak beredar di Indonesia, musik India secara tidak tanggung-tanggung, masuk ke dalam musik melayu, hal itu terbukti dengan adanya lagu dangdut yang berjudul Boneka dari India yang dicipta oleh Husein Bawafie dan dinyanyikan oleh Ellya Khadam, yang belakangan ini lagu tersebut dipercayai sebagai lagu dangdut pertama, meskipun istilah dangdut pada saat itu belum muncul (Muttaqin, 2006 : 112). Sampai  sekarang  perkembangan  musik  dangdut  sangatlah  pesat,  setelah banyak bermunculannya musisi-musisi dan artis muda yang cenderung lebih memperhatikan tentang perkembangan musik dangdut Indonesia, mulai dari Husein Bawafie, Ellya Khadam, A. Rafiq, Roma Irama, Elvie Sukaesih hingga sampai Inul Daratista.


Dalam kaitannya dengan sebuah jenis musik, istilah dangdut diduga berasal dari bunyi sepasang gendang yang dimainkan dengan tehnik glissando sehingga terdengar bunyi dang dan dut. Selanjutnya istilah tersebut digunakan untuk penamaan corak musik melayu yang belakangan berkembang dengan nama musik dangdut (Muttaqin, 2006 : 110-111). Dalam Ensiklopedia Musik Vol 1 (1992 : 26) disebutkan bahwa dangdut merupakan istilah yang ketika lahir digunakan untuk mengejek terhadap corak musik melayu yang disertai tablah, seperti lazimnya dalam musik India.


Hingga sampai saat ini perkembangan musik dangdut di Indonesia mengalami peningkatan yang sangat pesat, apabila dibandingkan dengan perkembangan musik yang berirama lain, maka kedudukan musik dangdut dapat dikatakan sejajar, sekalipun ada sekelompok kalangan yang berpendapat bahwa dangdut identik dengan kemiskinan, karena pendukungnya berasal dari kalangan bawah/rendah ataupun miskin.


Apabila kita mau melihat lebih dekat, pendapat miring terhadap musik dangdut  sudah  tidak  relevan  lagi.  Karena  pada  kenyataannya,  pendukung musik dangdut sekarang ini tidak lagi orang-orang kalangan bawah/miskin, akan tetapi sudah mulai merambah di kalangan menengah, bahkan sampai pada kalangan atas/kaya dan pejabat-pejabat pemerintahan.


Di daerah Jawa Tengah bagian utara, musik dangdut sudah merupakan satu kebutuhan masyarakat mulai dari kalangan bawah hingga sampai atas, hal itu terbukti dengan adanya pentas-pentas musik dangdut pada setiap acara yang  diadakan  oleh  masyarakat.  Sebagai  contoh  pada  acara  khitanan, mantenan, sedekah bumi, peresmian, pertemuan, acara di tempat-tempat rekreasi dan lain-lain, bahkan sampai pada acara selapananpun ada yang dimeriahkan dengan pentas musik dangdut, baik yang dimainkan oleh organ tunggal ataupun dalam bentuk grup musik dangdut.


Musik dangdut sekarang ini bisa lebih diterima oleh semua kalangan masyarakat  setelah  musisi-musisi  daerah  lebih  kreatif  dalam  mengemas musik-musik   dangdut dengan cara mengkolaborasikan lagu-lagu yang berirama lain yang diiringi dengan alunan musik dangdut, dengan mudah dan cepat diaransir menjadi lagu yang diiringi oleh musik dangdut.


Di satu sisi kita melihat sebuah keberhasilan perkembangan musik dangdut, di sisi lain di desa Kedungsari Kecamatan Tayu Kabupaten Pati, terdapat  salah satu grup musik dangdut Gondhang Nada yang perkembangannya sangat lamban dalam hal penerimaan job/pementasan, mengapa demikian? Apa yang menyebabkan perkembangan musik dangdut Gondhang  Nada menjadi lamban? Apakah karena musisinya tidak mengikuti perkembangan   lagu-lagu   dangdut?   Apakah     karena sarananya   tidak mendukung? Apakah karena manajemennya kurang valid? Apakah karena penyanyinya kurang  menarik?  Dan  apakah  karena  fungsi dari grup musik dangdut Gondhang Nada itu sendiri bagi pemimpin, pemian dan masyarakat hanya sekedar sebagai hiburan? Banyak sekali asumsi- asumsi yang dapat ditemukan. Akan tetapi selama ini apakah pihak yang berkompeten sudah melakukan usaha  untuk   dapat mengembangkan  grup musik  dangdut Gondhang   Nada?  Dari  alasan-alasan  itulah  maka  peneliti  ingin  melihat sampai di mana usaha pengembangan grup musik dangdut Gondhang  Nada. Sehingga pada penelitian kali ini peneliti mengambil judul "Grup Musik Dangdut Gondhang Nada di Desa Kedungsari Kecamatan Tayu Kabupaten Pati". (Kajian tentang pengembangan dan fungsi).


2.   Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang akan dikaji lebih lanjut dalam penelitian ini adalah usaha pengembangan grup musik dangdut Gondhang  Nada di desa Kedungsari Kecamatan Tayu Kabupaten Pati. Untuk menfokuskan penelitian dirumuskan masalah sebagai berikut :




  1. Bagaimana usaha pengembangan grup musik dangdut Gondhang  Nada di desa Kedungsari Kecamatan Tayu Kabupaten Pati?

  2. Apakah  fungsi/peran  grup  musik  dangdut  Gondhang      Nada  bagi pemimpin, para pemain, dan masyarakat?

PENINGKATAN KOMPETENSI MENULIS PETUNJUK MELALUI THE REAL THINGS MEDIA DENGAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN AKTIF KREATIF EFEKTIF MENYENANGKAN PADA SISWA KELAS VIII-E SMP 1 KERSANA KABUPATEN BREBES TAHUN AJARAN 2006/2007

BAB I


PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah


Kemampuan berkomunikasi dapat disebut juga sebagai kemampuan berbahasa karena di dalam berkomunikasi digunakan bahasa sebagai media utamanya.     Oleh karena itu,  menurut  Darmadi  (1996:1) kemampuan berkomunikasi   dapat   dijabarkan   sesuai   dengan   tingkat-tingkat   kemampuan bahasa, yaitu: (1) kemampuan menyimak (listening competence); (2) kemampuan berbicara (speaking competence);     (3)     kemampuan     membaca     (reading competence); dan (4) kemampuan menulis (writing competence). Walaupun posisi kemampuan menulis selalu terakhir, tidak berarti menulis tidak penting, berarti, dan berperan seperti dalam pepatah dalam bahasa Inggris “ the last but not the least”.


Urutan proses kronologis seperti itu sekaligus menggambarkan tingkat kesukaran dari setiap kemampuan. Dengan kata lain, kemampuan menyimak adalah kemampuan bahasa yang relatif paling mudah dan disusul dengan kemampuan yang agak sukar, yaitu kemampuan berbicara. Setingkat lebih sukar lagi yaitu kemampuan membaca dan yang paling sukar adalah kemampuan menulis.


Keberadaan komunikasi tulis sebagai salah satu bentuk komunikasi dalam berbahasa sangatlah dibutuhkan bagi setiap orang, terutama bagi kaum pelajar. Kegiatan  ini  tidak  hanya  diperlukan  pada  saat mengenyam pendidikan  saja melainkan lebih dari itu bahwa menulis sangat penting untuk kehidupan sesudahnya, yakni kehidupan di masyarakat. Dengan demikian, perlu kiranya penanaman pembelajaran di sekolah mempertimbangkan aspek perkembangan potensi dan kreativitas siswa dalam menulis.


Mengingat pentingnya pembelajaran menulis, maka tidak heran jika menulis  merupakan  salah  satu  keterampilan  yang  harus  dipelajari  siswa  dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Bahkan, pada saat menempuh pendidikan tingkat SMP dan SMA, siswa diwajibkan menyusun karya tulis, makalah, maupun tugas akhir sebagai syarat kelulusan atau syarat mengikuti ujian akhir nasional. Tidak jarang pula dijumpai adanya ajang penggalian potensi kreativitas siswa melalui karya tulis siswa tingkat SMP dan SMA. Kondisi ini menampakkan adanya posisi penting dari kegiatan menulis.


Menulis  memerlukan  sejumlah potensi  pendukung yang untuk mencapainya diperlukan kesungguhan, kemauan keras, dan belajar serta berlatih dengan terus-menerus dalam waktu yang cukup lama. Dengan demikian, wajar jika dikatakan bahwa menciptakan iklim budaya tulis akan mendorong seseorang menjadi lebih kreatif, aktif, dan cerdas. Hal ini dapat terjadi karena untuk mempersiapkan sebuah tulisan, sejumlah komponen harus dikuasai, mulai dari hal-hal yang sederhana, seperti memilih kata, merakit kalimat, sampai ke hal-hal yang agak rumit, yaitu merakit paragraf (Wiyanto 2004:7).


Manusia dalam melakukan aktivitasnya memerlukan implementasi dari kemampuan menulis. Terutama dalam kehidupan sehari-hari, sering mengerjakan dan melaksanakan sesuatu dipandu oleh petunjuk tertulis agar aktivitas tersebut berjalan dengan baik. Ketentuan-ketentuan yang patut dituruti   dalam membuat, menggunakan, dan melakukan sesuatu disebut dengan petunjuk. Menurut Tarigan (2003:2.42), petunjuk berarti ketentuan yang memberi arah atau bimbingan bagaimana sesuatu harus dilakukan. Petunjuk dibagi atas petunjuk lisan dan petunjuk tertulis.


Penulisan petunjuk yang baik akan memudahkan manusia atau pembaca dalam melakukan apa yang dicantumkan di dalamnya. Untuk itu dikemukakan dalam Depdiknas (2004:40-41) syarat pembuatan petunjuk yang baik antara lain sebagai berikut: (1) jelas, artinya tidak membingungkan dan mudah diikuti; (2) logis, artinya antara urutan yang satu dan berikutnya haruslah berhubungan secara praktis  dan  logis,  dalam  arti  tidak  menimbulkan  kesalahan  langkah;  dan  (3) singkat, artinya hanya mencantumkan hal-hal yang penting saja. Dengan dipenuhinya ketiga syarat tersebut suatu petunjuk yang ditulis akan komunikatif dan mudah diikuti.


Pengintegrasian kompetensi menulis petunjuk untuk kelas VIII dalam kurikulum 2004 merupakan salah satu bentuk perhatian pemerintah akan pentingnya penguasaan siswa terhadap kemampuan menulis petunjuk. Dalam standar kompetensi terdapat kompetensi dasar yang harus dicapai oleh siswa yaitu mampu menulis petunjuk untuk melakukan sesuatu/penjelasan tentang cara membuat sesuatu. Indikator dan meteri pokok tersebut dapat dikembangkan oleh guru untuk lebih meningkatkan kemampuan menulis petunjuk siswa.


Berdasarkan  fakta  yang  ada  di  lapangan  masih  ada  beberapa  sekolah (berdasarkan hasil observasi berkaitan dengan mata kuliah Metodologi Penelitian Bahasa   Indonesia)   yang   mengalami masalah   dalam   pembelajaran   menulis petunjuk, salah satunya di SMP 1 Kersana Kabupaten Brebes. Berdasarkan observasi, masih ada sebagian besar siswa kelas VIII SMP 1 Kersana bermasalah dalam bidang  tulis-menulis.  Masalah  tersebut  berasal  dari  faktor  guru,  siswa, kurikulum, sarana-prasarana sekolah, dan faktor lingkungan.


Adapun latar belakang secara umum diadakan penelitian ini, yaitu: (1) kurangnya motivasi siswa dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia disebabkan oleh kurang merangsang dan kurang variatifnya teknik pembelajaran guru di dalam kelas, sehingga siswa kurang dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya; (2) dalam pelajaran menulis petunjuk siswa kesulitan menuangkan ide karena guru kurang dapat memberikan stimulus   yang   merangsang   daya   pikir   siswa   (dalam   hal   ini   guru   tidak menggunakan media pembelajaran); (3) guru masih menuntun proses pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan; (4) guru cenderung mangabaikan aspek afektif dan aspek psikomotor; dan (5) hasil tulisan siswa kurang variatif dan maksimal    karena  siswa   membuat petunjuk berdasarkan  hasil mengingat seperangkat fakta-fakta bukan hasil menemukan sendiri pengalaman belajar di kelas.


Faktor  guru,  misalnya:  (1)    guru    menganggap    bahwa    pendidikan diselenggarakan untuk kepentingan penyelenggara bukan untuk kepentingan peserta didik; (2) pembelajaran yang diselenggarakan masih bersifat pemindahan isi (content transmission); (3) aspek afektif cenderung terabaikan; dan (4) guru mengalami  kesulitan  dalam  mengajar  sehingga  masih  banyak  mereduksi  teks (buku acuan) yang ada agar tidak salah langkah.


Faktor  siswa,  yaitu:  (1)  siswa  mengalami  kesulitan  dalam  menulis petunjuk, baik dalam pemakaian bahasa maupun pengaplikasian dalam bentuk tulisan;  (2)  siswa  kurang  memiliki  minat  dalam  pelajaran  menulis;  (3)  siswa sering melakukan kesalahan-kesalahan dalam menulis petunjuk; dan (4) siswa menganggap remeh mata pelajaran bahasa Indonesia.


Faktor kurikulum, yaitu: (1) dengan diterapkannya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) siswa mengeluh karena mengalami kesulitan karena dipaksa menjadi siswa yang mandiri; (2) sekolah masih dalam tahap belajar, penyesuaian, dan pengonsepan kurikulum 2004.


Faktor sarana-prasarana di sekolah, yaitu: (1) belum ada latihan-latihan untuk mengasah dan meningkatkan keterampilan menulis; (2) media pembelajaran untuk kompetensi dasar menulis petunjuk belum ada; (3) minimnya koleksi buku tentang menulis, khususnya menulis petunjuk di perpustakaan SMP N 1 Kersana Kabupaten Brebes, dan lain-lain.


Menurut Widyamarta dan Sudiati (2004:ix), Indonesia tidak hanya sedang mengalami   krisis   dalam   bidang   ekonomi   saja,   tetapi   juga   dalam   bidang pendidikan yaitu writing crisis.  Hal ini sejalan dengan pendapat Djago Tarigan dan H.G. Tarigan (1986:186), pengajaran mengarang (tulis-menulis) belum terlaksana dengan baik di sekolah. Kelemahannya terletak pada cara guru mengajar. Pada umumnya kurang dalam variasi, tidak merangsang, dan kurang pula dalam frekuensi. Pembahasan karangan siswa dilaksanakan oleh guru. Murid sendiri menganggap mengarang tidak penting atau belum mengetahui peranan mengarang bagi kelanjutan studi mereka. Hal itu sejajar dengan pandangan siswa terhadap pelajaran bahasa Indonesia itu sendiri. Pada umumnya, siswa terlalu menganggap remeh pelajaran bahasa Indonesia. Angka enam pasti didapat. Bagaimana tidak, karena guru sering dipojokkan untuk mengkatrol angka-angka bahasa Indonesia.


Berdasarkan  observasi  terhadap  kelas  IX  SMP  1  Kersana  Kabupaten Brebes dapat diketahui bahwa sebagian besar siswa masih belum mampu menulis petunjuk dengan baik. Dari hasil wawancara dengan siswa kelas IX yang pernah mendapat pelajaran menulis petunjuk, ternyata banyak siswa yang mengeluh jika pelajaran  sampai  pada  pokok  bahasan  pembelajaran  menulis.  Mereka  merasa belum mampu menyusun dan membuat tulisan (khususnya menulis petunjuk) dengan struktur yang baik dan benar , sistematika penulisan sering terbalik dan kurang logis, bahasanya belum efektif, kejelasan petunjuk masih kurang, serta ketidakefektifan kalimat, ketidaktepatan penggunaan tanda baca dan ejaan masih rawan. Hal ini disebabkan siswa mengalami beberapa kesulitan dalam menulis petunjuk, diantaranya kesulitan dalam menuangkan ide, terbatasnya kosakata, terbatasnya pengetahuan, dan pengalaman siswa. Mereka sudah terbiasa dengan kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat. Kesalahan tersebut sukar sekali diperbaiki walaupun sudah diingatkan berkali-kali. Mereka membuat petunjuk tertulis dengan asal membuat saja tanpa memperhatikan keefektifan kalimat dan tata urutannya. Membuat petunjuk tertulis ternyata dianggap sukar oleh siswa. Hal ini  dapat  peneliti  lihat  dari  hasil  penulisan  petunjuk  yang  kurang  kreatif  dan cenderung sama dengan hasil penulisan petunjuk siswa lain, walaupun sudah diberikan kebebasan dalam tema penulisan. Hal ini menyebabkan guru bahasa Indonesia kelas VIII SMP 1 Kersana Kabupaten Brebes seringkali merasa kebingungan dalam mengatasi permasalahan ini.


Tidak hanya itu, siswa juga terlalu menganggap remeh mata pelajaran bahasa Indonesia sehingga hasil yang diperoleh kurang memuaskan dalam menyusun petunjuk tertulis. Untuk itulah, setiap guru hendaknya lebih kreatif dan variatif dalam penggunaan metode pembelajaran di kelas. Dengan kreativitas dan kevariatifan tersebut, maka akan tercipta pembelajaran yang kondusif dan tidak membosankan sehingga kecil kemungkinan siswa menganggap remeh mata pelajaran bahasa Indonesia.


Sistem pembelajaran yang dilaksanakan di SMP 1 Kersana Brebes khususnya kelas VIII masih menggunakan pendekatan pembelajaran klasikal yaitu guru ceramah dan murid mendengarkan. Pembelajaran dengan metode ini menyebabkan kurang mendapat perhatian dari siswa dan membosankan, sehingga pembelajaran  kurang  bermakna  dan  kurang  berhasil  dengan  baik.  Di  sini, walaupun  sudah  menggunakan  sistem  KBK,  tapi  penerapannya  belum  100%. Guru masih menuntun proses pemahaman siswa terhadap materi  yang disampaikan. Di samping itu, bahan pembelajaran yang dikembangkan lebih banyak bersifat teoretis sehingga siswa kurang dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minat siswa.


Masih ada sebagian besar siswa dalam membuat petunjuk tertulis masih mencontek hasil pekerjaan siswa lain. Hampir semua isi dan kalimat-kalimat yang dituangkan dalam petunjuk tertulis, sama. Hal ini dikarenakan ketika pemelajaran menulis, guru kurang memantau kondisi siswa yang sebenarnya, dan malah guru cenderung meninggalkan ruang kelas. Hal ini mengakibatkan siswa kurang menganggap serius mata pelajaran bahasa Indonesia, hasil yang mereka peroleh pun kurang maksimal karena siswa membuat petunjuk berdasarkan dari hasil mengingat seperangkat fakta-fakta bukan hasil menemukan sendiri berdasarkan pengalaman belajar di kelas.


Melihat    kenyataan-kenyataan yang muncul di atas,    jelas    bahwa pemelajaran menulis petunjuk siswa kelas VIII SMP 1 Kersana Kabupaten Brebes masih memerlukan perhatian khusus. Oleh karena itu, peneliti ingin mencoba menerapkan pendekatan yang akan mengantarkan siswa pada pembelajaran yang sebenarnya.  Pendekatan  yang  dimaksudkan  adalah  pendekatan  Pembelajaran Aktif Kreatif Menyenangkan.


Penerapan pendekatan Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif Menyenangkan pada kemampuan menulis petunjuk ini digunakan di kelas VIII-E SMP 1 Kersana Kabupaten Brebes sebagai objek penelitian. Dipilihnya kelas VIII-E karena di kelas tersebut kemapuan menulis siswa masih rendah. Siswa kurang mampu dalam menulis, mengalami kesulitan-kesulitan dalam menulis seperti kesulitan dalam menuangkan ide, terbatasnya kosakata, pengetahuan dan pengalaman, serta sering melakukan kesalahan-kesalahan dalam menulis baik dari struktur tulisan maupun ketidaktepatan pengguanaan ejaan, tanda baca, dan keefektifan kalimat. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil yang diperoleh siswa pada keterampilan menulis yang masih kurang optimal. Selain itu, siswa kelas VIII-E adalah siswa yang paling kurang mampu mengikuti pembelajaran bila dibandingkan dengan kelas   lainnya.   Siswa   di   kelas   tersebut   suka   membuat   gaduh   dan   tidak berpartisipasi secara aktif saat proses pembelajaran berlangsung.


Penerapan pendekatan Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif Menyenangkan dalam penelitian ini merupakan alternatif pembelajaran menulis petunjuk melalui the real things media, diambil peneliti untuk mengoptimalkan kemampuan siswa dalam menulis petunjuk. Menurut Sudjana dan Rivai (2002:196), dengan menggunakan benda-benda nyata atau makhluk hidup (real life material) dalam pengajaran  sering  kali  paling  baik,  dalam  menampilkan  benda-benda  nyata tentang ukuran, suara, gerak-gerik, permukaan, bobot  badan, bau serta manfaatnya. Manfaat benda-benda nyata sebagai media pembelajaran yaitu: (1) para siswa akan lebih banyak belajar; dan (2) siswa akan lebih terkesan dalam pembelajaran.


Sudjana dan Rivai menambahkan bahwa benda-benda nyata itu bnyak macamnya, mulai dari benda atau mahluk hidup seperti binatang dan tumbuh- tumbuhan, juga termasuk benda-benda mati misalnya batuan, air, tanah, dan lain- lain. Benda-benda nyata dapat memegang peranan penting dalam upaya memperbaiki proses belajar-mengajar.


Menurut Gerlach and Ely (1980:376), real things are things stimuli presented to pupils by means of field trips or by bringing people or things into the school for direct observation. Maksudnya, benda-benda nyata adalah benda-benda perangsang  yang  ditujukan  untuk  siswa  dengan  menggunakan  alat-alat  di lapangan atau dengan membawa narasumber atau benda-benda ke dalam sekolah untuk observasi langsung.


Menurut Tim PPA (dalam Dasmawarti 2005:5), pendekatan Pembelajaran Aktif Kreatif Menyenangkan merupakan konsep belajar yang menggunakan berbagai media dan alat pembantu pembelajaran. Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif Menyenangkan adalah suatu metode pembelajaran yang baik dan menyenangkan bagi siswa. Hal yang penting dalam pembelajaran model Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif Menyenangkan adalah guru harus mampu merancang skenario pembelajaran seperti yang diharapkan (pembelajaran yang mengena) tapi tetap bersifat menyenangkan. Pembelajaran harus berpusat pada siswa, siswa harus lebih dominan dan aktif serta terlibat sebanyak mungkin dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran tidak harus dilaksanakan di dalam kelas tapi bisa juga dilaksanakan di luar kelas.


Proses pembelajaran Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif Menyenangkan berlangsung secara alamiah dalam bentuk siswa terlibat langsung dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat. Siswa mengalami sendiri apa yang menjadi objek kajiannya dan bukan hanya transfer ilmu pengetahuan dari guru ke siswa. Dalam hal ini Keaktifan dan kekreatifan siswa akan sangat terlihat. Tidak sekadar aspek kognitif dan psikomotorik saja yang cenderung dilibatkan dalam pendekatan PAKEM, tapi juga aspek afektif. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh siswa pun akan lebih bermakna.


Pembelajaran kompetensi dasar menulis petunjuk akan sangat tepat jika menggunakan pendekatan Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif Menyenangkan. Peneliti memilih pendekatan Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif Menyenangkan sebagai alternatif pembelajaran menulis petunjuk karena dengan penekanan pada belajar melalui berbuat (learning by doing) diharapkan akan lebih meningkatkan pemahaman siswa dalam syarat-syarat menulis petunjuk yang baik. Dengan dimilikinya pemahaman yang baik akan penulisan petunjuk, siswa diharapkan mampu  menulis  petunjuk  sesuatu  dengan  baik.  Kesalahan-kesalahan  dalam menulis petunjuk dapat ditekan dan kesulitan-kesulitan dalam menulis petunjuk dapat diminimalkan, sehingga pembaca akan mudah mengerti dan mudah mengikuti petunjuk tersebut. Penerapan pendekatan PAKEM pada KD menulis petunjuk diharapkan hasil yang dicapai akan dapat lebih baik. Berdasarkan uraian di atas, peneliti melakukan penelitian terhadap kemampuan menulis siswa khususnya menulis petunjuk.


1.2 Identifikasi Masalah


Pembelajaran Menulis petunjuk di SMP belum menemukan hasil yang diharapkan dan masih banyak mengalami kendali. Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka, tampak jelas adanya beberapa masalah yang ada di SMP 1


Kersana Kabupaten Brebes terutama yang berkaitan dengan masalah pemelajaran menulis petunjuk. Masalah-masalah tersebut disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut ini.


Faktor dari siswa, yaitu sebagai berikut: (1) kurangnya motivasi siswa dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia disebabkan oleh kurang merangsang dan kurang variatifnya teknik pembelajaran guru di dalam kelas, sehingga  siswa   kurang  dapat   mengembangkan potensinya  sesuai   dengan kemampuan,  kebutuhan,  dan  minatnya;  (2)  dalam  pelajaran  menulis  petunjuk siswa kesulitan menuangkan ide karena guru kurang dapat memberikan stimulus yang merangsang daya pikir siswa (dalam hal ini guru tidak menggunakan media pembelajaran); (3) hasil tulisan siswa kurang variatif dan maksimal karena siswa membuat petunjuk berdasarkan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta bukan hasil menemukan sendiri pengalaman belajar di kelas.


Faktor guru, yaitu; (1) guru masih menuntun proses pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan; (2) guru kurang kreatif dan variatif dalam menggunakan metode dan media pembelajaran; (2) strategi pembelajaran masih satu arah; (3) bahan pembelajaran yang dikembangkan lebih banyak bersifat teoritis; (4) kurang pemantauan kondisi siswa (controling) saat siswa melakukan kegiatan     tulis-menulis,  khususnya menulis  petunjuk; (5)  guru cenderung meninggalkan kelas saat siswa melakukan kegiatan tulis-menulis; (6) pendidikan diselenggarakan untuk kepentingan penyelanggara bukan untuk peserta didik; (7) pembelajaran yang diselenggarakan masih bersifat pemindahan isi (content transmission); (8) aspek afektif cenderung terabaikan; (9) pengajar masih banyak mereduksi teks acuan yang ada dengan harapan agar tidak salah langkah; (10) guru jarang dalam memberikan pengukuhan langsung terhadap hasil kerja siswa; (11) perangkat pembelajaran tidak dikembangkan sendiri oleh guru tetapi hanya menulis ulang perangkat pembelajaran yang ada dalam kurikulum.


Faktor kurikulum, yaitu; (1) Sekolah sudah melaksanakan KBK (kelas VII dan VIII,   sedangkan  kelas   IX   belum), tapi masih dalam   tahap belajar, penyesuaian, dan pengkonsepan kurikulum; (2) pengoptimalan metode-metode pembelajaran  masih  kurang;  (3)  penyelenggaraan  kurikulum  belum  optimal karena dianggap terlalu rumit dan membingungkan; (4) banyak siswa mengeluh mengalami kesulitan dengan  diterapkannya Kurikulum Terapan Satuan Pendidikan (KTSP) karena dipaksa untuk menjadi siswa mandiri.


Faktor sarana-prasarana sekolah, yaitu; (1) belum ada latihan-latihan untuk mengasah dan meningkatkan keterampilan menulis; (2) media pembelajaran untuk KD menulis petunjuk belum ada; (3) minimnya koleksi buku tentang menulis, khususnya menulis petunjuk, di perpustakaan SMP 1 Kersana Kabupaten Brebes.


Faktor lingkungan, yaitu; (1) kurang adanya lingkungan sekolah yang merangsang siswa untuk belajar menulis, khususnya menulis petunjuk; (2) jarangnya ajang lomba-lomba menulis antarsekolah maupun intrasekolah untuk tingkat SMP; (3) kurang adanya dorongan dari lingkungan keluarga dan masyarakat untuk belajar menulis, khususnya menulis petunjuk.


1.3 Pembatasan Masalah


Berdasarkan  latar  belakang  dan  identifikasi  masalah  di  atas,  ternyata banyak masalah yang muncul dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia khususnya dalam keterampilan menulis. Sehubungan dengan keterbatasan pada penelitian ini maka, peneliti hanya membatasi permasalahan pada kurangnya kemampuan menulis petunjuk siswa yang disebabkan oleh kurang tepatnya pendekatan pembelajaran yang digunakan guru. Dalam hal ini peneliti akan menerapkan pendekatan Pembelajaran Aktif Kreatif Menyenangkan melalui the real things media agar dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis petunjuk, dan agar siswa tidak merasa bosan, jenuh, dan terlibat penuh dalam proses pembelajaran.


1.4 Rumusan Masalah


Permasalahan  yang  menjadi  bahan  kajian  dalam  penelitian  ini  dapat dirumuskan sebagai berikut.




  1. Bagaimana  peningkatan  kemampuan  menulis  petunjuk  siswa  kelas  VIII-E SMP 1 Kersana Kabupaten Brebes setelah diterapkan pendekatan PAKEM pada pembelajaran menulis petunjuk?

  2. Bagaimana perubahan perilaku siswa kelas VIII-E SMP 1 Kersana Kabupaten Brebes setelah diterapkan pendekatan PAKEM pada pembelajaran menulis petunjuk?

PENINGKATAN KOMPETENSI MENGUMUMKAN DENGAN TEKNIK SIMULASI PADA SISWA KELAS X TATA BUSANA 2 SMK PERINTIS 29 KABUPATEN SEMARANG TAHUN PELAJARAN 2006/2007

BAB I


PENDAHULUAN


1.1   Latar Belakang Masalah


Keterampilan berbicara sudah dibelajarkan kepada siswa mulai tingkat Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas atau yang sederajat. Namun, hal tersebut tidak dapat digunakan sebagai jaminan bahwa kemampuan berbicara siswa yang telah lulus hingga tingkat akhir  itu sudah baik. Dalam pembelajaran  bahasa  Indonesia  di dalam kelas  guru  sudah  menggunakan bahasa Indonesia, namun siswa tetap akan merasa kesulitan dalam menggunakan bahasa Indonesia resmi. Hal ini karena di luar kelas siswa jarang  menggunakan bahasa Indonesia, tetapi   justru   lebih    sering menggunakan  bahasa  daerah,  kalaupun  menggunakan  bahasa  Indonesia itupun  bukan  bahasa  resmi.  Dengan  begitu  siswa  akan  merasa  kesulitan dalam menggunakan bahasa resmi atau berbicara dalam situasi formal. Kalimat-kalimat yang kurang tepat digunakan dalam situasi formal namun sering digunakan oleh siswa antara lain: “Pak, kita akan ujian kapan?”. Terkadang juga ada siswa yang apabila ditanya oleh gurunya menjawab dengan  menggunakan   bahasa Jawa.  Contohnya:   “Bagaimana, sudah selesai?”, kata Pak Guru. Maka siswa itu akan menjawab: “Sampun, Pak.”. Mungkin hal tersebut tidak pernah menjadi sorotan walaupun sudah jelas bahwa itu adalah sebuah kesalahan. Hal ini juga karena disebabkan oleh tradisi orang Jawa yang terbiasa dengan adanya unggah-ungguh sebagai wujud ungkapan rasa hormat kepada orang yang lebih tua.


Kompetensi mengumumkan siswa terutama dalam situasi formal ataupun situasi nonformal di SMK Perintis 29 di kabupaten Semarang ini khususnya jurusan Tata Busana kelas X TB 2 masih harus ditingkatkan. Dari 34 siswa paling hanya beberapa siswa yang sudah dapat melakukan kegiatan mengumumkan dengan baik, baik dalam menyusun kata-kata ataupun dalam melakukan praktik mengumumkan itu sendiri. Ada siswa yang sudah mampu menyusun  kata-kata  dengan  baik  tetapi  dalam  membawakannya  masih terlihat kaku dan cangggung. Hal tersebut mungkin disebabkan karena siswa jarang melakukan kegiatan komunikasi secara formal atau nonformal dihadapan audience. Namun, ada juga siswa yang dalam menyusun pengumuman saja sudah mengalami kesulitan, siswa masih terlihat kurang kreatif. Memang mengumumkan terlihat   mudah, terasa mudah bagi orang yang sudah terbiasa untuk berbicara di depan umum untuk membawakan sebuah pengumuman. Namun, bagi orang yang jarang atau bahkan sama sekali belum pernah akan menjadi sebuah momok atau sesuatu yang sangat ditakuti. Rata-rata dari para siswa banyak yang masih mengalami demam panggung. Hanya beberapa siswa saja yang sudah tidak mengalami hal tersebut. Siswa   merasa grogi   bila  disuruh guru  untuk   mencoba mengumumkan di depan kelas. Hal ini terjadi karena memang siswa tidak terbiasa untuk tampil di depan umum atau di depan khalayak.


Kompetensi   mengumumkan   merupakan   kompetensi yang   cukup urgen di Sekolah Menengah Kejuruan pada umumnya dan siswa jurusan Tata Busana pada khususnya. Hal tersebut dapat dikatakan urgen karena pada saat siswa itu kelas 3 akan dihadapkan pada pameran hasil karya siswa yang pasti tidak pernah luput dari apa yang dinamakan dengan pengumuman yang digunakan untuk publikasi. Keberhasilan sebuah publikasi ini juga akan menentukan berhasil tidaknya sebuah pameran. Keberhasilan dari sebuah publikasi ini tidak bisa terlepas dari kelihaian siswa dalam mengumumkan.


Bertolak dari observasi awal serta informasi dari guru mata pelajaran bahasa Indonesia yang menyatakan bahwa kompetensi mengumumkan siswa dalam situasi formal dan nonformal khususnya kelas TB 2 masih kurang apabila dibandingkan dengan siswa kelas TB 1. Oleh karena itu, peneliti tertarik  untuk   mengadakan    penelitian    berkaitan   dengan   keterampilan berbicara secara formal dan  nonformal  khususnya  kompetensi mengumumkan. Dalam situasi formal ini siswa harus dapat berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Pemakaian bahasa Indonesia dengan baik dan benar merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk pelestarian bahasa Indonesia. Selain itu, pemakaian bahasa Indonesia dengan baik dan benar ini merupakan salah satu wujud kecintaan seseorang terhadap bangsa Indonesia.


Peningkatan kompetensi siswa agar mampu mengumumkan dalam situasi formal dan nonformal dengan baik maka perlu dicari suatu teknik pembelajaran   yang  mengarahkan atau menggambarkan situasi formal ataupun nonformal yang melibatkan khalayak. Namun, apabila harus mempraktikkan  kegiatan  mengumumkan  ini  langsung  di  depan  khalayak maka siswa pasti akan merasa canggung dan kaku. Terkadang ada juga siswa yang memang belum pernah berbicara di  hadapan orang banyak, jadi siswa tersebut pasti akan merasa kaget dan tidak siap. Untuk mengatasi permasalahan tersebut ada satu teknik yang dapat digunakan dalam pembelajaran berbicara khususnya mengumumkan yaitu teknik simulasi.


Pemilihan teknik simulasi sebagai teknik pembelajaran mengumumkan ini didasarkan pada asumsi bahwa siswa putri lebih menyukai hal-hal yang bersifat imajinatif. Berbeda dengan siswa putra yang cenderung menyukai hal-hal yang  bersifat   menantang dan  banyak mengeluarkan  tenaga. Berdasarkan pada asumsi di atas maka penulis merasa yakin bahwa teknik simulasi lebih cocok diterapkan pada SMK Program Keahlian Tata Busana yang mayoritas terdiri atas siswa putri.


Dalam pembelajaran dengan teknik simulasi ini siswa akan melakukan pembelajaran dengan menyimulasikan mengumumkan di hadapan teman- temannya. Mengumumkan yang dilakukan itu hanyalah sebuah imajinasi belaka,  pada  pembelajaran  ini  siswa  akan  berperan  sebagai  orang  yang sedang mengumumkan di hadapan khalayak. Dengan begitu siswa akan dengan santai dalam mengumumkan, siswa juga akan terbiasa untuk menyusun kata-kata  dengan baik dan benar serta sesuai dengan apa yang ia inginkan. Dengan pembelajaran ini siswa juga akan merasa senang dan tidak merasakan tertekan. Siswa akan belajar sambil bermain, siswa tidak sadar bahwa dalam ia bermain ia telah mendapatkan suatu pelajaran yang sangat berharga.


Pada awalnya pembelajaran dengan teknik simulasi ini adalah teknik pembelajaran sastra khususnya pembelajaran drama. Seiring perkembangan zaman teknik ini digunakan pada pembelajaran bahasa khususnya pada pembelajaran mengumumkan. Secara harfiah simulasi diartikan sebagai peniruan dari keadaan yang sebenarnya. Sebagai teknik, simulasi berarti memberikan kemungkinan   kepada  siswa untuk  menguasai suatu keterampilan melalui latihan dalam situasi tiruan (Subana Tth:205).


Teknik     simulasi  ini  digunakan  untuk  memberikan  kemungkinan kepada siswa agar ia dapat menguasai suatu keterampilan melalui latihan dalam situasi tiruan. Dalam hal ini siswa akan memperoleh pengetahuan dalam situasi yang tidak sesungguhnya atau dalam permainan. Dengan begitu siswa akan lebih mudah dalam menangkap suatu pengetahuan atau materi yang disampaikan oleh guru pada pembelajaran tersebut. Siswa juga akan merasa lebih santai dalam mengikuti pembelajaran.


1.2   Identifikasi  Masalah


Kesulitan  yang  dialami  siswa  untuk    berkomunikasi  dalam  situasi formal dan nonformal khususnya dalam kegiatan mengumumkan ini oleh peneliti akan  diidentifikasi penyebabnya. Penyebab-penyebab tersebut didapatkan  oleh  peneliti  melalui  observasi  awal  serta  wawancara  dengan pihak terkait yaitu dengan guru. Kegiatan tanya jawab ini dilakukan ketika guru sedang berada di luar kelas yaitu di luar jam pelajaran. Dari identifikasi terhadap permasalahan tersebut maka peneliti mengetahui penyebab- penyebab dari kesulitan siswa dalam berbicara pada umumnya dan kompetensi mengumumkan pada khususnya. Penyebab-penyebab tersebut sebagai berikut.


1.2.1  Dalam kegiatan sehari-hari mayoritas dari para siswa menggunakan bahasa daerah atau bahasa pergaulan sebagai bahasa pengantarnya. Mereka juga menganggap bahwa bahasa Indonesia resmi dianggap sebagai momok. Bila mereka berbahasa Indonesia resmi dalam kehidupan sehari-hari secara konsisten maka anak itu akan dianggap sombong atau bergaya kekota-kotaan. Untuk itu, mereka akan merasa enggan untuk menggunakan bahasa Indonesia resmi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu bahasa Indonesia resmi hanya digunakan dalam kegiatan belajar mengajar saja, itupun masih sangat kurang maksimal. Hal tersebut terjadi karena siswa tidak terbiasa untuk berbahasa Indonesia resmi.


1.2.2  Model pembelajaran kompetensi  mengumumkan masih terlihat monoton. Posisi guru dalam pembelajaran masih sebagai centre. Walaupun sekolah sudah memutuskan untuk menggunakan kurikulum berbasis kompetensi, tetapi pada kenyataanya masih ada guru yang menggunakan cara pembelajaran yang lama yaitu dengan metode ceramah. Walaupun tidak selamanya metode ini dianggap tdak baik namun  apabila  metode  ini  digunakan  secara  terus  menerus  tanpa adanya   variasi   maka   pembelajaran bahasa   pun   akan   menjadi menjemukan. Kalaupun diberi contoh itupun guru hanya menunjuk beberapa siswa untuk memberikan contoh, tidak semua siswa mengalami pembelajaran. Metode ini akan membuat siswa cepat jenuh dan merasa bosan. Dalam hal ini guru masih terlihat kurang kreatif dalam menggunakan metode-metode pembelajaran yang seharusnya dapat lebihaktif, kreatif, dan inovatif. Terkadang guru juga kurang menguasai isi dari kurikulum berbasis kompetensi itu sendiri. Dengan demikian guru akan kembali menggunakan metode ceramah untuk mengajar. Padahal metode ceramah ini cenderung akan membuat siswa menjadi pasif dan hanya mau menerima apa yang telah diberikan oleh guru saja tanpa mau berusaha untuk mendapatkan yang lebih atau menemukan sesuatu hal yang baru. Namun, apabila kurikulum berbasis kompetensi  tersebut  diterapkan  secara  konsisten  maka  siswa  pun belum siap untuk mengikutinya. Permasalahan seperti inilah yang mengakibatkan masalah pembelajaran semakin dilematis.


1.2.3  Kegiatan mengumumkan sudah dianggap sebagai suatu kegiatan yang sulit dan hanya bisa dilakukan dengan baik oleh orang-orang yang memiliki kemampuan yang baik dalam berbicara saja. Hal ini disebabkan  oleh  anggapan  sebagian  besar dari  mereka  bahwa mengumumkan ini dilakukan dihadapan banyak orang, sehingga untuk melakukan hal tersebut dibutuhkan orang-orang yang benar-benar ahli dalam  bidangnya.  Untuk  itu,  mereka  akan  merasa  minder  sebelum melakukan kegiatan mengumumkan tersebut.


1.2.4  Pembelajaran kompetensi mengumumkan hanya dititikberatkan pada teori-teori tentang mengumumkan atau pada aspek kognitifnya saja tidak mementingkan praktiknya atau pada aspek psikomotornya. Guru lebih banyak berceramah, sementara siswa mendengarkan, mencatat, dan bertanya. Selebihnya, diberi tugas mengerjakan soal-soal yang disebut dengan PR. Kompetensi mengumumkan ini juga masih dianggap sepele. Evaluasi yang dilakukannyapun masih menggunakan metode tes klasikal.  Pertanyaan-pertanyaan yang disusunpun dalam bentuk tes pilihan ganda dan sebagian lagi dalam bentuk isian serta esay. Dan untuk menjawab soal-soal itu, peserta didik belajar dengan jalan menghafal materi-materi pelajaran yang telah disampaikan guru di kelas. Akibatnya, banyak kelulusan yang    tidak    memiliki kompetensi karena    pada waktu bersekolah mereka hanya diajarkan cara untuk mengerjakan soal-soal saja.


Dari penyebab-penyebab yang dikemukakan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa sebab utama dari dari permasalahan sulitnya siswa melakukan kegiatan berbicara khususya mengumumkan adalah karena pemilihan sistem pembelajaran oleh guru yang kurang kreatif, inovatif dan cenderung monoton serta lebih mementingkan aspek kognitif saja namun aspek  motorik dan  afektif agak  diabaikan.  Selain itu guru  masih menggunakan metode tradisional yaitu dengan metode ceramah. Untuk itu pengalaman belajar siswa akan minim, padahal dalam proses pembelajaran yang paling penting adalah pengalaman siswa yang diperoleh dari proses belajar bukanlah dari hasil belajarnya. Untuk mengatasi hal tersebut, salah satu  cara  yang  dapat  ditempuh untuk  meningkatkan kemampuan mengumumkan siswa adalah dengan memaksimalkan pembelajaran berbicara siswa khususnya kompetensi mengumumkan siswa. Namun guru juga tidak dapat dipersalahkan secara penuh, hal ini juga ditunjang dengan minimnya sarana dan prasarana yang ada di sekolah tersebut.


Keberhasilan pengajaran keterampilan berbicara pada khususnya dan pengajaran bahasa pada umumnya dipengaruhi berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain, faktor internal dari siswa itu sendiri serta dukungan dari orang tua dan lingkungan di sekitarnya. Faktor yang sangat berpengaruh adalah kemampuan guru dalam proses belajar mengajar. Kemampuan guru untuk merangsang siswa untuk mau belajar adalah suatu faktor yang sangat urgen pada pembelajaran siswa. Kegiatan pembelajaran ini meliputi kegiatan perencanaan hingga kegiatan evaluasi pada siswa. Disamping itu sarana dan prasarana belajar pun ikut berpengaruh dalam suksesnya suatu pembelajaran, karena walaupun semua faktor itu sudah baik tetapi tidak tersedia sarana dan prasarana maka pembelajaran pun akan menjadi terganggu. Namun, dari seluruh  faktor  tersebut  gurulah  yang  memegang  peranan  paling  penting karena  yang  bertanggung jawab  dalam proses  pembelajaran  adalah  guru. Dari sinilah guru dituntut untuk lebih kreatif dan dapat memanfaatkan sarana dan prasarana yang ada dengan sebaik-baiknya.


Berkaitan dengan kemampuan guru dalam melaksanakan kegiatan belajar  mengajar muncul pertanyaan bagaimana cara meningkatkan keterampilan berbicara siswa khususnya kompetensi mengumumkan siswa pada  kelas  X  Tata  Busana  2.  Perlukah  guru  menggunakan  metode  dan teknik-teknik    tertentu dalam pembelajaran    mengumumkan tersebut? Pertanyaan-pertanyaan tersebut hendaklah dapat menjadi masukan bagi para guru untuk memilih atau menentukan suatu teknik yang tepat untuk pembelajaran mengumumkan. Dengan begitu tujuan dari kurikulum berbasis kompetensi akan tercapai.


Pertanyaan-pertanyaan seperti yang telah   dikemukakan di   atas, menarik  perhatian  penulis  untuk  melakukan  suatu  penelitian  berkaitan dengan kemampuan berbicara pada umumnya. Keterampilan berbicara ini sangatlah luas, karena keterbatasan waktu dan  biaya  serta    untuk memaksimalkan penelitian maka penulis akan memfokuskan penelitian ini pada kemampuan berbicara siswa dalam situasi formal ataupun nonformal khususnya kompetensi mengumumkan.


1.3   Rumusan Masalah


Rumusan  masalah  yang  dikaji  dalam  penelitian  ini  yaitu  sebagai berikut.




  1. Bagaimanakah peningkatan kompetensi mengumumkan  dengan teknik simulasi  pada  siswa  kelas  X  Tata  Busana  2  SMK  Perintis  29 Kabupaten Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007?

  2. Bagaimanakah perubahan tingkah laku siswa yang ditunjukkan saat mengikuti pembelajaran mengumumkan dengan teknik simulasi pada siswa kelas X Tata Busana 2 SMK Perintis 29 Kabupaten Semarang Tahun Pelajaran 2006/2007?

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENYIMAK DONGENG DENGAN MEDIA AUDIO VISUAL PADA SISWA KELAS VIID SMP NEGERI 30 SEMARANG

BAB I


PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah


Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berhubungan dengan manusia lain. Untuk menjalin hubungan tersebut diperlukan suatu alat komunikasi. Alat komunikasi yang utama bagi manusia adalah bahasa. Dengan bahasa, manusia dapat menyampaikan ide, pikiran, dan pesan kepada orang lain sehingga terjadi komunikasi. Agar komunikasi berjalan dengan baik, diperlukan penguasaan keterampilan berbahasa. Keterampilan berbahasa dalam bahasa Inggris disebut language arts atau language skills. Istilah art berarti seni atau kiat dan dipergunakan untuk melukiskan sesuatu yang bersifat personal, kreatif, dan original. Sebaliknya kata skill dipakai untuk menyatakan sesuatu yang bersifat mekanis, eksak, impersonal ( Tarigan 1994:10).


Menurut Tarigan ( 1994:2 ) keterampilan berbahasa ( language arts, language skills) mencakup empat segi, yaitu menyimak (listening skill), berbicara (speaking skill), membaca (reading skill), dan menulis (writing skill). Menyimak merupakan    keterampilan     berbahasa   awal   yang   dikuasai oleh  manusia. Keterampilan menyimak menjadi dasar bagi keterampilan berbahasa lain. Pada awal kehidupan manusia lebih dulu belajar menyimak, setelah itu belajar berbicara,     kemudian,  membaca,  dan menulis. Penguasaan keterampilan menyimak akan berpengaruh pada keterampilan berbahasa lain. Sebagaimana Tarigan (1994 : 3) menyatakan bahwa dengan meningkatkan keterampilan menyimak berarti pula membantu meningkatkan kualitas berbicara seseorang.


Menyimak selalu digunakan dalam  kehidupan manusia karena manusia selalu dituntut untuk menyimak, baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Dalam keluarga, manusia selalu dituntut untuk menyimak. Pemerolehan bahasa seorang anak juga berawal dari menyimak ujaran di lingkungan keluarga.


Dalam pergaulan di masyarakat, kegiatan menyimak lebih banyak dilakukan daripada kegiatan berbahasa yang lain. Hal ini dibuktikan oleh Rivers (dalam Sutari, dkk. 1997 : 8), kebanyakan orang dewasa menggunakan 45% waktunya untuk menyimak, 30% untuk berbicara, 16% untuk membaca, dan 9% untuk menulis. Berdasarkan hal di atas terlihat bahwa keterampilan menyimak sangat berperan dalam kehidupan manusia di lingkungan masyarakat.


Peran penting penguasaan keterampilan menyimak sangat tampak di lingkungan sekolah. Siswa mempergunakan sebagian besar waktunya untuk menyimak pelajaran yang disampaikan guru.  Keberhasilan siswa dalam memahami serta menguasai pelajaran diawali oleh kemampuan menyimak yang baik. Berdasarkan hal–hal tersebut keterampilan menyimak perlu dikuasai secara baik.


Sebuah keterampilan akan dikuasai dengan baik jika dibelajarkan dan dilatihkan. Demikian pula halnya dengan keterampilan menyimak perlu dibelajarkan. Pembelajaran menyimak yang baik dan kontinu sangat dibutuhkan mengingat pentingnya peran menyimak dalam kehidupan. Perhatian untuk keterampilan ini harus sama dengan keterampilan berbahasa yang lain. Namun, bagaimanakah realitas pembelajaran menyimak di dunia pendidikan kita? Hal inilah yang perlu dikaji kembali.


Pembelajaran menyimak menjadi bagian dari mata pelajaran bahasa Indonesia. Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi disebutkan bahwa ruang lingkup  bahan  kajian  mata  pelajaran  Bahasa  dan  Sastra  Indonesia  meliputi aspek– aspek  kemampuan berbahasa  dan  kemampuan bersastra.  Aspek kemampuan  berbahasa meliputi keterampilan mendengarkan,  berbicara, membaca, dan menulis yang berkaitan dengan ragam bahasa nonsastra. Adapun aspek kemampuan bersastra juga mencakup keempat keterampilan berbahasa tersebut,   tetapi   berkaitan   dengan   ragam  sastra.   Perhatian   terhadap   aspek berbahasa baik sastra maupun nonsastra adalah sama dan dibelajarkan secara terpadu.


Berdasarkan teori, pembelajaran menyimak dilaksanakan secara terpadu dan mendapat perhatian yang sama dengan keterampilan berbahasa lain. Namun, dalam pembelajaran di sekolah, hal tersebut belum terlaksana dengan baik. Pembelajaran menyimak masih kurang mendapat perhatian dan seringkali diremehkan oleh siswa maupun guru. Mereka beranggapan bahwa semua orang yang normal pasti dapat menyimak dan keterampilan menyimak akan dikuasai oleh siswa secara otomatis. Pandangan seperti ini seharusnya dihilangkan. Keterampilan menyimak untuk memperoleh pemahaman terhadap wacana lisan tidak akan terbentuk secara otomatis atau hanya dengan perintah supaya mendengarkan saja (Subyantoro dan Hartono 2003 : 1)


Dalam kenyataan yang terjadi di kelas, guru menghadapi siswa yang sulit memahami materi pelajaran yang sudah dijelaskan. Salah satu faktor yang diindikasikan  menjadi penyebabnya adalah sebagian siswa didik masih mengalami kesulitan dalam menyimak. Masalah tersebut dapat diatasi dengan pembelajaran menyimak yang benar dan latihan yang kontinu karena suatu keterampilan  hanya  dapat  diperoleh  dan  dikuasai  dengan  jalan  praktik  dan banyak latihan (Tarigan 1994 : 2).


Tarigan (dalam Sutari, dkk. 1997 : 117–118) mengemukakan beberapa alasan  yang  menyebabkan  pembelajaran  menyimak  belum  terlaksana  dengan baik, yaitu: (1) pelajaran menyimak relatif baru dinyatakan dalam kurikulum sekolah, (2) teori, prinsip, dan generalisasi mengenai menyimak belum banyak diungkapkan, (3) pemahaman terhadap apa dan bagaimana menyimak itu masih minim, (4) buku teks dan buku pegangan guru dalam pembelajaran menyimak sangat langka, (5) guru–guru bahasa Indonesia kurang berpengalaman dalam melaksanakan pengajaran menyimak, (6) bahan pengajaran menyimak sangat kurang, (7) guru–guru bahasa Indonesia belum terampil menyusun bahan pengajaran menyimak, dan (8) jumlah murid per kelas terlalu besar.


Alasan–alasan    yang    menyebabkan    pembelajaran    menyimak    belum terlaksana dengan baik tersebut bersifat umum, baik untuk pembelajaran menyimak bahasa dan sastra. Kompleksitas hambatan dalam pembelajaran menyimak pada setiap sekolah tidak selalu sama. Pada sekolah tertentu hambatan tersebut dapat diminimalisir, tetapi di sekolah lain dapat lebih kompleks. Hambatan pada setiap kelas pun dimungkinkan berbeda.


Hambatan-hambatan tersebut semakin bertambah dalam pembelajaran sastra karena adanya anggapan bahwa pembelajaran sastra kurang bermanfaat bagi kehidupan siswa. Metode yang digunakan dalam pembelajaran sastra kurang bervariasi sehingga menyebabkan kebosanan pada siswa. Selain itu, guru cenderung kurang memotivasi siswa untuk belajar sastra dan media untuk pembelajaran sastra kurang mencukupi kebutuhan serta siswa belum mempunyai budaya untuk belajar sastra.


Berdasarkan pengamatan, hambatan dalam pembelajaran menyimak dongeng yang ditemukan pada objek penelitian adalah (1) pemahaman siswa terhadap keterampilan menyimak masih kurang, (2) siswa merasa kurang mendapatkan manfaat dari belajar menyimak dongeng, sehingga kurang termotivasi untuk belajar, (3) media pembelajaran menyimak dongeng kurang mencukupi dan belum dimanfaatkan secara efektif, (4) teknik pembelajaran menyimak yang kurang bervariasi, (5) jumlah siswa terlalu besar, dan (6) kondisi ruang belajar yang belum menunjang pembelajaran menyimak. Hal-hal tersebut menyebabkan  keterampilan  menyimak  siswa  kelas  VIID  SMP  Negeri  30 Semarang rendah.


Usaha untuk meningkatkan keterampilan menyimak memerlukan metode yang efektif dan efisien. Selain itu, diperlukan pula media pembelajaran yang tepat  sehingga  siswa  dapat  menguasai  kompetensi  yang  diharapkan.  Dalam proses belajar mengajar, media memiliki peran yang sangat penting untuk menunjang ketercapaian tujuan pembelajaran.


Penggunaan media audio visual dalam pembelajaran menyimak dongeng diharapkan membangkitkan rasa ingin tahu dan minat siswa serta memotivasi untuk belajar. Media audio visual ini juga diharapkan dapat mempermudah siswa dalam memahami materi dan informasi yang disampaikan. Dengan demikian, pemakaian media audio visual diharapkan dapat meningkatkan keterampilan  menyimak  dongeng  pada  siswa  kelas  VIID  SMP  Negeri  30 Semarang.


1.2 Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas,  hambatan–hambatan yang teridentifikasi dalam pembelajaran menyimak dongeng adalah   (1) pemahaman siswa terhadap keterampilan menyimak masih kurang, (2) siswa merasa kurang mendapatkan  manfaat dari  belajar  menyimak   dongeng  sehingga kurang termotivasi untuk belajar, (3)   media pembelajaran menyimak dongeng kurang mencukupi dan belum dimanfatkan secara efektif, (4) teknik pembelajaran menyimak yang kurang bervariasi, (5) jumlah siswa terlalu besar, dan (6) kondisi ruang belajar belum menunjang pembelajaran menyimak.


Faktor pertama adalah pemahaman siswa terhadap keterampilan menyimak masih kurang. Siswa kurang memahami teori dan manfaat menyimak. Untuk itu, guru harus memberikan pengetahuan kepada siswa tentang hal-hal yang berkaitan dengan keterampilan menyimak dan perannya dalam kehidupan mereka.


Faktor kedua ialah siswa merasa kurang mendapat manfaat dari belajar menyimak dongeng sehingga kurang termotivasi untuk belajar. Hal ini terjadi karena siswa beranggapan bahwa mendengarkan dongeng adalah hal biasa yang sering mereka lakukan ketika kecil. Melihat kenyataan ini guru harus memberitahukan manfaat menyimak dongeng sebelum memulai pelajaran.


Faktor ketiga media pembelajaran menyimak yang kurang mencukupi dan belum dimanfaatkan secara efektif. Media seperti tape recorder jumlahnya terbatas sehingga penggunaannya harus bergantian dan menyesuaikan dengan kegiatan lain yang memanfaatkan media tersebut. Dalam proses belajar mengajar guru terkadang enggan menggunakan media yang ada karena pemanfaatannya memerlukan berbagai persiapan. sehingga media tidak difungsikan secara efektif.


Faktor keempat adalah teknik pembelajaran menyimak yang kurang bervariasi. Dalam pembelajaran menyimak guru hanya membacakan teks dan siswa  diminta  menyimak.  Guru  seharusnya  menerapkan  teknik  pembelajaran yang lebih bervariasi dan memanfaatkan media yang tersedia.


Faktor kelima jumlah siswa terlalu besar. Dengan jumlah siswa 40 orang, guru dituntut untuk memilih teknik pembelajaran yang tepat sehingga tujuan pembelajaran  tercapai.  Selain  itu,  guru harus  menguasai  pengelolaan  kelas secara baik.


Faktor  keenam kondisi  ruang  belajar  belum menunjang  pembelajaran menyimak. Ruang kelas berdekatan dengan jalan raya sehingga siswa mudah terganggu suara dari luar. Keadaan ini sulit diatasi karena kondisi setiap kelas hampir sama dan sekolah belum memiliki laboratorium bahasa.


1.3 Pembatasan Masalah


Berdasarkan identifikasi masalah di atas, masalah yang muncul sangatlah kompleks sehingga perlu dibatasi. Pembatasan masalah ini bertujuan agar pembahasan tidak terlalu meluas.


Permasalahan yang akan menjadi bahan penelitian adalah keterampilan menyimak dongeng yang masih rendah. Hal ini disebabkan media pembelajaran yang kurang mencukupi dan belum digunakan secara efektif. Untuk memecahkan masalah itu, guru seharusnya mencari dan memanfaatkan media pembelajaran yang tepat. Media audio visual diharapkan dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan menyimak dongeng pada siswa kelas VIID SMP Negeri Semarang.


1.4 Rumusan Masalah


Rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah:




  1. Bagaimanakah  peningkatan  keterampilan  menyimak  dongeng  pada  siswa kelas VIID SMP Negeri 30 Semarang setelah dilakukan pembelajaran dengan media audio visual?

  2. Bagaimanakah perubahan tingkah laku kelas VIID SMP Negeri 30 Semarang setelah pembelajaran menyimak dongeng dengan media audio visual?

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENYIMAK BERITA DARI TELEVISI DENGAN METODE DRILL MELALUI MEDIA AUDIO-VISUAL PADA PESERTA DIDIK KELAS VIII A SMP NEGERI I JIKEN KABUPATEN BLORA TAHUN PELAJARAN 2006/2007

BAB I


PENDAHULUAN


I.1 Latar Belakang Masalah


“Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia” (Keraf 2001:1). Dilihat dari pengertiannya, bahasa sangat diperlukan oleh masyarakat bahasa dalam kegiatan berbahasanya yaitu sebagai alat komunikasi.


Kegiatan berbahasa yang berupa memahami bahasa yang dihasilkan orang lain melalui sarana lisan atau pendengaran merupakan kegiatan yang paling pertama yang dilakukan manusia. Keadaan itu sudah terlihat sejak manusia masih bernama bayi. Bayi manusia yang belum mampu menghasilkan bahasa, sudah akan terlihat dalam kegiatan mendengarkan dan usaha memahami bahasa orang-orang di sekitarnya.  Dalam belajar  bahasa  asing  pun  kegiatan  pertama  yang  dilakukan pelajar adalah menyimak bunyi-bunyi bahasa yang dipelajari, baik yang berupa ucapan langsung maupun melalui sarana rekaman.


Secara alami bahasa bersifat lisan dan terwujud dalam kegiatan berbicara dan memahami pembicaraan itu. Hal itu akan lebih nyata terlihat pada masyarakat bahasa yang belum mengenal sistem tulisan. Pada masyarakat bahasa modern pun dalam kehidupan sehari-harinya, kegiatan berbahasa secara lisan akan jauh lebih banyak daripada berbahasa tulis. Kenyataan itu dapat   diartikan bahwa kemampuan berbahasa secara lisan lebih fungsional dalam kehidupan sehari-hari daripada kemampuan berbahasa secara tulis, dalam kaitan ini adalah kemampuan menyimak yang perlu diberi perhatian secara memadai.


Fungsionalnya kegiatan menyimak ini dapat terlihat dari kehidupan sehari-hari kita yang dihadapkan dengan berbagai kesibukan menyimak. Contohnya dalam dialog antar anggota keluarga, percakapan antara teman, aktivitas pendidikan di sekolah dan masih banyak lagi kegiatan lain yang melibatkan kegiatan menyimak. Selain itu, fungsionalnya kegiatan menyimak bagi kehidupan manusia karena kegiatan menyimak mempunyai peran yang sangat penting.


Menurut Tarigan (1991:8), peran dari kegiatan menyimak tersebut adalah sebagai (1) landasan belajar berbahasa, (2) penunjang keterampilan berbicara, membaca, dan menulis, (3) pelancar komunikasi lisan, dan (4) penambah informasi.


Bukti yang menguatkan betapa pentingnya keterampilan menyimak tersebut adalah pendapat dari T. Rankin pada tahun 1926 yang menyatakan bahwa 42% waktu penggunaan bahasa tertuju pada menyimak. Pada tahun 1950 Miriam B. Wist melaporkan bahwa jumlah waktu yang digunakan oleh anak-anak untuk menyimak  di  kelas-kelas  sekolah  dasar  kira-kira  1  1/2  sampai  2  jam  sehari (Tarigan 1994:11).


Namun,  dalam  pelaksanaan  pembelajaran  bahasa  di  sekolah,  khususnya bahasa Indonesia, pembelajaran dan tes menyimak kurang mendapat perhatian semua guru bahasa secara khusus. Para guru belum membelajarkan dan sekaligus menguji kemampuan menyimak peserta didik dalam suatu periode tertentu. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang telah dilakukan oleh penulis, diperoleh  informasi  dari  pihak  guru  bahwa  meskipun  sudah  menggunakan kurikulum KTSP namun dalam pelaksanaannya masih jauh dari sempurna.


Selain itu, minat belajar peserta didik yang masih kurang dan masih menggunakannya metode ceramah sehingga menyebabkan hasil belajar yang dicapai masih rendah dan sudah terbiasanya peserta didik dengan penggunaan metode ceramah. Dengan keadaan yan seperti itu menjadikan peserta didik sulit diajak untuk mengubah cara pembelajaran tersebut dengan metode yang baru. Contohnya, ketika guru mencoba menerapkan sistem diskusi pada pembelajaran menyimak  dengan  tujuan untuk  mengaktifkan peserta didik dan peserta didik bebas berpendapat, namun kebanyakan dari mereka gaduh dengan teman diskusinya, sehingga pokok pembahasan keluar dari pokok pembahasan  yang diberikan. Menghadapi situasi ini, akhirnya guru lebih memilih kembali kepada metode ceramah. Sebenarnya permasalahan ini dapat diatasi dengan kekreatifan seorang guru dalam menyiasati suatu permasalahan dalam pembelajaran dan pemahaman seorang guru tentang diri peserta didik dengan berbagai macam keunikannya dan karakteristiknya. Hendaknya guru dapat menciptakan suatu metode  baru  yang  lebih          ringan  dan  menyenangkan  untuk  pembentukan  dan menanamkan jiwa aktif  dan rasa percaya diri pada diri peserta didik.


Berdasarkan informasi di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran menyimak yang dilakukan di SMP Negeri I Jiken Kabupaten Blora pada peserta didik  kelas  VIII  A,  kurang  mendapatkan  perhatian  dari  pihak  peserta  didik maupun  guru.  Dengan  kondisi  seperti  itu,  maka  pembelajaran  menyimak cenderung  diabaikan  dan  dinomorduakan  dibandingkan  dengan  pembelajaran bahasa yang lain. Padahal dengan kegiatan menyimak seseorang dapat menyerap informasi penting yang didengarnya. Jadi dapat ditarik simpulan bahwa keterampilan menyimak merupakan keterampilan yang amat penting.


Meskipun   keterampilan   menyimak   merupakan   keterampilan   yang   amat penting, namun pada kenyataannya keterampilan tersebut belum dianggap keterampilan  yang  amat  penting.  Dengan  kondisi  yang  seperti  itu,  maka seharusnya dalam pelaksanaan pembelajaran menyimak di sekolah, guru hendaknya  menuntut                         peserta  didik  untuk  menyimak  secara  ekstensif,  dan kegiatan menyimak tidak  lagi bersifat pasif sehingga pembelajaran menyimak di sekolah harus bersifat aktif-reseptif. Meskipun dengan kesadaran yang seperti itu, tetap saja dalam pembelajaran langsung tentang cara yang baik untuk menyimak masih terlupakan dan diabaikan karena:




  1. pembelajaran menyimak khususnya menyimak berita di sekolah-sekolah pada umumnya kurang mendapat perhatian secara khusus.

  2. pembelajaran    menyimak  secara umum di  sekolah-sekolah    cenderung diabaikan  karena  kebanyakan  guru  kurang  memahami  teori  dan  memiliki keterampilan dalam bidang menyimak,  khususnya pembelajaran menyimak berita  sehingga  menyebabkan kurang pemahaman tentang  konsep pembelajaran menyimak

  3. pembelajaran    memahami isi berita yang diberikan di kelas masih menggunakan sistem klasikal dan kembali menggunakan metode ceramah. Sehingga dengan jumlah peserta didik yang banyak yaitu 39 peserta didik setiap  kelas,  pembelajaran  menyimak  berita  kurang  bermakna  dan  kurang efektif.

  4. guru juga kurang menekankan pada latihan-latihan untuk memahami suatu berita,  melainkan  lebih  menekankan  pada  pengenalan-pengenalan  istilah seperti menjelaskan pengertian berita dan aspek-aspek yang ada dalam berita. Terdapat  satu  hal  lagi  yang  kurang  diperhatikan  guru  demi  keberhasilan pembelajarannya  yaitu  sistem  pengelolaan  kelas  masih  menggunakan  cara klasikal sehingga terkesan monoton dan kurang menarik bagi peserta didik. Keadaan tersebut di atas yang menyebabkan keterampilan menyimak peserta didik    kelas VIII  A  masih  sangat  rendah.  Untuk  mengatasi  permasalahan  ini peneliti  menggunakan  metode  drill melalui  media  audio-visual  sehingga keterampilan menyimak peserta didik  kelas VIII A dapat meningkat.


“Metode drill (latihan) adalah metode pembelajaran matematika yang lebih ditujukan  agar  siswa  cepat  dan  cermat  dalam  menyelesaikan  soal”  (Suyitno 2004:6). Latihan yang praktis, mudah dilakukan, serta teratur melaksanakannya membina anak dalam meningkatkan penguasaan keterampilan itu, bahkan peserta didik  dapat  memiliki  ketangkasan  itu  dengan  sempurna.  Hal  ini  menunjang peserta didik berprestasi dalam bidang tertentu, misalnya terampil dalam memahami segala informasi yang didengarnya dengan cepat, kaitannya dengan penelitian ini adalah mahir memahami isi berita yang  telah didengarkan.


Faktor lain yang mendukung pembelajaran ini adalah penggunaan media pembelajaran, khususnya media  audio-visual.  Dengan  penggunaan media pembelajaran,  dapat mempertinggi proses belajar peserta didik  dalam pembelajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang   ingin   dicapainya.   Berbeda dengan cara pembelajaran yang masih menggunakan metode ceramah, informasi yang disampaikan hanya berupa kata- kata yang menyebabkan pengalaman yang diperoleh peserta didik hanya berupa pengalaman kata-kata yang cenderung membuat pelajaran atau informasi sukar ditangkap, kurang menarik, dan mudah dilupakan.


Tidak  seperti  pembelajaran  yang  diberikan  dengan  menggunakan  media audio- visual, yang memberikan wujud nyata dalam suatu pembelajaran. Dengan pengalaman yang nyata maka sangat efektif untuk mendapatkan suatu pengertian dan pemahaman karena pengalaman nyata itu mengikutsertakan semua indera dan akal. Pengalaman nyata itu adalah cara yang wajar dan memuaskan dalam proses belajar. Kalau semua orang bisa mendapat pengalaman nyata dan mempunyai kecerdasan yang dapat menyerap pengertian yang menyeluruh dari segala segi tentang semua pengalaman itu, ia akan sanggup mengembangkan pengertian yang sebaik-baiknya tentang semua yang dialaminya itu. Penggunaan media juga dapat meningkatkan motivasi peserta didik dalam pembelajaran menyimak karena pembelajaran yang diberikan menarik sehingga peserta didik tertarik dalam mengikuti proses belajar mengajar dan pembelajaran menjadi lebih bermakna.


1.2 Identifikasi Masalah


Uraian di atas menegaskan bahwa keterampilan menyimak sangat penting dalam   pembelajaran   bahasa.   Keterampilan   menyimak   dapat   meningkatkan apresiasi  dan  pemahaman peserta didik dalam pembelajaran bahasa.


Keterampilan  menyimak  perlu  diberikan  kepada  peserta  didik  dalam  proses belajar  bahasa,  karena  keterampilan  menyimak  dapat  mengajak  peserta  didik untuk memahami, menikmati, dan menghargai suatu karya sastra.


Namun pada kenyataannya, pembelajaran menyimak belum diberikan secara tepat.  Pembelajarannya  masih  diberikan  dengan  menggunakan  metode  yang kurang variatif dan membosankan sehingga mengakibatkan peserta didik  enggan, malas, bosan, jenuh, dan tidak termotivasi dalam mengikuti pembelajaran menyimak, khususnya pembelajaran menyimak berita. Akibatnya, peserta didik tidak dapat merespons informasi yang diperoleh dari menyimak, meskipun sebenarnya peserta didik tersebut telah memiliki keterampilan bahasa lainnya, seperti berbicara, membaca, dan menulis.


Berdasar latar belakang di atas, peneliti mengidentifikasi masalah-masalah yang menjadi penghambat keberhasilan pembelajaran menyimak yaitu:




  1. masih rendahnya minat peserta didik   dalam   mengikuti    pembelajaran menyimak. Dengan rendahnya minat belajar peserta didik pada pembelajaran menyimak maka mereka akan merasa enggan dalam mengikuti pembelajaran dan  hasilnya  mereka  tidak  konsentrasi  pada  pembelajaran.  Dengan  tidak adanya konsentrasi dan respons positif  seorang  peserta didik  pada pembelajaran menyimak berita, maka pembelajaran menyimak tidak dapat berjalan dengan baik.

  2. peserta didik dan guru masih mengabaikan pembelajaran menyimak karena menurut mereka keterampilan tersebut sangatlah mudah. Dengan adanya asumsi yang seperti ini maka suatu pembelajaran menyimak yang baik tidak akan dapat terlaksana. Pembelajaran menyimak menurut mereka merupakan pembelajaran yang sangat mudah, karena pengertian mereka tentang hakikat menyimak masih rendah. Menurut mereka, menyimak hanyalah merupakan kegiatan mendengarkan sesuatu. Dan semua orang yang tidak tuli pastilah dapat melakukan kegiatan tersebut.

  3. pembelajaran menyimak yang dilakukan guru di kelas masih menggunakan metode ceramah sehingga kurang memotivasi peserta didik dalam mengikuti pembelajaran menyimak di kelas sehingga hasilnya pun masih rendah. Penggunaan metode ceramah masih dilakukan karena kurangnya kreatifitas guru dalam mengkombinasikan teknik dan metode pembelajaran. Seharusnya metode ini sudah ditinggalkan karena metode ini tidak mendorong jiwa aktif peseta didik dan kurang membekali peserta didik pada penguasaan suatu keterampilan tertentu.


1.3  Pembatasan Masalah


Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah peningkatan keterampilan menyimak berita, peneliti berupaya mengatasi segala hambatan yang dialami oleh peserta didik dalam pembelajaran menyimak. Peneliti membatasi permasalahan karena peneliti memfokuskan pada Peningkatan Keterampilan Menyimak  Berita dari TV dengan Metode Drill melalui Media Audio-Visual pada Peserta Didik Kelas VIII A SMP Negeri I Jiken Kabupaten Blora Tahun Ajaran 2006/2007.


1.4 Permasalahan


Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah di atas, dapat diambil suatu rumusan masalah sebagai berikut:




  1. bagaimanakah peningkatan keterampilan menyimak berita dari TV dengan metode drill melalui media audio-visual kepada   peserta didik   kelas VIII A SMP Negeri I Jiken Kabupaten Blora?

  2. bagaimanakah perubahan perilaku belajar peserta didik kelas VIII A SMP Negeri I Jiken Kabupaten Blora setelah dilakukan pembelajaran keterampilan menyimak berita dari TV dengan metode drill melalui media audio-visual?

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS SURAT RESMI SISWA KELAS VIIB SMP NEGERI 30 SEMARANG DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL KOMPONEN MASYARAKAT BELAJAR TAHUN AJARAN 2004/2005

BAB I


PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang


Bahasa merupakan sarana berkomunikasi antarmanusia untuk memperoleh informasi yang penting. Penguasaan berbahasa dapat diperoleh melalui pembelajaran. Pembelajaran bahasa sangat penting untuk diajarkan di sekolah-sekolah, terutama pembelajaran bahasa Indonesia. Pembelajaran bahasa Indonesia harus lebih diarahkan pada kemampuan dan keterampilan siswa untuk berkomunikasi secara lisan maupun tulis. Pembelajaran bahasa diharapkan dapat meningkatkan keterampilan berbahasa siswa yang meliputi keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan ini saling berkaitan dan saling melengkapi dalam kegiatan komunikasi.


Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang sangat penting bagi siswa. Keterampilan menulis siswa harus terus ditingkatkan, terutama keterampilan menulis surat resmi. Pada siswa SMP kelas VII misalnya, diharapkan dapat menulis surat resmi dengan benar sesuai aturan yang ada dalam penulisan surat resmi.   Dalam   keterampilan   menulis,   ketepatan   pengungkapan   gagasan   harus didukung oleh ketepatan bahasa yang digunakan (Depdiknas 2003:5).


Pembelajaran menulis di Sekolah Menengah Pertama perlu mendapat perhatian dari para guru mata pelajaran bahasa Indonesia. Ketika dihadapkan pada pembelajaran menulis surat resmi, siswa selalu mengalami kesulitan terutama dalam penggunaan bahasa. Hasil tulisan siswa sebagian besar lemah dalam masalah kebahasaan dan teknik penulisan. Selama pembelajaran menulis, siswa kurang memperhatikan aturan-aturan yang ada dalam keterampilan menulis sehingga menyebabkan lemahnya keterampilan siswa dalam menulis surat resmi.


Lemahnya  keterampilan  siswa  dalam  menulis  surat  resmi  disebabkan alokasi waktu pembelajaran menulis di sekolah-sekolah selama ini relatif lebih kecil. Hal ini menyebabkan keterampilan menulis siswa kurang maksimal. Siswa kurang mendapatkan pengalaman dan pengetahuan dalam pembelajaran menulis. Setelah menamatkan jenjang sekolah, dikhawatirkan siswa belum mampu menggunakan bahasa secara baik dan benar dalam keterampilan menulis.


Dalam pembelajaran menulis, siswa kurang memahami hakikat menulis. Berdasar  pengalaman  peneliti  ketika  melakukan  Praktik  Pengalaman  Lapangan (PPL), peneliti mengetahui bahwa ketika diberikan kesempatan menulis surat resmi, para   siswa   tidak   mementingkan   mutu   tulisan.   Mereka   lebih   mementingkan sistematika surat resmi tanpa memperhatikan penggunaan bahasa.


Dari hasil wawancara peneliti dengan guru mata pelajaran bahasa Indonesia di SMP Negeri 30 Semarang, diketahui bahwa keterampilan menulis pada siswa kelas VIIB  selama  ini  belum  maksimal.  Dalam  menulis  surat  resmi,  siswa  masih mengalami  kesulitan  dalam  penggunaan  bahasa.  Lemahnya  keterampilan  menulis surat resmi siswa disebabkan sebagian besar siswa kurang berminat mengikuti pelajaran bahasa Indonesia, kurangnya pemahaman siswa tentang surat resmi, dan siswa  kurang  berlatih  menulis  surat  resmi.  Selain  faktor  dari  siswa,  lemahnya keterampilan menulis surat resmi juga dapat dipengaruhi karena faktor dari guru. Lemahnya   keterampilan   menulis   surat   resmi   siswa   dapat   disebabkan   karena bimbingan dan penjelasan guru dalam proses pembelajaran sulit dipahami oleh siswa, serta strategi yang yang digunakan guru dalam pembelajaran kurang tepat.


Guru dituntut mempunyai keterampilan untuk mengelola kelas agar proses belajar  mengajar  dapat  berjalan  dengan  lancar  dan  tercapai  tujuan  pembelajaran. Untuk  mengatasi  kelemahan  siswa  dalam menulis  surat  resmi,  guru  harus  selalu memotivasi dan memberikan pengertian kepada siswa tentang pentingnya pelajaran bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari, terutama pembelajaran surat resmi. Agar siswa dapat menulis surat resmi dengan benar, guru harus lebih memberikan penjelasan kepada siswa melalui contoh-contoh surat resmi dan memberikan latihan- latihan menulis surat resmi dengan strategi pembelajaran yang tepat. Strategi pembelajaran merupakan hal yang harus diperhatikan oleh guru agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Siswa tidak cukup diberikan penjelasan tentang teori menulis saja, tetapi hal yang berhubungan dengan masalah kebahasaan dan teknik penulisan juga harus diperhatikan. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa agar keterampilan siswa dalam menulis surat resmi dapat ditingkatkan.


Pembelajaran dengan    pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) dapat dijadikan sebagai strategi untuk meningkatkan keterampilan menulis siswa. Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan  antara  materi  yang  diajarkan  dengan  situasi  dunia  nyata  siswa  dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya   dalam   kehidupan   sehari-hari.   Proses   pembelajaran   berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami. Guru bertugas sebagai pengarah dan pembimbing agar siswa mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Ada tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual di kelas. Ketujuh komponen utama itu adalah konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry),  masyarakat belajar (learning community),  pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment) (Nurhadi dan Senduk 2003:31).


Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen masyarakat belajar diharapkan dapat meningkatkan keterampilan surat resmi siswa kelas VIIB SMP Negeri 30 Semarang. Dalam masyarakat belajar, hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah dan dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar. Siswa yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar memberi  informasi  yang  diperlukan  oleh  teman  bicaranya  sekaligus  meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya. Dalam pembelajaran tersebut, kegiatan belajar mengajar akan dilaksanakan dalam kelompok kecil dengan menerapkan pembelajaran kooperatif, yaitu pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar   untuk  mencapai   tujuan  belajar.              Pembelajaran kontekstual  komponen masyarakat belajar ini sangat membantu proses pembelajaran di kelas. Melalui belajar kelompok, siswa dapat saling berbagi gagasan dan pengalaman serta bekerjasama untuk memecahkan masalah dalam kegiatan belajar mengajar.


Penggunaan pendekatan kontekstual komponen masyarakat belajar dalam pembelajaran    menulis surat  resmi  dapat dijadikan  sebagai  strategi untuk meningkatkan keterampilan menulis siswa agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Oleh karena itu,  peneliti melakukan penelitian dengan judul  Peningkatan Keterampilan Menulis Surat Resmi pada Siswa Kelas VIIB SMP Negeri 30 Semarang dengan Pendekatan Kontekstual Komponen Masyarakat Belajar.


1.2 Identifikasi Masalah


Dalam setiap kegiatan belajar mengajar, guru selalu dihadapkan pada siswa yang mengalami kesulitan belajar, khususnya menulis surat resmi. Keterampilan menulis surat resmi siswa kelas VIIB SMP Negeri 30 Semarang masih rendah. Masalah yang muncul dalam keterampilan menulis dapat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari diri siswa. Sebagian besar siswa beranggapan bahwa bahasa Indonesia adalah pelajaran yang membosankan sehingga siswa kurang berminat mengikuti pelajaran bahasa Indonesia. Guru harus dapat memberikan pengertian kepada siswa tentang pentingnya pelajaran bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.


Kurangnya pemahaman tentang surat resmi juga menyebabakan rendahnya keterampilan menulis siswa. Aturan-aturan yang ada dalam penulisan surat resmi, terutama dalam hal kebahasaan menyebabkan siswa sulit menulis surat resmi dengan benar. Untuk mengatasi hal ini, guru harus lebih banyak memberikan penjelasan kepada siswa dengan memberikan contoh-contoh surat resmi.


Faktor lain penyebab rendahnya keterampilan menulis surat resmi adalah siswa  kurang  berlatih  menulis  surat  resmi.  Mereka  menganggap  bahwa  menulis adalah pelajaran yang sulit. Siswa mengalami kesulitan menulis terutama dalam pemakaian bahasa. Untuk meningkatkan keterampilan menulis, siswa harus banyak diberi latihan dengan teknik belajar yang bervariasi.


Faktor eksternal yang berasal dari luar siswa, yaitu faktor dari guru. Kurangnya keterampilan menulis surat resmi dapat disebabkan karena bimbingan dan penjelasan guru dalam proses pembelajaran sulit dipahami oleh siswa. Siswa tidak dapat menguasai seluruh materi yang diajarkan oleh guru. Untuk menyelesaikan masalah ini, guru seharusnya menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa.


Teknik mengajar yang kurang tepat dalam pembelajaran juga dapat menyebabkan lemahnya keterampilan menulis surat resmi siswa. Guru harus menggunakan teknik mengajar yang bervariasi agar kegiatan pembelajaran lebih menarik. Salah satu teknik yang dapat digunakan adalah dengan menerapkan pendekatan kontekstual komponen masyarakat belajar yang dapat mendorong keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran.


1.3 Pembatasan Masalah


Berdasarkan identifikasi masalah, peneliti membatasi permasalahan yang akan menjadi bahan penelitian, yaitu keterampilan siswa dalam menulis surat resmi masih rendah. Untuk meningkatkan keterampilan menulis surat resmi akan digunakan pendekatan kontekstual komponen masyarakat belajar.


1.4 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.




  1. Bagaimana peningkatan keterampilan menulis surat resmi siswa kelas VIIB SMP Negeri 30 Semarang setelah diberikan pembelajaran kontekstual komponen masyarakat belajar?

  2. Bagaimana  perubahan  tingkah  laku  siswa  kelas  VIIB  SMP  Negeri  30 Semarang setelah diberikan pembelajaran kontekstual komponen masyarakat belajar?