Tampilkan postingan dengan label Skripsi Teknologi Jasa dan Produksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Skripsi Teknologi Jasa dan Produksi. Tampilkan semua postingan

PEMBUATAN KOSTUM DIVA POP DENGAN SUMBER IDE BUNGA EUPHORBIA

BAB I


PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang


Entertainment adalah    dunia   hiburan    yang   didalamnya   terdapat beberapa elemen yaitu aktris, aktor dan juga penyanyi. Mereka dalam masyarakat disebut entertainer atau juga selebritis. Gaya hidup mereka sering manjadi sorotan publik. Salah satu gaya hidup mereka adalah gaya berbusana (fashion).  Sering  kali  gaya  busana  mereka  ditiru  oleh  masyarakat  dan dijadikan simbol  fashion.


Di dunia yang modern dan individual masyarakat lebih memandang jauh ke depan melewati label fashion dan desainer untuk mendapatkan simbol fashion baru. Adanya kemudahan informasi yang bisa didapat dari media sampai yang lebih luas lagi internet. Selebritis menjadi semakin mudah diraih atau dikenal, dan masyarakat pun semakin bebas untuk memilih ( Monique Natalia, 2002: 66-68 ).


Kebutuhan masyarakat akan busana sangat beragam sesuai dengan perkembangan waktu. Hal ini menyebabkan masyarakat tidak puas hanya dengan satu jenis pakaian tetapi mengenakan busana yang sesuai dengan jiwa dan kepribadian pemakainya sehingga dapat tampil menarik. Perkembangan mode yang berputar selalu didominasi dengan busana wanita. Pembuatan busana wanita dituntut untuk dibuat secara baik dan benar, salah satunya adalah kostum diva pop. Kostum panggung merupakan busana yang  dipakai  untuk  pertunjukan  tertentu  dalam  suasana  gembira  dengan desain dan hiasan yang unik sehingga dapat menjadi pusat perhatian (centre of interest) pada kesempatan tersebut ( Lukman Ali, 1995:46 ).


Disain yang dibuat untuk pembuatan kostum panggung khususnya untuk seorang diva pop biasanya inovatif dan anggun sehingga menampilkan citra diri dari si penyanyi dalam suatu pertunjukan.


Penciptaan busana sendiri dapat dipengaruhi oleh beberapa sumber ide,  baik  yang  diperoleh  dari  alam  atau  busana  yang  sudah  ada.  Suatu peristiwa misalnya yang dapat kita pakai sebagai sumber ide adalah peristiwa adat suatu daerah atau bernda-benda di sekitar kita (Chodijah dan Wisri A. Mamdy, 1982: 171).


Sumber ide dari alam beraneka ragam yang dapat dijadikan inspirasi dalam  pembuatan  kostum  panggung.  Salah  satu  benda  yang  penyusun gunakan sebagai sumber ide adalah bunga euphorbia milii. Bentuk lekukan kelopak bunga yang unik yaitu berbentuk angka 8 terdiri dari 2 kelopak yang saling menyatu berbeda dengan kelopak bunga yang pada umumnya memiliki lebih dari 3 kelopak dan warnanya yang cantik menimbulkan ide dalam pembuatan kostum diva pop.

KUALITAS TAHAN LUNTUR WARNA BATIK CAP DI GRIYA BATIK LARISSA PEKALONGAN

BAB I


PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah


Indonesia  mempunyai  beraneka  ragam  budaya.  Hampir  di  setiap daerah mempunyai kebudayaan yang berbeda dengan daerah lain. Budaya itu bisa berupa bahasa, tarian, upacara adat maupun pakaian adat. Pakaian adat biasanya   dibuat   dari   kain   tradisional   sesuai   dengan   daerahnya.   Kain tradisional yang terdapat di negara kita beraneka ragam al : songket, lurik, tenun dan batik.


Batik    merupakan    kekayaan    bangsa    Indonesia,    saat    ini    telah berkembang, baik lokasi penyebaran, teknologi dan desainnya. Semula batik hanya dikenal di lingkungan kraton di Jawa. Pada masa itu batik hanya dibuat dengan sistem tulis sedangkan pewarna yang digunakan berasal dari alam baik tumbuh – tumbuhan maupun binatang ( Riyanto, dkk. 1997: 1 ). Batik di Jawa berkembang sampai daerah – daerah lain seperti Banyumas, Tulungagung, Wonogiri, Tasikmalaya dan Garut. Batik juga berkembang di pesisir utara seperti Jakarta, Indramayu, Cirebon, Pekalongan, Lasem, Tuban, Gresik, Sidoarjo, dan Madura. Teknologi yang digunakan semakin berkembang, hal ini dapat dilihat dari peralatan membatik yang sudah canggih, sebagai contoh canting yang menggunakan aliran listrik. Desain yang semakin beragam dari motif dan warna yang digunakan juga beragam untuk batik daerah pesisir.


Pertumbuhan batik yang berlainan, menjadikan corak dan warna yang beragam sesuai dengan asalnya, misalnya daerah pesisir seperti Cirebon, Pekalongan, Lasem akan berbeda dengan daerah Solo atau Yogyakarta. Pada umumnya  batik  daerah  pesisir  memiliki  ciri  warna  yang  beraneka  ragam seperti merah, biru, hijau dan lainnya. Sedangkan untuk daerah Solo atau Yogyakarta menggunakan warna sogan, biru, hitam, kream dan putih.


Pekalongan sebagai salah satu daerah penghasil batik di Indonesia mempunyai   keunggulan dari daerah lain. Keunggulan   para    pembatik Pekalongan adalah dari segi proses pembuatan batik atau teknik pembuatan batik dan segi pewarnaan. Ditinjau dari segi teknik pembuatan batik, para pembatik mempunyai pengalaman yang baik, dengan penggunaan beberapa macam warna, maka harus bermain dengan lilin batik dan cara – cara pewarnaan, seperti celupan tutup lilin dan colet tutup lilin dan sebagainya (Sewan Susanto, 1973:328 ).


Dewasa ini penggunaan batik sebagai bahan sandang sudah mulai membudaya dikalangan masyarakat. Kain batik yang semula hanya dipakai untuk  pakaian  tradisional  (  sebagai  jarit,  selendang  )  kini  banyak  dipakai dalam dunia fashion, mulai dari pakaian pesta, pakaian santai, sepatu, seragam kerja atau sekolah, bahkan juga digunakan untuk perlengkapan rumah tangga ( seperti sprei, gordin, bantalan kursi, taplak dan sebagainya ).


Berkembangnya penggunaan batik tersebut dimungkinkan karena semakin meningkatnya teknik pembuatan batik serta semakin beraneka ragam disain batik yang dibuat. Hal tersebut juga mendukung pasaran batik menjadi semakin luas, bahkan sampai ke luar negeri, sehingga sistem perdagangan menjadi semakin rumit karena konsumennya semakin kritis. Sebagai bahan sandang, konsumen menghendaki agar kualitas batik lebih ditingkatkan. Kualitas atau mutu batik dapat dilihat dari ketahanan luntur warnanya.


Penelitian ini mengambil tempat di Griya Batik Larissa Pekalongan karena disebabkan beberapa faktor. Faktor yang pertama adalah batik Larissa merupakan suatu usaha batik yang sudah berdiri cukup lama dibandingkan dengan usaha batik lainnya. Faktor kedua adalah lokasi batik Larissa berada dekat dengan rumah peneliti sehingga peneliti lebih mengetahui minat konsumen terhadap batik Larissa.


Menurut pengamatan dari survey awal dapat dikemukakan bahwa di Griya Batik Larissa Pekalongan batiknya banyak diminati masyarakat, khususnya masyarakat pecinta batik. Hal ini kami peroleh dari bapak Agung bagian produksi, komentar dari beberapa konsumen yaitu, karena di Griya Batik Larissa mempunyai kualitas yang baik dari segi ketahanan luntur warnanya. Selain dari pengamatan dilakukan studi pendahuluan terhadap produk batik Larissa dengan cara manual. Hasil yang diperoleh dari pengujian tahan  luntur  warna  terhadap  pencucian,  gosokan  dan  panas  penyetrikaan adalah  sedikit  luntur  akan  tetapi  tidak  menodai  kain  lain.  Produksi  batik Larissa selain ketahanan luntur warnanya yang bagus juga karena harganya terjangkau. Griya batik ini memproduksi batik tulis, batik cap serta batik printing. Batik tulis harganya lebih mahal sehingga hanya sedikit orang yang mampu  membeli.  Keadaan  ini mengakibatkan griya batik Larissa memproduksi batik yang bersifat modern dengan menggunakan proses cap, yang pengerjaannya lebih cepat dan harganya lebih murah.


B. Permasalahan


Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah :




  1. Bagaimanakah kualitas ketahanan luntur warna batik cap di griya batik Larissa Pekalongan terhadap pencucian ?

  2. Bagaimanakah kualitas ketahanan luntur warna batik cap di griya batik Larissa Pekalongan terhadap gosokan ?

  3. Bagaimanakah kualitas ketahanan luntur warna batik cap di griya batik Larissa Pekalongan terhadap keringat ?

  4. Bagaimanakah kualitas ketahanan luntur warna batik cap di griya batik Larissa Pekalongan terhadap panas penyetrikaan ?

BUNGA KECUBUNG TERWUJUD DALAM BUSANA PANGGUNG YANG ARTISRIK DENGAN HIASAN RANGKAIAN RESISTOR DAN MOTE

BAB I


PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang


Busana  mempinyai  hubungan  yang  erat  denga  menusia,  karena salah satu kebutuhan utamanya. Sejak jaman dahulu dalam kehidupan sehari- hari  manusia  tidak  bisa dipisahkan  dari  pemakaian  busana.  Dimasa  kini, pakaian tidak agi sebagai penutup tubuh, melinkan dibuat dengan desain menarik yang membutuhkan daya cipta, rasa, karsa, dan karya. Desain busana yang demikian ini adalah hasil kreatifitas manusia. Meskipun demikian sebuah busana juga perlu dibuat sedemikian rupa, agar nyaman.


ketika  dikenakan.seiing  dengan  perkembangan  jaman,  busana yang diciptaan oleh seorang desainer sangat beraneka ragam. Keanekaragaman busana yang diciptakan oleh seorang desianer dapat dilihat dari warna, mode, bahan, teknik pembuatan busana yang dapat dirangkai menjadi sebuah busana yang sangat menarik.


Seorang desainer akan menuangkan ide dan gagasannya untuk menghasilkan sebuah rancangan busana yang sangat menarik. Dari rancangan seorang desainer akan mencerminkan kepribadian seorang desainer atau kesukaan akan sesuatu hail dari desainerr tersebut. Keskaan desainer akan bahan-bahan yang tidak biasa dipakai untuk diolah menjadi suatu ornament atau  hiasan  pada  sebuah  busana,  akan  menimbulkan  suatu  keunikan  pada sebuah  rancangan  siatu  busana.  Dengan  meimbulkan  suatu  keunikan  pada rancangan busana yang sangat menarik yang lain dari pada yang lain, maka aan menjadi sebuah pusat perhatian ( cebter of interest ) dalam suatau pagelaran busana.


Sebuah  busana  yang  menimbulkan  keunikan  dapat  dijadikan sebuah pusat perhatian ( center of interest ) pada sebuah pagelaran, khususnya pagelaran musik yang sangat meakyat dengan masyarakat dari kalangan bawah sampai kalangan atas. Musik dangdut sangat erat dengan gemerlapnya sebuah bintang, sehingga bagi seorang penyanyi dangdut memerlukan sebuah busana panggung yang unik dan artistik. Busana panggung yang artistic. Busana panggung yang unik dan artistik dapat menimbulkan   rasa kagum bagi yang melihatnya. Karena unik dan artistic sangat langka dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini penulis ingin mencoba unutk membuat busana panggung dengan sumber ide bunga kecubung yang dihiasi dengan resistor yang mempunyai keunikan tersendiri.


Dalam  bahasa  Indonesia  disebut  kecubung  sedangkan  dalam bahasa sunda desebut kucubug. Bunga kecubung, bunganya besar yang menggantung pada tangkaianya. Bunga kecubung berbentuk terompet dan berwarna putih. Bunga kecubung ditanam sebagai tanaman perhiasan karena berbunga banyak dan memberi pemandangan yang sangat menarik. Bunga kecubung yang berbentuk teronpet dapat dijadikan sebagai seumber ide untuk busana panggung karena bagian mahkotanya dari bunga kecubung dapat berbung hingga mekar ujungnya sehingga dapat dijadikan sumber ide untuk busana panggung. Unutk menambah keindahanbusana panggung yang telah dirancangang akan dihiasi dengan rangkaian resiator yang telah dirangkai menjadi bentuk goemetris ( segitiga ) yang telihat gemerlap seperti bintang karena telah ditambahkan payet untuk menutupi kaki resistor, supaya terlihat menarik dan unutk menambah keindahan dari rangkaian resistor. Rangkaian resistor ini dipakai unutk hiasan bagi penulis rangkaian resistor belum ada yang menggunakan unutk hiasan pada busana.


Berdasarkan   uraian    diatas   penulis    ingin    menjadikan    bunga kecubung sebagai sumber ide busana panggung dan rangkaian resistror sebagai hiasan busana panggung yang artistic, kreatif, inovatif, sehingga menjadi karya cipta senia yang bernuansa unik dan menjadi awal yang baik bagi perkembanga busana selanjutnya serta menjadi karya yang berharga bagi masyarakat.

SUMBER IDE BUNGA KECUBUNG TERWUJUD DALAM BUSANA PANGGUNG BERNUANSA NATURAL DENGAN TEKNIK AIR BRUSH

BAB I


PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang


Bunga kecubung adalah bunga yang berbentuk corong dan terpancang pada dasar bunganya. Corong mempunyai 5 benang sari. Daun kelopaknya mempunyai bentuk seperti selendang dan sangat menonjol. Mahkota bunganya sangat panjang. Daun bunga ini berbentuk bundar telur agak memanjang seperti mata tombak. Bunga ini memiliki keunikan dan keindahan yang dapat dilihat dari bentuk dan warnanya sehingga dapat diambil sebagai sumber ide atau gagasan untuk menciptakan desain busana.


Berbusana merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia selain pangan (makan) dan papan (tempat tinggal). Fungsi busana sangat penting sekali bagi manusia selain untuk melindungi tubuh/kebutuhan kesehatan juga untuk memenuhi kebutuhan etika atau sopan santun dan nilai estetika atau keindahan.


Dewasa ini perkembangan dunia kesenian sangat berkembang pesat terutama perkembangan dunia panggung, dari seorang penyanyi , bintang film, ataupun lakon drama. Suksesnya dunia panggung menjadi inspirasi untuk menciptakan busana panggung yang mempunyai nilai artistik/seni. Busana ini juga harus mampu memperjelas karakter yang diperankan. Bahkan menjadi daya tarik dari pementasan itu sendiri. Pementasan ini bertujuan untuk menghibur penonton untuk menampilkan aktris/aktor yang diperlukan rias dan kostum, panggung/pentas serta ilustrasi (teknik suara dan sound effec).


Keindahan bunga kecubung  dan semarak dunia panggung melatarbelakangi pembuatan busana panggung ini yang dibuat dengan teknik pewarnaan air brush.


Air brush adalah teknik pewarnaan dengan menggunakan media udara sebagai kuas. Air brush baru berkembang pada akhir abad ke 19 tepatnya tahun 1879. Dewasa ini air brush banyak digunakan dalam dunia otomotif dan fotografi. Dalam pewarnaan  dengan  teknik  air  brush ini  menggunakan  zat  warna  yang mempunyai komposisi air lebih banyak. Kali ini penulis ingin melakukan percobaan pewarnaan dengan teknik air brush menggunakan zat warna procion. Zat warna procion termasuk golongan zat reaktif yaitu suatu golongan zat baru yang mengadakan gabungan dengan bahan yang diwarnai secara direct chemical linkage atau efek langsung kimia yang biasanya dipakai untuk proses pencelupan. Pemakaian zat warna ini karena zat warna yang telah siap pakai menggunakan pencampuran dengan air yang lebih banyak. Penulis mencoba menerapkan teknik air brush dan zat warna procion dalam pembuatan busana panggung pada bahan mori primisima. Mori   adalah kain putih yang dijadikan batik yang berasal dari serat alam baik kapas maupun sutra. Mori primisima merupakan golongan yang paling halus dari kain mori serat kapas.


B Tujuan dan Manfaat


Tujuan  pembuatan  busana  panggung  dengan  sumber  ide  bunga  kecubung bernuansa natural dengan teknik air brush adalah




  1. Mengetahui proses pewarnaan dengan teknik air brush.

  2. Mengetahui  proses  pewarnaan  kain  mori  primisima  dengan  zat  warna procion.

  3. Menghasilkan sebuah busana yang menarik dan indah dengan sumber ide bunga kecubung.

  4. Menganalisa  pembuatan  busana  panggung  dengan  sumber  ide  bunga kecubung dengan teknik air brush yang menggunakan zat warna procion.


Adapun manfaatnya adalah:




  1. Membentuk pola pikir yang kreatif dalam memaksimalkan daya bahan pewarnan dengan teknik celup dicoba dengan teknik lain dan kain mori sebagai  media menjadi  sebuah  karya  yang  bernilai  estetika  tinggi, menarik serta memiliki daya jual tinggi.

  2. Memberi tambahan informasi kepada masyarakat akan teknik pewarnaan lain dari zat warna procion yang biasanya untuk proses pencelupan.

  3. Memberi wawasan dan referensi yang secara tidak langsung mendorong pembaca untuk lebih kreatif  dalam  memproduksi  busana yang mempunyai nilai jual tinggi.

SARANG LABA-LABA SEBAGAI SUMBER INSPIRASI PEMBUATAN BUSANA PESTA DENGAN HIASAN PAYET

BAB I


PENDAHULUAN


A.  LATAR BELAKANG


Manusia  mempunyai kebutuhan pokok disamping  pangan dan papan yaitu pakaian.Pakaian digunakan untuk melindungi tubuh dari pengaruh iklim dan pengaruh luar. Busana   telah dikenal manusia dari zaman dahulu. Pada mulanya busana hanya berbentuk sederhana dan sekedar penutup tubuh,bahan yang digunakan juga dari kulit binatang. Proses pembuatanya juga sangat sederhana,tidak memerlukan jahitan,dan sebatas dililitkan  pada tubuh.


Setelah memiliki pemikiran yang lebih maju ,manusia mulai menciptakan model-model busana yang lebih bervariasi. Kemajuan zaman dari masa ke masa model busanapun berkembang dengan beralih peranan.Busana tidak hanya sebagai pelindung tubuh melainkan juga sebagai alt mempercantik diri serta menutupi kekurangan diri seseorang.


Keanekaragaman busana yang ada dewasa ini bayak didominan oleh busana wanita. Busana diciptakan sesuai denga kesempatan .misalnya busana pesta ,kerja, olahraga, rekreasi, pengantin, dll. Di antara mode busana yang ada sering mendapat perhatian khusus adalah busana pesta, yang mana busana ini merupakan busana khusus yang dikenakan kesempatan tertentu. Busana pesta dapat mendukung penampilan seseorang sehingga penampilan lebih menarik dan dapat menutupi kekurangannya.


Bahan untuk busana pesta biasanya dipilih yang berkesan mewah (glamour) meriah dan kontemporer. Bahan yang mewah ini perlu ditunjukkan dengan asesoris yang sesuai serta dengan eksen tertentu dengan kesempatan yang digunakan.


Kreativitas dan keuletan serta inovasi yag tinggi dengan pengetahuan yang cukup dibidang ini merupakan faktor penunjang kesuksesan dan pengembangan dunia fashion agar busan yang dihasilkan nantinya memiliki nilai ekonomis, seni dan keuletan yang tinggi sesuai dengan detail yang akan disampaikan oleh desainer.



Pencipta busana dapat di pengaruhi oleh beberapa sunber ispirasi. Ispirasi tersebut di peroleh dari alam atau busana yang sudah ada. Pada desain busana. Sumber ide dapat di kelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu:

  1. Sumber ide dari pakaian penduduk dunia,atau pakaian daerah di Indonesia.

  2. Sumber ide dari benda benda alam misalnya gunung, sungai, flora, fauna.

  3. Sumber ide dari peristiwa-peristiwa nasional maupun internasional, misalnya pakaian olah raga dari peristiwa Asean Games (Hartatiati Sulistio 2004: 103).


Alam yang terdiri dari aneka ragam denda dapat di jadikan sumber inspirasi pembuatan busana pesta. Salah satu benda yang ada di alam yang menarik hati penyusun adalah bentuk sarang laba-laba. Keunikan dan keindahan  sarang  lanba-laba  terletak  pada  garis  lengkung  yang  saling berkaitan satu sama lain sehingga bersifat alamiah menimbulkan ide dalam pembuatan busana pesta.

PEMBUATAN BUSANA PENGANTIN MUSLIMAH DENGAN VARIASI BAHAN PLEATS

BAB I


PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang


Salah satu kebutuhan manusia di dunia yang harus diutamakan yaitu busana, yang dapat menutup tubuh dan melindungi seseorang dari segala musim  ( musim  hujan  dan  musim  kemarau),  melindungi  dari  sengatan matahari, menutupi kekurangan atau kelebihan tubuh seseorang.


Beberapa tahun belakangan ini, pakaian muslimah semakin tren, tidak hanya dalam hal pertemuan-pertemuan khusus yang bernuansakan religius misalnya  peringatan  hari-hari  besar  agama  Islam,  melainkan  dalam  pesta ulang tahun, pesta pernikahan, arisan dan acara-acara lainnya. Semakin banyaknya wanita muslim mengenakan busana muslim, menandakan adanya kesadaran beragama yang meningkat. Berbusana muslim diyakini juga merupakan bentuk ibadah, karena melaksanakan perintah Allah SWT. Berbusana muslimah juga merupakan bentuk pengalaman akhlak terhadap dirinya sendiri, menghormati harkat dan martabat dirinya sendiri, sebagai manusia yang berbudaya.


Sesuai    perkembangan    mode,    model    busana    terus    mengalami perkembangan terutama busan pengantin, karena di hari pernikahan bagi seorang wanita merupakan hari yang paling indah dan tak terlupakan, oleh karena itu dalam pemilihan busana yang dikenakandalam acara pernikahanpun menjadi  sesuatu  yang  sangat  penting.  Busana  pengantin  biasanya  dipilih model dan kreasi hiasan yang berkualitas, yang dapat menimbulkan kesan mewah, dan memiliki nilai istimewa. Kurangnya perhatian dan minat para produsen  busana  dalam  menyediakan  busana  penganti  untuk  muslimah menjadi satu perhatian, karena dapat membantu para pengantin muslimah dalam memilih busana di hari pernikahannya yang sesuai dengan kriteria busana muslimah.


Kriteria busana muslimah pada umumnya, yaitu :




  1. Bagian tubuh yang kelihatan hanya wajah dan telapak tangan.

  2. Bahan yang dipakai tidak tipis / tembus pandang.

  3. Model tidak ketat ( agar tidak menampakkan bentuk tubuh / lekuk tubuh yang sesungguhnya).

  4. Tidak menyerupai pakaian laki-laki.

  5. Tidak menyerupai pakaian pendeta ( Tim Busana GPU, 2002 : 5)


Contoh busana muslimah pada umumnya yaitu, gaun panjang yang longgar, maupun blus dan rok, dengan ukuran tubuh yang lebih besar dan menutupi seluruh tubuh. Busana juga memiliki fungsi, yaitu :




  1. Untuk menutup aurat.

  2. Sebagai perhiasan.

  3. Sebagai identitas ( Tim Penyusun, 2001 : 6)


Dilihat dari fungsi busana tersebut, maka pembuatan busana pengantinpun merupakan kebudayaan yang dipelajari dari zaman ke zaman. Banyaknya wanita muslimah yang berjilbab saat ini, sehingga mendorong perancang mode menciptakan berbagai variasi busana pengantin muslimah  yang  anggun,  tanpa  meninggalkan  kriteria  busana  muslimah. Dengan variasi model dan bahan busana pengantin muslimah mempermudah dan  memperbanyak  pilihan  penampila seorang muslimah di hari pernikahannya sesuai dengan keinginannya.


Dari kriteria yang telah disebutkan diatas, busana pengantin muslimah yang dibuat adalah Busana Pengantin Muslimah Dengan Variasi Bahan Pleats. Busana pengantin ini dibuat seperti gaun pengantin barat pada umumnya yang pas pada badan. Untuk menyamarkan bentuk gaun yang pas, maka ditutup dengan variasi bahan pleats. Gaun yang dibuat yaitu, gaun dengan garis hias empire ditambah dengan variasi bahan pleats yang dihiasi payet-payet pada bagian luar gaun. Pleats atau lipat akordion digunakan secara luas sebagai salah satu detail untuk menciptakan rasa feminim dan lembut. Pleats ini juga diterapkan secara elegan sebagai aksen pada desain sederhana gaya Yunani dan model tahun 50-an. Bagia atas gaun dihiasi bordir dan payet, yang dapat menigkatkan nilai busana pengantin muslimah tersebut. Sehingga menjadi mewah dan anggun.


Pemilihan bahan dan warna busan pengantin harus disesuaikan dengan pemakainya, yaitu warna kulit, tinggi badan, gemuk atau kurus seseorang yang akan mengenakannya. Bahan yang digunakan dalam pembuatan busana pengantin muslimah yang sesuai dengan kriteria busana muslimah pada umumnya yaitu tidak boleh transparan, misalnya kain tafeta, kain satin, kain taisilk, dan sebagainya. Kain yang digunakan dalam pembuatan busana pengantin muslimah ini yaitu kai tafeta. Sedangkan bahan variasi yang digunakan yaitu kain sifon yang mudah dibuat pleats dan hasilnya tidak kaku. Dengan ditambah payet sehingga memperjelas garis pleats tersebut.


Sesuai dengan perkembangan mode beberapa tahun belakangan ini, warna-warna yang digunakan untuk busana pengantin tidak hanya putih, melainkan warna vavorit dari pengantin tersebut, misalnya merah, biru, hijau, orange, pink, dan lain-lain. Warna yang dipilih dalam pembuatan busana pengantin ini yaitu warna orange muda yang divariasi dengan hiasan payet berwarna hijau tua.


Busana pengantin biasanya diselesaikan dengan sistem tailoring, yaitu teknik penyelesaiantingkat tinggi, yang banyak menggunakan tangan. Hasil yang diperoleh dari sistem tailoring lebih halus dan rapi.


Dengan uraian yang telah dikemukakan di atas, maka penyusun ingin membuataTugas Akhir dengan judul “Pembuatan Busana Pengantin Muslimah Dengan Variasi Bahan Pleats”.

PEMBUATAN BUSANA PANGGUNG DENGAN SUMBER IDE POHON CEMARA

BAB I


PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang


Busana merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia penting untuk melindungi tubuh dan untuk memenuhi kesusilaan. Busana adalah sesuatu yang dikenakan pada tubuh (Wasia Roesbani dan Roesmini S, 1984 : 1). Busana memiliki model untuk selalu berubah, berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi. Fungsi dari busana tidak lagi sebagai penutup tubuh tetapi juga memberikan keindahan bagi seseorang yang memakai busana tersebut, karena dapat menutup kekurangan- kekurangan dari pemakai itu sendiri. Pembuatan busana yang menarik membutuhkan daya cipta, karsa dan karya seni tinggi. Meskipun demikian sebuah busana yang dibuat harus nyaman ketika dikenakan.


Perkembangan dunia kesenian saat ini banyak ditemui keunikan tersendiri  yang  menimbulkan  keinginan  seniman  untuk  memakai  busana sesuai dengan peran yang dilakoninya. Misalnya dalam busana Panggung perlengkapan pementasan diatas panggung harus mempunyai nilai artistik.


Busana panggung yang sesuai dengan karakter busana fantasi untuk pementasan artis, penyanyi dan penari misalnya pada acara KD show, KDI, Kondang  In  dan  masih  banyak  lagi  acara  lainnya.Pada  acara  tersebut diperlukan model yang unik dan artistik. Pada kesempatan ini penulis ingin mencoba untuk membuat busana panggung dengan sumber ide Pohon Cemara sehingga  terwujud  dalam  busana  panggung  yang  mempunyai  keunikan tersendiri yang terkesan alami dan artistik.


Sumber alam yang ada disekitar  kita dapat memberikan peluang bagi manusia  untuk  menciptakan  sesuatu  yang  baru  sebagai  mata  pencaharian tetapi dapat juga dijadikan sebagai sumber ide. Bahan yang bersumber dari alam dapat digunakan menjadi sesuatu yang baru yang menghasilkan produk baru  dengan  motif menarik dan unik. Apalagi perkembangan    mode masyarakat modern saat ini sangat antusias dan tertarik bahan busana dari alam seperti serat sutera, serat kapas, serat rami, serat abaca dan lain sebagainya.


Dalam pembuatan TA ini penulis mencoba membuat busana panggung yang menyerupai Pohon Cemara, maka penulis mengangkat judul “Pembuatan Busana Panggung dengan Sumber Ide Pohon Cemara”.


B.  Permasalahan


Permasalahan yang akan penyusun bahas dalam Tugas Akhir ini adalah:




  1. Bagaimanakah rancangan busana panggung dengan sumber ide pohon cemara dan cara menerapkan sumber ide Pohon Cemara dalam sebuah busana panggung?

  2. Bagaimana proses pembuatan busana Panggung dengan Sumber Ide Pohon Cemara?

PEMBUATAN BUSANA PANGGUNG DENGAN HIASAN SISIK IKAN

BAB I


PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang Masalah


Berbusana merupakan kebutuhan pokok manusia sesudah makan, sehingga pembuatan busana telah dipelajari dari jaman kuno dan sampai sekarang masih dipelajari. Seiring dengan berkembangnya pengetahuan dan kemajuan teknologi yang semakin meningkat, banyak orang semakin terampil dalam menciptakan suatu hal untuk memenuhi kebutuhannya, terutama yang berkaitan dengan busana.


Keanekaragaman busana, mode busana wanitalah yang paling banyak mendominasi dunia fashion. Bermacam-macam model busana wanita selalu mewarnai perkembangan mode dewasa ini dibandingkan dengan busana pria, dari model yang sederhana sampai model yang mewah.


Sejalan dengan berkembangnya mode yang semakin maraknya dengan berbagai model busana dikalangan masyarakat pada umumnya sehingga peneliti  mengambil judul  Tugas  Akhir  “Pembuatan  Busana  Panggung dengan Hiasan Sisik Ikan”. Busana panggung adalah segala sesuatu yang dipakai dari ujung rambut sampai ujung kaki sebagai pelengkap pada saat pertunjukan diatas pentas atau panggung. Namun yang membedakan busana panggung dengan busana yang lain adalah pemilihan bahan yang digunakan. Dalam  pemilihan  bahan  untuk  proses  pembuatan  busana  panggung  yaitu menggunakan bahan   yang memiliki nilai istimewa bagi pemakainya antara lain busana panggung didisain sederhana, tetapi dihiasi dengan  hiasan yang kelihatan mewah, glamor serta  indah seperti dihiasi dengan berbagai payet, manik dan aksesoris.


Busana panggung dapat dibuat dengan bahan yang sederhana tidak harus bahan yang mahal, namun tetap memiliki nilai keindahan serta nilai seni yang tinggi. Seperti halnya busana panggung dibuat dengan hiasan sisik ikan. Sisik adalah lapisan kulit yang keras dan berbentuk keping-keping. Selama ini masyarakat mempunyai anggapan bahwa sisik ikan berbau amis, menjijikan, dan mereka menganggap sisi ikan tersebut dibuang. Dalam proses pembuatan busana panggung, peneliti menggunakan sisik ikan kakap yang mempunyai warna yang putih serta berkilau yang akan dipasangkan pada busana dari bahan Tafetta yang dikombinasikan dengan bahan sifon. Sisik ikan tersebut dibuat dengan   diberi warna yang senada dengan bahan utama dan dilapisi melamin supaya nampak mengkilap untuk menghasilkan hiasan sisik ikan yang menarik serta terkesan glamour dan anggun, tidak kalah menariknya dengan busana panggung lainnya.


Pemanfaatan sisik ikan kakap untuk hiasan belum banyak dikenal oleh masyarakat, orang merasa enggan untuk mengkonsumsi sisik ikan twersebut karena mempunyai bau yang amis.Jenis ikan kakap antara lain ikan kakap merah dan ikan kakap putih. Namun peneliti dalam membuat hiasan busana panggung  menggunanakan  sisik  ikan  kakap  putih.  Pencarian  sisik  ikan tidaklah sulit, kita dapat mencarinya di Tempat Pelelangan Ikan.


B.  Permasalahan


Masalah yang akan diuraikan dalam Tugas Akhir ini adalah :




  1. Bagaimana disain busana panggung dengan hiasan sisik ikan yang terdiri dari dua potong ?

  2. Bagaimana proses pembuatan busana panggung dengan hiasan sisik ikan ?

  3. Bagaiman cara pemeliharaan busana panggung dengan hiasan sisik ikan ?

PEMANFAATAN SPONS MANDI DALAM PEMBUATAN BUSANA PESTA

BAB I


PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang


Busana merupakan kebutuhan pokok manusia yang berfungsi sebagai bahan untuk menutupi tubuh agar terlindung dari segala macam gangguan misalnya: panas, dingin, binatang-binatang kecil dan sebagainya. Manusia mengenal busana sejak zaman purbakala, mula-mula busana dibuat dari bahan yang sangat sederhana yaitu terbuat dari bahan alam, seperti kulit kayu, kulit binatang dan daun-daunan. Sedangkan bahan perangkai terbuat dari serat tumbuh- tumbuhan serta alat perangkai (jarum) terbuat dari tulang yang keras dan runcing.


Perkembangan mode busana telah dipelajari dari zaman-kezaman dan sampai sekarang masih dipelajari sejalan dengan perkembangan zaman dan semakin tingginya peradaban suatu bangsa, makin tinggi pula perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Busana tidak lagi hanya berfungsi sebagai penutup tubuh saja, melainkan diperlukan keserasian antara busana itu sendiri dengan si pemakainya. Sehingga busana itu sekaligus membantu menyulap pandangan mata seseorang (memperbaiki bentuk tubuh) dan memperindah diri, karena busana merupakan tata rias badan dan cermin jiwa serta watak seseorang. Dalam tugas akhir ini penulis mencoba membuat disain busana pesta dengan memanfaatkan  spons  mandi,  maka  penulis  mengangkat  judul  ”Pemanfaatan Spons Mandi Dalam Pembuatan Busana Pesta”. Disain busana pesta ini memiliki pusat perhatian di bagian bawah yaitu rok yang terbuat dari spons mandi. Melihat fenomena tersebut maka banyak orang dan para disainer berlomba-lomba menciptakan busana sesuai dengan perkembangan mode yang sedang trend dan banyak digemari oleh masyarakat pada saat itu.


Berbagai macam model busana pesta dari model yang sederhana sampai model yang mewah sudah banyak dijumpai dimana saja baik di butik ataupun di rumah mode yang khusus menyediakan busana-busana pesta. Sebenarnya perbedaan busana pesta dengan busana sehari-hari hanya terletak pada pemilihan bahan dan aksen hiasan yang digunakan. Bahan yang digunakan untuk pesta biasanya berkesan mewah. Contohnya yaitu satin, sutera, thai silk dan sifon. Aksen yang digunakan untuk hiasan busana pesta tidaklah harus mahal karena hiasan ini bisa dibuat dari bahan yang relatif murah, kurang bernilai menjadi bernilai tinggi dengan sedikit sentuhan kreativitas dan inovasi. Contoh bahan hiasan tersebut yaitu spons mandi.


Semua  orang  belum  tentu  mengenal  spons  mandi,  oleh  karena  itu penulis mengenalkan spons mandi yang terbuat dari bahan sintetis, benda ini berbentuk jaring, panjang dengan warna dan ukuran yang beragam. Pada awalnya spons mandi hanya digunakan sebagai alat bantu untuk meluruhkan kotoran dan minyak yang menempel pada kulit (file:/^\komputer-06\c\spons%201htm). Akan tetapi dengan adanya kreatifitas, spons mandi yang tadinya merupakan bahan pelengkap mandi berubah menjadi beragam kerajinan seperti tas, tali rambut dan busana pesta yang akan dibuat secara unik dan menarik.


Salah  satu  wujud  dari  adanya  kretifitas  dan  inovasi  tersebut  dapat diamati pada pemanfaatan spons mandi dalam pembuatan busana pesta dengan aksentuasi lipit, payet dan renda bordir. Melihat kenyataan tersebut penulis bermaksud membuat busana pesta dengan pemanfatan spons mandi dengan cara ditempel dan menutupi keseluruhan permukaan rok. Bahan berupa spons mandi mempunyai beragam warna dengan harga relatif murah Rp 3.000,00 perbuah dengan ukuran 1,25 cm x 10 cm.


Mencermati fenomena tersebut penulis tertarik untuk memanfaatkan spons mandi dari bahan sintetis sebagai sumber kreativitas dan ide dalam pembuatan Tugas Akhir dengan judul ”Pemanfaatan Spons Mandi Dalam Pembuatan Busana Pesta”.


1.   Penegasan Istilah


a.   Pemanfaatan Spons Mandi


Pemanfaatan adalah membuat suatu barang yang dapat berguna (W.J.S.Poerwadarminta, 1984: 630). Spons adalah merupakan suatu bahan sintetis. Bahan adalah barang yang akan dibuat (W.J.S.Poerwadarminta, 1984:  74).  Sintetis  adalah  karet  buatan  (W.J.S.Poerwadarminta,  1984: 952). Mandi adalah salah satu cara membersihkan diri (Rostamailis, 2005: 113).


b.   Pembuatan Busana Pesta


Pembuatan  adalah  proses,  cara  membuat  (Lukman  Ali,  2002: 148).  Busana  adalah  segala  sesuatu  yang  dikenakan  pada  tubuh,  baik dengan   melindungi   tubuh   maupun   memperindah   penampilan   tubuh (Wasia Rusbani,   1983: 8). Busana juga dapat diartikan sebagai salah satu yang dipakai pada tubuh dengan cara yang indah dan bahannya bagus (Daryanto  SS,  1998:  110).  Pesta  adalah  perayaan,  perjamuan  makan minum (W.J.S.Poerwadarminta, 1984: 747).


Berdasarkan istilah tersebut dapat dinyatakan bahwa pemanfaatan spons mandi  dalam  pembuatan  busana  pesta  yaitu  proses  atau  cara  membuat  suatu barang yang dapat dipakai pada suatu perayaan dengan bahan pendukung berupa spons mandi yang merupakan barang yang dibuat dari karet buatan yang membantu meluruhkan kotoran dan minyak yang menempel pada kulit.

PEMANFAATAN LIMBAH GELAS PLASTIK PADA BUSANA KREASI BARU

BAB I


PENDAHULUAN


A.  LATAR BELAKANG MASALAH


Busana merupakan segala sesuatu yang dikenakan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Busana sebagai kebutuhan pokok setiap orang seperti kebutuhan tempat tinggal dan pangan. Menurut Wasia Rusbani (1984 : 4) busana disamping sebagai syarat kesehatan, juga berfungsi sebagai penutup tubuh, melindungi tubuh, menambah nilai estetika, memiliki  rasa  keindahan,  memenuhi  syarat  peradaban  dan  kesusilaan. Jenis busana dibagi menjadi bermacam-macam fungsi serta kegunaannya. Jenis busana yaitu, kesempatan pemakai (kerja, santai dan lain-lain), usia (anak-anak, dewasa, remaja dan orang tua) baik perempuan dan laki-laki. Seiring dengan perkembangan jaman, busana yang adapun semakin berkembang sesuai dengan perkembangan mode yang beraneka ragam, baik warna, model, bahan dan  teknik pembuatan busana.


Para perancang busana selalu menampilkan mode serta trend warna terbaru yang simple dan menarik konsumen. Pengaruh kemajuan teknologi yang  ada  berbagai macam,  misal media komunikasi yang     dapat mempercepat majunya perkembangan busana diseluruh dunia. Perancang mode busana layak menggunakan fungsi kemajuan teknologi untuk memperkenalkan  hasil  rancangan  busana  kreatif  mereka.  Busana  yang mereka tampilkan dalam acara pameran peragaan busana pada umumnya diambil dari pemanfaatan limbah. Busana ini merupakan kebutuhan utama serta dapat menunjang profesi misalnya, penari, artis dan lain sebagainya Limbah yang semula mencemarkan dan merusak lingkungan sekarang dimanfaatkan sebagai inspirasi rancangan busana. Limbah gelas plastik yang dipakai sebagai hiasan pengganti atau sebagai busana kreasi baru baik estetika atau fungsional dapat menambah nilai keindahan pada busana tersebut. Banyaknya limbah-limbah yang dimanfaatkan sebagai busana sangat mudah didapatkan seperti kaleng minuman, serutan, keping VCD, kerang, sisik ikan, sedotan plastik, kantong plastik, gelas plastik minuman ( aqua, ades, total) dan lain-lain.


Gelas plastik merupakan bahan multi guna yang sangat banyak digunakan dalam  kehidupan  sehari-hari.  Limbah  plastik  minuman misalnya Aqua dipakai dalam bidang pangan dan jarang dimanfaatkan dalam bidang sandang. Namun sesungguhnya bahan plastik dapat diolah menjadi bahan yang menarik untuk pakaian. Biasanya bahan plastik juga sudah  diwujudkan  dalam  bentuk  busana  meski  dalam presentasi  kecil, contohnya seperti mantel, jas hujan, tas, aksesories dan lain sebagainya. Gelas plastik minuman misalnya aqua digunakan sebagai penghias busana atau  pengganti  bahan  utama  busana  (pada  seluruh  busana)  tersebut dipotong dan dibentuk sedemikian rupa dijahit sehingga busana tersebut terlihat bercahaya apabila memakai warna aslinya. Untuk menambah nilai seni tinggi dari gelas plastik tersebut maka perlu ditambah dengan motif, sehingga terkesan mewah. Sifat dari gelas plastik minuman adalah kenyal terhadap daya benturan misalnya jarum jahit, sehingga proses menjahit perlu memilih mata jarum lebih kecil / runcing namun kuat.


Kreatifitas dan inovatif yang tinggi merupakan kiat sukses dalam pekerjaan. Bukan hanya dalam dunia fashion saja, setiap pekerjaan membutuhkan hal itu. Namun tidak semua orang menyadari bahwa kreatifitas pada seseorang baru muncul apabila seseorang tersebut mau mencoba sesuatu yang baru sesuai dengan kreasi dan daya imajinasinya. Bakat hanya ada sekian persen sebagai penunjang kesuksesan dalam pekerjaan dan kreatifitaslah yang mendominasikan dari kesuksesan tersebut. Memang  secara alamiah tidak semua orang biasa mengembangkan kreatifitas yang dimilikinya.


Penulis bermaksud membuat suatu busana kreasi baru dengan memanfaatkan limbah gelas plastic minuman ( misal ; Aqua, Ades, Total dll ) sebagai sumber kreatifitas dan ide dalam pembuatan tugas akhir dengan judul : “Pemanfaatan Limbah Gelas Plastik Pada Busana Kreasi Baru”. Alasan memilih gelas plastik minuman sebagai bentuk adanya inspirasi pembuatan busana kreasi baru untuk mengkreasikan gelas plastik minuman selain mencemarkan lingkungan. Busana kreasi baru dari gelas plastik minuman ini menggunakan sumber ide bunga Gerbera sebagai teknik penataan dalam busana kreasi baru menjadi sebuah inspirasi penulis untuk menerapkannya dalam pembuatan busana kreasi baru.


B.  RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan uraian yang dikemukakan diatas dapat diidentifikasi permasalahan, sebagai berikut :




  1. Bagaimana proses pembuatan busana kreasi baru dari gelas plastik dengan cat motif ?

  2. Bagaimanakah cara pemeliharaan busana kreasi baru dari gelas plastik?

HUBUNGAN FASILITAS BELAJAR DENGAN HASIL BELAJAR MENJAHIT BLUS PADA SISWA KELAS I JURUSAN TATA BUSANA DI SMK N 1 TEGAL TAHUN AJARAN 2005-2006

BAB I


PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang Masalah


Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah salah satu bentuk satuan pendidikan menengah yang diselenggarakan untuk memasuki lapangan kerja dan untuk mengembangkan profesionalisme. Tujuan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Sekolah Menengah Kejuruan Negeri I Tegal merupakan salah satu sekolah kejuruan yang memiliki empat jurusan, antara lain: jurusan tata busana, restoran, tata kecantikan dan akomodasi perhotelan. Penelitian ini hanya mengambil pada jurusan tata busana, karena berbusana merupakan salah satu kebutuhan pokok yang harus dipenuhi oleh setiap orang, hal tersebut yang melatarbelakangi perlu adanya pemikiran untuk menciptakan karya-karya baru yang erat kaitannya dengan busana.


Menurut kurikulum (2004:6), Tujuan dari program keahlian tata busana adalah (1) Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik, (2) Mendidik peserta didik dengan keahlian    dan ketrampilan dalam program keahlian tata busana, sehingga dapat bekerja, baik   secara mandiri atau mengisi lowongan pekerjaan yang ada di dunia usaha dan dunia industri sebagai tenaga kerja tingkat menengah,  (3)  Mendidik  peserta didik  agar  mampu    memilih     karier, berkompetensi dan mengembangkan sikap profesionalisme dalam program keahlian tata busana dan membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan sebagai bekal bagi yang berminat untuk melanjutkan pendidikan. Untuk mencapai tujuan tersebut disusunlah kurikulum keahlian tata busana tahun


2004. Isi kurikulum tersebut meliputi program normatif, adaptif dan produktif. Dari ketiga program isi kurikulum tersebut, program produktif salah satu variabel yang diambil sebagai bahasan. Adapun program produktif meliputi: (1) Memberikan pelayanan prima, (2) Melakukan pekerjaan dalam lingkungan sosial, (3) Mengikuti prosedur K3, (4) Mengambar busana, (5) Melakukan pengepasan, (6) Menjahit dengan mesin, (7) Menyelesaikan busana dengan jahitan tangan, (8) Membuat hiasan busana, (9) Melakukan penyempurnaan busana, (10) Memelihara alat  jahit,  (11)  Memilih/membeli  bahan  busana,  (12)  Memotong  bahan,  (13) Mengukur  tubuh,  (14)  Membuat  pola  busana  teknik  konstruksi.  Kaitannya dengan penelitian ini maka menjahit dengan mesin (no 6) yang akan dikaji.


Proses belajar menjahit blus di SMK Negeri I Tegal menerapkan sistem pengajaran antara teori dan praktek. Proses belajar menjahit blus supaya dapat berjalan dengan lancar maka diperlukan fasilitas belajar yang memadai dari sekolah. Menurut Radias Saleh (1991:21) fasilitas belajar adalah segala sesuatu yang diperlukan dalam proses belajar mengajar agar pencapaian tujuan belajar lancar, efektif dan efisien, artinya fasilitas belajar yang diperlukan dalam proses belajar menjahit blus, meliputi penyediaan ruang praktek, perlengkapan menjahit, alat bantu menjahit, penataan peralatan dan perlengkapan menjahit dan buku-buku penunjang praktek. Perlengkapan menjahit berupa macam-macam mesin yaitu mesin jahit biasa, mesin serbaguna, mesin pembuat lubang kancing, mesin penyelesaian, sedangkan alat bantu menjahit dapat berupa: pita ukur, mistar, macam-macam gunting, pendedel, pemotong benang, meja potong, rader, karbon jahit, kapur jahit, jarum pentul, jarum jahit, jarum tangan, tempat menyemat jarum, cermin, boneka jahit, pengukur panjang rok, setrika listrik, papan setrika dan alat untuk memampat. Diharapkan dengan kondisi ruang dan peralatan yang baik diharapkan siswa dapat belajar efektif, artinya belajar dapat berlangsung dengan waktu yang cepat, tetapi mendapatkan hasil belajar yangmaksimal sesuai dengan apa yang telah dirumuskan dalam tujuan belajar sebelumnya.


Menurut Nana Sujana (2001:55) Hasil adalah usaha yang telah dicapai melalui penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang dijabarkan oleh mata pelajaran yang lazimnya ditunjukan dengan nilai angka yang diberikan oleh guru. Sedangkan belajar adalah suatu usaha yang dilakukan sungguh-sungguh dengan sistematik, mendayagunakan semua potensi yang dimiliki baik fisik, mental serta panca indera, otak dan anggota tubuh yang lain. Jadi hasil belajar adalah pencapaian usaha secara sungguh-sungguh melalui penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang dijabarkan oleh mata pelajaran lazimnya ditunjukan dengan nilai atau angka oleh guru. Hasil belajar yang dimaksud adalah hasil belajar kompetensi menjahit dengan mesin.


Menjahit blus adalah salah satu kompetensi dari program produktif yang didalamnya mempelajari tentang cara menjahit blus dengan teknik yang baik dan benar mulai dari persiapan, proses, dan hasil. Kegiatan belajar menjahit blus apabila didukung fasilitas belajar menjahit yang  baik  dan  lengkap  dari  sekolah  berupa ruang  praktek  dengan  fasilitas perlengkapan dan peralatan menjahit yang baik dan lengkap ditambah buku-buku penunjang praktek busana, maka perolehan hasil belajar cenderung lebih  baik, tetapi apabila tidak didukung fasilitas belajar yang  baik dan lengkap, maka perolehan  hasil belajar kurang baik.


Berdasarkan praktek pengalaman lapangan fasilitas yang ada di SMK Negeri I Tegal sudah baik tetapi setelah dilakukan studi awal untuk penelitian fasilitas belajar yang ada mengalami peningkatan baik dari segi jenis maupun jumlah.begitu juga hasil belajar menjahit. Landasan pemikiran di atas, maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang “Hubungan Fasilitas Belajar dengan Hasil Belajar Menjahit Blus Siswa Kelas I Jurusan Tata Busana Di SMK Negeri I Tegal Tahun Ajaran 2005-2006”.


B.  Permasalahan




  1. Adakah hubungan fasilitas belajar dengan hasil belajar menjahit blus siswa kelas I jurusan tata busana di SMK Negeri I Tegal tahun ajaran  2005-2006?

  2. Seberapa besar hubungan fasilitas belajar dengan hasil belajar menjahit blus siswa kelas I jurusan tata busana di SMK Negeri I Tegal tahun ajaran 2005-2006?

HUBUNGAN ANTARA KINERJA MENJAHIT DENGAN SIKAP WIRASWASTA PADA KELOMPOK BELAJAR MENJAHIT DI KELURAHAN BONGSARI KECAMATAN SEMARANG BARAT

BAB I


PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang


Pendidikan   pada    dasarnya    merupakan    suatu    usaha    sadar   untuk membentuk manusia Indonesia yang berkualitas, yaitu manusia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian unggul, mandiri, jujur, berpikir maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, disiplin, mempunyai etos kerja tinggi, profesional, bertanggung jawab dan produktif. Apabila dicermati maka dapat dipahami bahwa tujuan pendidikan dilihat dari sektor  bidang  usaha,  adalah  untuk  mengembangkan  kemampuan  warga belajar sehingga mempunyai keterampilan, berdisiplin, beretos kerja tinggi, profesional, bertanggung jawab dan produktif.


Sebagai salah satu sub sistem dari sistem pendidikan nasional, penyelenggaraan pendidikan luar sekolah berperan penting dalam pencapaian tujuan pendidikan nasional. Pendidikan luar sekolah diselenggarakan dengan maksud untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan yang berorientasi pada  bidang   kerja  tertentu.   Berbeda    dari   pendidikan    jalur    sekolah, penyelenggaraan pendidikan luar sekolah lebih menekankan pada pemberian bekal kepada warga belajar agar mereka mampu menghidupi dirinya sendiri (Pidarta,1997:22). Hal ini berarti bahwa dengan adanya pendidikan luar sekolah, warga belajar akan mempunyai sumber penghidupan yang layak bagi dirinya dan atau keluarganya. Salah satu contoh dari pendidikan luar sekolah yang ada di masyarakat adalah kursus atau kelompok belajar menjahit. Kelompok belajar merupakan kumpulan warga yang belajar dan berusaha mempelajari sesuatu bidang ilmu pengetahuan atau keterampilan pada waktu dan tempat yang telah ditentukan (Depdikbud,1996:5).


Kelompok    belajar menjahit   ini    diselenggarakan    dengan    tujuan memberikan pengetahuan dan keterampilan pada bidang jahit menjahit kepada warga belajar, dengan harapan agar mereka mampu bekerja atau menciptakan lapangan kerja pada bidang jahit menjahit, misalnya modiste, konveksi, tailor dan sebagainya. Bagi warga masyarakat yang belum memiliki pekerjaan atau sedang mencari pekerjaan namun tidak memiliki keterampilan khusus, keberadaan kelompok belajar menjahit akan sangat membantu sebagai tempat untuk menimba ilmu menjahit untuk dijadikan modal keterampilan dalam mencari lapangan pekerjaan. Sedangkan bagi warga masyarakat yang sudah mempunyai bakat atau kemampuan menjahit, keberadaan kelompok belajar menjahit dapat dijadikan sebagai tempat untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya, sehingga  bakat yang  dimilikinya  dapat   diasah  dan dikembangkan secara lebih terarah.


Berdasarkan hasil observasi awal peneliti, kelompok belajar menjahit yang ada di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat diselenggarakan oleh pemerintah kelurahan dibantu dari pihak luar yaitu Lembaga Sosial Masyarakat Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata (LSM Soegijapranata). Biaya  kursus    sepenuhnya    dibebankan    oleh    LSM    tersebut,    sehingga masyarakat yang ikut tidak dipungut biaya apapun. Kurikulum pelatihan yang diberikan disamakan dengan kurikulum yang ada pada kursus menjahit di luar, dengan harapan agar kualitas kursus yang diselenggarakan tidak kalah dengan kursus menjahit yang lain. Dalam pelaksanaannya, LSM selain mengundang tutor, juga memberikan dana atau modal usaha yang dapat digunakan oleh warga belajar yang ingin membuka usaha pada bidang jahit menjahit. Selain itu juga disediakan pula peralatan latihan seperti mesin jahit, mesin obras dan bahan-bahan pendukung lainnya. Modal usaha dan peralatan yang diberikan oleh LSM tersebut pada dasarnya merupakan pinjaman lunak, karena modal tersebut     dapat    dikembalikan  jika  warga  belajar telah    mampu  untuk mengembalikan dan tidak disertai dengan bunga pinjaman. Kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari diikuti oleh 30 warga belajar dari lingkungan Bongsari. Warga masyarakat yang ingin menjadi warga belajar di kelompok belajar menjahit tidak dibatasi umur dan jenis kelamin. Hal ini merupakan kebijakan pemerintah kelurahan dengan harapan  agar banyak warga masyarakat yang ikut prgoram tersebut. Pertemuan kelompok belajar diselenggarakan sebanyak 2 kali seminggu, yaitu hari Kamis dan Minggu, bertempat  di  Balai  Pertemuan  Warga  RW  4.  Pemberian  materi  menjahit diasuh oleh Pimpinan Modiste Alwine Semarang.


Idealnya, setelah mengikuti kelompok belajar menjahit, warga belajar akan mempunyai kinerja menjahit yang lebih baik dan dapat menciptakan lapangan kerja baru. Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya (Mangkunegoro,2000:69). Namun demikian, dalam pelaksanaannya di lapangan, setelah selesai mengikuti kelompok belajar menjahit, banyak warga belajar yang masih bekerja pada orang  lain,  dan  bahkan  lebih  disayangkan  lagi  bahwa  pekerjaan  mereka banyak yang tidak sesuai dengan bidang jahit menjahit. Warga belajar yang kurang berhasil dalam bidang menjahit tersebut pada umumnya kurang mempunyai minat dalam mengikuti kursus menjahit. Hal ini muncul sebagai akibat   dari   tidak   adanya   perhatian   dan   penjaringan   minat,   pada   saat penerimaan warga belajar. Kondisi ini menunjukkan bahwa mereka kurang mempunyai  sikap  berwiraswasta dalam  bidang   jahit    menjahit. Sikap wiraswasta  dapat diartikan   sebagai    kemampuan    melihat    dan   menilai kesempatan-kesempatan bisnis, mengumpulkan sumber daya yang dibutuhkan guna  mengambil  keuntungan  dari  padanya  dan  mengambil  tindakan  tepat, guna memastikan sukses (Suharto,1998:2). Meskipun sudah diberikan bantuan modal untuk membuka usaha jahit, namun kurang dimanfaatkan oleh warga belajar secara optimal.


Berdasarkan hasil wawancara dengan tutor kelompok belajar menjahit di Bongsari,  kinerja  menjahit  yang  ditunjukkan  oleh  warga  belajar  dapat dikatakan masih kurang ideal. Hal ini dapat dilihat dari tingkat absensi warga belajar yang mencapai 5% pada setiap kali pertemuan. Fenomena tersebut menandakan bahwa warga belajar kurang memiliki motivasi yang tinggi untuk menguasai bidang jahit menjahit. Hal ini jelas berdampak pada rendahnya kedisiplinan dan juga rasa tanggung jawab mereka yang merupakan ciri dari sikap wiraswasta. Dengan demikian dapat dipahami adanya hubungan antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta pada warga belajar.


Berdasarkan uraian di atas, kinerja menjahit dan sikap wiraswasta pada bidang jahit menjahit menjadi fokus yang menarik minat peneliti untuk mengkaji lebih dalam tentang ada tidaknya hubungan antara kinerja menjahit yang dimiliki oleh warga belajar dengan sikap wiraswasta bidang jahit menjahit. Pengkajian tersebut akan dilaksanakan dalam penelitian skripsi berjudul “Hubungan antara Kinerja Menjahit dengan Sikap Wiraswasta pada Kelompok Belajar Menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat”.


B.  Permasalahan


Masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:




  1. Adakah hubungan antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat?

  2. Seberapa besar hubungan antara kinerja menjahit dengan sikap wiraswasta pada kelompok belajar menjahit di Kelurahan Bongsari Kecamatan Semarang Barat?