Tampilkan postingan dengan label Skripsi Teknik Mesin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Skripsi Teknik Mesin. Tampilkan semua postingan

PENGARUH PENGARBONAN DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA ARANG BATOK KELAPA TERHADAP KETAHANAN LELAH MATERIAL BAJA KARBON RENDAH PADA POROS DENGAN ALUR PASAK LURUS (SLIDING KEY WAYS)

BAB I


PENDAHULUAN


A.  Alasan Pemilihan Judul


Dalam dunia industri, khususnya di bidang konstruksi dan perancangan, tentunya membutuhkan bahan-bahan yang mampu memenuhi keinginan dari si pemakai atau mempunyai sifat-sifat yang lebih bagus dan lebih baik. Misalnya memiliki kekuatan tarik, kekerasan dan ketahanan lelah/fatik yang tinggi, sehingga produk yang terbuat dari logam tersebut awet dan tahan lama, tahan korosi, tahan aus, tahan puntiran dan sebagainya.


Sifat ketahanan lelah sangat diperlukan dalam komponen-komponen mesin disamping sifat keras, liat dan kuat. Kelelahan/fatik adalah kegagalan yang terjadi pada suatu material dalam keadaan dinamis. Kegagalan ini merupakan hal yang sangat membahayakan, karena terjadi tanpa adanya petunjuk awal. Pada umumnya besarnya pembebanan yang dibutuhkan agar terjadi kegagalan/kerusakan pada suatu komponen jauh lebih kecil dari tegangan statis yang diijinkan, oleh karena itu dalam perancangan suatu struktur dapat diketahui terlebih dahulu jenis pembebanan yang akan terjadi pada komponen tersebut.


Salah   satu   komponen   dari   mesin-mesin   perkakas   maupun   mesin otomotiv yang fital adalah roda gigi dan poros. Roda gigi tersebut harus bertumpu pada poros yang dituntut kekerasannya, keliatannya, dan ketahanan lelahnya.  Pemasangan  roda  gigi  pada  poros  biasanya  menggunakan  pasak lurus, sehingga baik pada roda gigi maupun batang poros terdapat alur untuk pasak tersebut. Untuk itu diperlukan batang poros yang dapat menahan beban dan menahan puntiran akibat adanya momen puntir.


Dalam dunia rancang bangun dan rekayasa, poros merupakan salah satu komponen yang mempunyai peranan terpenting dalam meneruskan daya dari setiap  permesinan.  Untuk  merencanakan  sebuah  poros  perlu  diperhatikan faktor kekuatan poros. Dalam siklus kerjanya poros mengalami pembebanan, baik beban puntir maupun beban lentur (beban kombinasi), disamping itu poros mendapat beban tarik dan beban tekan seperti yang dialami poros pada baling-baling maupun turbin. Karena itu sebuah poros harus direncanakan hingga cukup kuat untuk menahan beban-beban di atas (Sularso, 1987).


Geometri sebuah poros adalah suatu geometri yang tidak kontinyu, dimana geometri  ini muncul karena ketidaksengajaan  dalam proses permesinan ataupun pembuatan, seperti : rongga, goresan pada permukaan, pengerjaan kasar, perubahan diameter dan lain-lain. Sedangkan geometri yang mana kehadirannnya diperlukan karena adanya tuntutan perancangan suatu desain seperti : poros bertingkat, lubang saluran minyak pada poros ataupun alur pasak (keyways). Semua keadaan ini sangatlah berpotensi menimbulkan konsentrasi  tegangan pada tempat-tempat dimana  terjadi  perubahan penampang. Pada tempat ini, apabila terjadi pembebanan berulang akan menjadi  penyebab  kerusakan,  karena  daerah  tersebut  berpotensi  sebagai daerah yang menimbulkan retak awal (initial crack). Yudiono (2001), dalam penelitiannnya pada material baja poros K945 EMS45 menunjukan bahwa kehadiran alur pasak lurus memberi kecenderungan menurunnya sifat mekanis bahan, sedang pada level pembebanan 74,25% kekuatan luluh menunjukkan adanya kecenderungan yang sama.


Alur pasak merupakan jenis penyambungan yang umum dipakai pada poros. Penyambungan jenis ini lebih banyak memberikan kontribusi positif secara ekonomis maupun teknis bila dibandingkan dengan jenis lain, seperti pengelasan. Pembuatan alur pasak pada suatu poros mempertimbangkan beberapa faktor, diantaranya jenis bahan, jenis alur pasak, kedalaman dan ketajaman ujung alur pasak, serta jenis pembebanan.


Pada saat ini banyak dijumpai komponen-komponen mesin atau alat-alat bantu yang mengalami keausan dan kerusakan akibat pembebanan waktu yang relatif singkat. Kondisi tersebut disebabkan oleh kekerasan permukaan yang kurang baik, ketidak tahanan terhadap pembebanan dan puntiran ataupun sifat internal bahan itu sendiri yang kurang baik pula. Oleh karena itu, suatu tindakan yang berkaitan dengan peningkatan kualitas permukaan dan kekuatan terhadap komponen-komponen tertentu sangat penting untuk diteliti, sehingga pengerasan permukaan komponen tertentu dengan cara yang baik dan benar sangat penting diteliti pula. Dengan demikian unjuk kerja komponen- komponen tersebut dapat ditingkatkan sesuai dengan perencanaan walaupun komponen tersebut terbuat dari bahan yang murah namun memenuhi persyaratan teknis.


B.  Pembatasan Masalah


Dalam  penelitian  ini  menggunakan  bahan  baja  karbon  rendah  yang berupa poros beralur pasak lurus (sliding keyways) dengan suhu carburizing 9300C,  lalu  ditahan  selama  2  jam  untuk  waktu  penahanan  (holding  time) carburizing pertama, 3 jam untuk waktu penahanan (holding time) carburizing kedua dan 4 jam untuk waktu penahanan (holding time) carburizing ketiga atau terakhir. Media yang digunakan adalah arang batok kelapa.


C.  Permasalahan


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah:




  1. Bagaimanakah karakteristik kelakuan fatik (kurva S-N) takik model alur pasak lurus (sliding keyways) sebelum dilakukan pengarbonan dengan media arang batok kelapa pada material baja poros karbon rendah.

  2. Bagaimanakah karakteristik kelakuan fatik (kurva S-N) takik model alur pasak  lurus  (sliding  keyways)  setelah  dilakukan  pengarbonan  dengan media arang batok kelapa pada material baja poros karbon rendah.

  3. Bagimanakah pengaruh bahan arang batok kelapa sebagi sumber karbon dalam pengarbonan terhadap sifat fisis (struktur kimia) dan mekanis (kekerasan, kekuatan tarik) pada baja poros karbon rendah.

SISTEM KEMUDI DENGAN POWER STEERING TIPE RACK AND PINION PADA TOYOTA KIJANG SUPER SERI KF 50

BAB I


PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang Masalah


Perkembangan  teknologi  yang  semakin  cepat  mendorong  manusia untuk selalu mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam dunia otomotif  khususnya  dalam  mobil  dikenal  berbagai  macam  sistem  yang bekerja. Sistem-sistem itu bekerja saling berkaitan antara satu dengan yang lain, sehingga jika salah satu dari sistem mengalami kerusakan atau diganti dengan komponen yang tidak sesuai, maka akan mempengaruhi kerja sistem yang lain. Sistem power steering pada kemudi mobil berfungsi untuk menyempurnakan kenyamanan pada pengemudi. Sekarang ini banyak mobil- mobil modern mempunyai ban lebar dengan tekanan yang rendah, sehingga mengakibatkan  bidang  singgung  ban  dengan  permukaan  jalan  bertambah besar oleh karena itu mengakibatkan tenaga yang dibutuhkan untuk mengemudikan kendaran menjadi bertambah besar.


Usaha memutar kemudi dapat dikurangi dengan memperbesar perbandingan gigi (gear ratio) pada sistem kemudi, tetapi ini akan mengakibatkan usaha untuk memutar roda kemudi semakin besar pada saat kendaraan berbelok, terutama pada belokan tajam. Oleh karena itu, agar usaha dalam pengemudian kecil, diperlukan suatu sistem bantuan kemudi yang disebut power steering (steering assist device). Power steering biasanya digunakan pada kendaraan besar, tetapi sekarang juga digunakan pada mobil- mobil penumpang yang berukuran kecil.


Power steering ini diciptakan untuk memperingan dan memberi kenyamanan pengemudi dalam mengemudi. Sistem power steering ini menggunakan fluida untuk memperoleh momen yang besar dalam menekan, sehingga dalam pengemudian menjadi ringan. Untuk mobil-mobil modern sekarang ini apabila sistem kemudinya tidak memakai power steering, saat belokan tajam atau membanting stir secara mendadak, akan mengakibatkan usaha pengemudi dalam mengemudikan menjadi besar. Hal ini akan berpengaruh pada kenyamanan dan keselamatan pengemudi dan penumpang lainnya.


Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka diambil judul “Sistem Kemudi dengan Power Steering tipe Rack and Pinion pada Toyota Kijang Super seri KF 50 ”.


B.  Permasalahan


Permasalahan  yang  diangkat  dalam  penulisan  proyek  akhir  dengan judul “Sistem Kemudi dengan Power Steering tipe Rack and Pinion pada Toyota Kijang Super seri KF 50” adalah untuk mengetahui lebih mendalam tentang sistem kemudi dengan power steering tipe rack and pinion dan gangguan-gangguan yang sering terjadi pada sistem kemudi dengan power steering tipe rack and pinion khususnya pada toyota kijang super seri KF 50, yang meliputi:




  1. Bagaimana kontruksi dari sistem kemudi dengan power steering tipe rack and pinion.

  2. Bagaimana cara kerja sistem kemudi dengan power steering tipe rack and pinion.

  3. Bagaimana gangguan yang sering terjadi  pada komponen- komponen sistem kemudi dengan power steering tipe rack and pinion dan cara memperbaiki kerusakan-kerusakan berdasarkan analisis dari kerusakan yang terjadi.

PROYEK AKHIR SISTEM POWER WINDOW PADA SUZUKI BALENO

BAB I


PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang


Seiring majunya teknologi di era sekarang ini yang sangat cepat dan pesat dalam hal ilmu pengetahuan dan informasi menuntut terciptanya Sumber Daya Manusia (SDM) yang tinggi agar dapat menciptakan serta memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi guna kesejahteraan manusia.


Sumber daya manusia yang rendah menjadi penyebab utama ketertinggalan   teknologi.   Untuk   meningkatkan   SDM   maka   pemerintah membuka jalur-jalur pendidikan. Meningkatnya mutu pendidikan yang disesuaikan dengan laju teknologi diharapkan dapat tercapai keahlian dan keterampilan sebagai komponen yang vital, seperti halnya pembuatan media alat  peraga,  diharapkan  dapat  membantu  dan  memperlancar  perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta dapat meningkatkan kualitas dan produktivitas kerja dimasa depan.


Keterbatasan akan peralatan juga menjadi salah satu penghambat berkembangnya  IPTEK. Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang masih kurang akan peralatan praktik untuk mata kuliah kelistrikan otomotif. Media peraga kelistrikan otomotif diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam mengetahui kondisi sebenarnya tentang suatu sistem,  sehingga  mahasiswa  dapat  menyesuaikan  keadaan  yang  sebenarnya terjadi dilapangan. Media peraga ini berupa suatu sistem yang terdapat pada sebuah kendaraan yaitu Elektrikal Bodi.


Sekarang ini perkembagan dari IPTEK dalam bidang otomotif, perkembangannya lebih cenderung pada aspek keamanan, kenyamanan dan ramah lingkungan. Hal tersebut dapat kita jumpai pada kendaraan model sekarang yang dalam pengoperaiannya lebih mudah, misalnya untuk aspek kenyamanan. Mobil sekarang tidak hanya engine saja yang teknologinya sangat canggih, tetapi sudah ada penambahan atau dilengkapi dengan elektrikal bodi. Rangkaian dari elektrikal bodi ini terdiri dari motor listrik sebagai penggeraknya, apabila dialiri arus maka motor ini akan bekerja sesuai fungsinya. Contoh elektrikal bodi ini ada pada sistem power window, power door lock, mirror (spion), washer dan wiper, sun roof dan lain sebagainya.


Dengan adanya penambahan rangkaian elektrikal bodi ini akan lebih mudah membantu kita dalam memberikan  rasa nyaman dalam mengendarai kendaraan.   Kita  tidak  lagi  mengoperasikan   suatu  sistem  secara  manual melainkan secara elektrik, misalnya dalam pengoperasian power window kita hanya menekan saklar atau switch untuk menurunkan  atau menaikkan  kaca mobil  sesuai  dengan  keinginan  kita,  pada  sistem  door  lock kita  hanya menekan remote untuk mengunci pintu mobil, dan pada mirror (spion) kita juga  hanya  menekan  saklar  atau  switch untuk  menggerakkan  kaca  spion keatas, kebawah, kesamping kanan dan kiri.


Tugas Proyek Akhir ini dimaksudkan untuk memberikan suatu fasilitas penunjang yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa dalam mempraktikkan dan mengamati secara langsung fenomena pada kelistrikan bodi yaitu power window, power door lock dan mirror (spion) pada suatu mobil. Atas dasar uraian-uraian diatas maka penulis tertarik untuk mengangkat judul “SISTEM POWER WINDOW PADA SUZUKI BALENO“.


B.  Permasalahan


Permasalahan yang sering terjadi pada sistem power window banyak macamnya. Perlu dilakukan pembatasan masalah supaya tidak terjadi suatu kerancauan  dalam  mencari,  menganalisa  dan mengatasi  permasalahan  yang terjadi sebagai berikut :




  1. Komponen-komponen   apa  saja  yang  ada  pada  sistem  power  window Suzuki Baleno?

  2. Bagaimana cara kerja sistem power window pada Suzuki Baleno?

SISTEM PENDINGIN PADA MESIN TOYOTA COROLLA GL 3A

BAB I


PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang Masalah


Perkembangan teknologi yang semakin cepat mendorong untuk selalu mempelajari ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk bidang otomotif, dengan semakin majunya teknologi yang digunakan ternyata memunculkan permasalahan-permasalahan yang cenderung mengarah performa unjuk kerja sistem-sistem dalam mesin. Diantara sistem-sistem tersebut adalah sistem pendinginan mesin, sistem ini merupakan bagian yang sangat vital dan sangat mempengaruhi kinerja mesin jika dilihat dari fungsinya. Cooling system (sistem pendinginan) adalah suatu rangkaian untuk mengatasi terjadinya over Heating (panas yang berlebihan) pada mesin agar mesin bisa bekerja secara stabil (Daryanto, 1999:51). Mesin pembakaran dalam selama beroperasi temperatur gas dalam ruang pembakaran bisa memcapai 2500 °C sehingga diperlukan suatu sistem pendinginan mesin. Apabila sebagian panas yang dihasilkan dari pembakaran tidak dibuang, komponen mesin yang berhubungan dengan pembakaran akan mengalami kenaikan temperatur yang berlebihan dan cenderung merubah sifat-sifat serta bentuk dari komponen mesin tersebut (Daryanto, 1999:62). Berdasar kejadian tersebut, mobil diperlukan sistem pendinginan yang berfungsi untuk menurunkan temperatur pada mesin sehingga kemampuan ideal mesin dapal dicapai.


Alasan  penulis  mengambil  judul  “Sistem  Pendinginan  pada  mesin Toyota Corolla GL 3A” adalah :




  1. Sistem  pendinginan  pada Toyota Corrola GL  3A  mmempergunakan pompa   sentrafugal  dan dilengkapi  dengan  motor  yang berperan berdasarkan temperature suhu.

  2. Sering ditemui gangguan pada system pendiginan yang mempengaruhi ujuk kerja mesin, untuk itu perlu analisis masalah dan perbaikan gangguan system pendinginan.

  3. Karena  penulis  menggunakan  mesin  Toyota  Corrola  GL  3A  sebagai proyek akhir, maka system pendinginan yang diambil adalah system pendinginan Toyota Corrola GL 3A.


Dari judul "Sistem Pendinginan Pada Mesin Toyota Corolla GL 3A”, akan timbul permasalahan sebagai berikut :




  1. Apa  saja  komponen-komponen  sistem  pendingin  mesin  mobil  Toyota Corolla GL 3A dan bagaimana cara kerjanya ?

  2. Bagaimana proses sirkulasi pendinginan mesin mobil Toyota Corolla GL 3A ?

  3. Kerusakan-kerusakan apa saja yang seiing terjadi pada sistem pendinginan dan bagaimana cara mengatasinya, khususnya mobil Toyota Corolla GL 3A ?


B.  Tujuan/ Manfaat


1.   Tujuan


Tujuan  penulis  mengambil  judul  “Sistem  Pendinginan  Pada Mesin Toyota Corolla GL 3A” adalah :




  1. Untuk  mengetahui  lebih  mendalam  tentang  komponen-komponen sistem pendinginan dan cara kerjanya pada mobil Toyota Corolla GL 3A.

  2. Untuk mengetahui proses sirkulasi pendinginan pada mesin Toyota Corolla GL 3A.

  3. Untuk mencari kerusakan-kerusakan yang sering terjadi serta cara mengatasinya pada sistem pendinginan mobil Toyota Corolla GL 3A.


2.   Manfaat


Dari pembuatan dan penulisan laporan Proyek Akhir ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :




  1. Sebagai buku referensi atau literatur kajian bidang otomotif khususnya tentang sistem pendinginan mobil.

  2. Sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan khususnya tentang sistem pendinginan mobil.

  3. Memberikan kemudahan kepada masyarakat umum dalam mencari kerusakan-kerusakan pada sistem pendinginan, khususnya tentang sistem pendinginan mobil Toyota Corolla GL 3A.

PERUBAHAN KETANGGUHAN BAHAN ST.40 YANG TELAH MENGALAMI PROSES DOUBLE HARDENING DENGAN CARBURIZING

BAB I


PENDAHULUAN


A. Latar Belakang


Logam adalah unsur kimia yang mempunyai sifat kuat, liat, keras, dan mempunyai titik cair yang tinggi. Logam terbuat dari bijih logam yang ditemukan dalam keadaan murni atau bercampur. Bijih logam ini didapat dari proses penambangan mulai dari pendahuluan, pengeboran, sampai pengolahan logam.


Dari pengolahan logam inilah  baru didapat logam yang kita inginkan. Logam yang telah jadipun masih disebut logam setengah jadi (raw material) sehingga masih diperlukan pengerjaan-pengerjaan dengan mesin, untuk mendapatkan bentuk dan kualitas yang lebih baik. Agar memperoleh hasil yang baik, komponen-komponen dari hasil mesin skrap, mesin bubut, mesin frais, yang selanjutnya diberi perlakuan panas seperti pengerasan, penempaan, penormalan, yang bertujuan memperbaiki sifat-sifat logam tersebut.


Dari bagian mesin, sering dijumpai suatu bahan yang diperlukan kekerasan dan keliatannya. Misalnya poros transmisi dan roda gigi. Saat mengalami perpindahan persneling, poros transmisi dan roda gigi mengalami beban puntir. Komponen tersebut juga harus mempunyai sifat lentur, karena dengan sifat lentur ketika terjadi perpindahan transmisi, diharapkan dapat mengurangi  hentakan  keras  pada  saat  roda  gigi  mengalami  perkaitan.


Gabungan antara beban puntir dan lentur, juga diperlukan pada saat transmisi dan roda gigi mengalami beban berat dan putaran tinggi. Dengan mempertimbangkan kondisi di atas, maka diinginkan suatu konstruksi bahan yang keras pada permukaan dan ulet pada intinya untuk mencegah kerusakan. Kemudian agar memperoleh hasil yang baik, komponen-komponen dari mesin-mesin tesebut selanjutnya diberi perlakuan panas seperti pengerasan, penempaan, penemperan yang bertujuan memperbaiki sifat-sifat logam tersebut.


Perlakuan panas (heat treatment) adalah proses memanaskan bahan sampai suhu tertentu dan kemudian didinginkan dengan metode tertentu (Amanto, 1999 : 63). Perlakuan panas terutama ditujukan untuk memperoleh sifat-sifat yang sesuai dengan penggunaannya, khususnya untuk mendapatkan kekerasan, kekuatan dan sifat liat yang diperlukan. Untuk mencegah keausan pada   logam,   maka   logam   perlu   mendapatkan   kekerasan   pada   bagian permukaan saja sedang inti tetap ulet. Untuk itu perlu dilakukan proses pengerasan  permukaan  (surface  treatment).  Jadi  dalam  hal  ini  pengerasan dapat dilakukan pada bagian-bagian tertentu saja sesuai kebutuhan dan fungsi alat tersebut.


Menurut Palallo (1995: 57) menuliskan proses carburizing adalah proses penambahan unsur karbon ke dalam logam pada bagian permukaan yang didapat dari bahan-bahan yang mengandung karbon sehingga kekerasan meningkat dengan adanya  penambahan unsur  karbon pada    logam, menyebabkan ukuran butir membesar.


Pemanasan pada temperatur tinggi untuk jangka waktu yang relatif lama menyebabkan ukuran butir membesar, ini berarti butir-butir ferrit di bagian dalam dan butir-butir perlit pada bagian permukaan menjadi kasar (Suratman, 1994: 143).  Kekurangan pada proses carburizing pada logam dapat diperbaiki dengan proses pengerasan lanjut (double hardening). Proses double hardening dilakukan untuk memperhalus  ukuran butir struktur logam. Ukuran struktur yang halus dapat menghasilkan kekerasan yang lebih baik dari pada ukuran butir struktur logam yang besar (Endri Maulana, 2006: 2). Perlakuan panas tempering akan menghasilkan struktur yang homogen, tegangan sisa, mengembalikan kondisi bahan pada kondisi  normal  akibat  pengaruh pengerjaan sebelumnya, memperhalus kristal yang akan berpengaruh terhadap keuletan bahan dan meningkatkan kekuatan serta memperbaiki struktur setelah bahan mengalami deformasi dalam keadaan panas dan dingin sehingga bahan mempunyai sifat bagian luar getas sedangkan bagian dalam ulet.


Untuk mengetahui sejauh mana perlakuan panas proses carburizing, double hardening – tempering terhadap perubahan sifat-sifat bahan dan ketangguhan bahan setelah mengalami perlakuan. Untuk pengkajian lebih lanjut maka perlu dilakukan pengujian bahan  dengan menggunakan uji impact dan uji struktur mikro.


Dari pertimbangan-pertimbangn tersebut di atas maka perlu diadakan penelitian “Perubahan Ketangguhan Bahan ST.40 Yang Telah Mengalami Proses Double Hardening Dengan Media Pendingin Air Setelah Proses Carburizing


B.  Permasalahan


Adapun permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah:




  1. Adakah perubahan nilai ketangguhan bahan ST. 40 hasil proses double hardening dengan media pendingin air yang telah mengalami proses carburizing.

  2. Adakah  perubahan  struktur  mikro bahan  ST40  hasil  proses  double hardening dengan media pendingin air yang telah mengalami proses carburizing.

PENGARUH VARIASI TEBAL SHIM PEGAS KATUP TERHADAP TORSI DAN DAYA MOTOR PADA MOTOR 4 LANGKAH 4 SILINDER 1500 CC

BAB I


PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah


Pada masa sekarang ini manusia membutuhkan  sarana transportasi dalam berbagai bidang. Sarana transportasi  itu digunakan untuk memperlancar  segala kebutuhan  manusia seperti mengantar  barang, untuk bepergian ke suatu tempat dan lain sebagainya. Salah satu alat transportasi yang digunakan adalah kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor yang sekarang  ini banyak  dipakai  adalah  kendaraan  yang  menggunakan  mesin pembakaran dalam (internal combustion engine). Motor pembakaran dalam yang  dipakai  pada  kendaran  bermotor  mempunyai  volume  silinder  dan jumlah silinder yang berbeda-beda sesuai dengan kegunaan kendaraan itu.


Agar kebutuhan konsumen terpenuhi akan kendaraan bermotor yang berbeda-beda kegunaannya produsen kendaraan mengeluarkan berbagai macam  kendaraan   dengan   berbagai   macam  tipe  dan  spesifikasi   yang berbeda-beda   sesuai   dengan   kebutuhan   konsumen.   Merancang   suatu kendaraan   bermotor   khususnya   mobil   para   produsen   mengharapkan produknya ekonomis, performa motor bagus dan efisien sehingga dapat bersaing di pasaran dan diminati masyarakat, apalagi persaingan pasar kendaraan bermotor di Indonesia semakin kompetitif. Khusus pada sektor roda  empat   persaingan   ini  sangat   terasa   karena   banyaknya   produsen kendaraan  yang  memproduksi  kendaraan  di  kelas  ini.  Sebuah  kendaraan bermotor  dikatakan  mempunyai  performa  motor  bagus  jika  kendaraan tersebut hemat bahan bakar dan menghasilkan daya dan torsi yang optimal sesuai dengan volume dan jumlah silindernya.


Pengguna kendaraan bermotor kadang merasa kurang dengan performa kendaraanya sehingga melakukan usaha-usaha agar performa kendaraanya meningkat. Salah satu usaha itu adalah dengan memodifikasi bagian mesin kendaraan itu. Kendaraan bermotor akan menurun performa mesinya jika sudah dipakai dalam waktu yang lama. Salah satu penyebab turunya performa kendaraan bermotor adalah karena ada komponen- komponen motor yang sudah aus, sehingga kerja komponen itu kurang maksimal.


Mekanisme katup adalah salah satu bagian terpenting dari motor 4 langkah.  Jika salah satu komponen  mekanisme  katup ada yang aus maka bisa dipastikan performa motor itu akan turun. Salah satu komponen  dari mekanisme katup adalah pegas katup, dimana pada kendaraan itu jika sudah dipakai lama pegas katupnya akan melemah. Melemahnya pegas katup berakibat pada penutupan katup yang kurang cepat atau terjadi kelembaman pada pegas katup yang menyebabkan kerja katup kurang maksimal.


Untuk memaksimalkan  kembali kerja mekanisme katup yang turun karena pegas katup yang lemah bisa diatasi dengan cara mengganti pegas katup  itu  dengan  pegas  katup  yang  baru  yang  direkomendasikan   oleh produsen pembuat kendaraan itu. Pada   motor 4 langkah yang mempunyai jumlah silinder lebih dari satu akan membutuhkan biaya yang lebih banyak untuk mengganti pegas katup itu. Ada suatu cara yang bisa dilakukan untuk mengembalikan kembali gaya pegas katup yang melemah yaitu dengan cara mengganjal pegas katup pada dudukanya. Pengganjal pegas katup yang digunakan  disebut shim. Shim pegas katup berbentuk seperti ring dengan ukuran sesuai pegas katup itu. Pegas katup dibuat dari bahan yang kuat agar pada  saat  terpasang  tidak  berubah  bentuknya  karena  gaya  dorong  pegas katup.


Penambahan shim pada pegas  katup berfungsi untuk mengembalikan gaya  pegas  katup  yang  melemah sehingga  kelembaman pada pegas katup dapat dikurangi. Dengan berkurangnya kelembaman pegas katup maka katup akan menutup lebih cepat  dan akurat sehingga efisiensi pemasukan dan pengeluaran fluida kerja pada silinder dapat meningkat. Meningkatnya efisiensi ini berakibat pada kenaikan daya dan torsi motor.


Shim pegas katup yang digunakan ketebalanya harus sesuai dengan kondisi pegas katup yang diganjal. Karena jika terlalu tebal kemungkinan bisa terjadi kerusakan pada mesin yang justru akan sangat merugikan. Berdasarkan uraian di atas maka perlu diadakan sebuah   penelitian tentang penambahan shim pegas katup dengan tebal yang berbeda-beda. Hal ini bertujuan   agar bisa dilihat dengan jelas kenaikan atau bahkan penurunan daya dan torsi motor karena pemakaian shim pegas katup dengan tebal yang berbeda. Penelitian dilakukan pada motor yang mempunyai jumlah silinder lebih dari satu hal ini dimaksudkan agar semakin banyak pegas katup yang diberi shim pada tiap silinder motor itu, sehingga perbedaan tenaga dan torsi motor  bisa  terlihat  jelas  dari sebelum  penambahan  shim  dengan  sesudah penambahan shim yang berbeda ketebalanya. Oleh karena itu peneliti mengambil judul :  “ Pengaruh variasi tebal shim pegas katup terhadap daya dan torsi motor  4 langkah – 4 silinder 1500 cc ”.


B.   Pembatasan Dan Perumusan Masalah


1. Pembatasan Masalah


Peneliti memfokuskan penelitian ini hanya pada pengaruh variasi tebal shim pegas katup terhadap daya dan torsi motor 4 langkah.


2. Rumusan masalah


Sesuai uraian yang telah dipaparkan diatas maka dapat dirumuskan beberapa  permasalahan yang akan diteliti yaitu:




  1. Apakah   ada   pengaruh   terhadap   peningkatan   daya   motor   akibat pemvariasian tebal shim pegas katup yang berbeda ketebalanya pada motor empat langkah empat silinder 1500 cc.

  2. Apakah   ada   pengaruh   terhadap   peningkatan   torsi   motor   akibat pemvariasian tebal shim pegas katup yang berbeda ketebalanya pada motor empat langkah empat silinder 1500 cc.

PENGARUH VARIASI BAHAN BAKU DINDING DAPUR OVEN PENGERING KAYU BERBAHAN BAKAR LIMBAH KAYU PRODUKSI TERHADAP EFISIENSI KERJA DAPUR

BAB I


PENDAHULUAN


1.1 LATAR BELAKANG MASALAH


Pengeringan kayu secara buatan atau konvensional dengan menggunakan bahan bakar kayu limbah produksi merupakan solusi yang baik terhadap menipisnya kandungan gas bumi dunia. Tiap pembakaran di ruang terbuka adalah 90% (Baldwin, S. F., 2005) efisiensi kerja atau energi kalor dapat dihasilkan oleh kayu. Energi kalor dari pembakaran limbah kayu produksi yang dapat digunakan proses pengeringan hanya beberapa porsi kecil antara 10% sampai 40% (Baldwin, S. F., 2005). Peningkatan efisiensi perapian dalam proses  pengeringan  kayu  diperlukan  untuk  memaksimalkan  penggunaan energi kalor hasil    pembakaran,  sehingga proses  pengeringan dapat berlangsung dengan cepat dan tanpa mengurangi mutu dari kayu.


Oven  pengeringan  kayu  buatan  berbahan  bakar  limbah  kayu  produksi harus memiliki tungku atau dapur pembakaran yang sesuai dengan kebutuhan kalor yang akan ditransfer ke ruang pengering. Kualitas dapur pengering akan menentukan jumlah kalor yang mampu diberikan bahan bakar. Kontribusi kualitas bahan baku pembuatan dinding dapur pengering kayu sangat besar dalam proses pengeringan kayu. Bahan baku pembuatan dinding dapur pengering akan mempengaruhi jumlah bahan bakar yang digunakan dan akhirnya akan berpengaruh pada lama waktu pengeringan dan laju penurunan kadar air kayu.


Krisis energi yang terjadi di Indonesia membuat industri kecil dan menengah menghadapi masalah besar. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) merupakan salah satu pemicu ikut naiknya tarif harga listrik saat ini, akibatnya biaya produksi untuk industri meubel meningkat hampir 30%. Kenaikan  biaya  produksi  tersebut  mengakibatkan  banyak  industri  meubel tidak mampu bertahan. Supaya industri meubel terus berjalan, maka sejumlah industri meubel di Jepara mulai melakukan penghematan energi dengan cara meminimalisir  penggunaan  listrik  dan  bahan  bakar  minyak  agar  biaya produksi bisa ditekan. Salah satu penghematan energi listrik dan minyak tersebut dilakukan dengan cara mengganti bahan bakar pada oven pengering dan meminimalisir penggunaan alat yang membutuhkan energi listrik semisal blower


Pengaruh bahan baku pembuatan dinding dapur pengering kayu terhadap proses pengeringan menarik perhatian penulis, sehingga karya ilmiah ini mengambil judul : ‘PENGARUH VARIASI BAHAN BAKU DINDING DAPUR OVEN PENGERING KAYU BERBAHAN BAKAR LIMBAH KAYU PRODUKSI TERHADAP EFISIENSI KERJA DAPUR’.


1.2 PERMASALAHAN


Permasalahan yang timbul pada penulisan akhir ini, yang tentunya menjadi fokus utama dari objek penelitian ini adalah:




  1. Apakah variasi dinding dapur oven pengering variasi I batu bata, variasi II batu bata, adukan pasir dan variasi III batu bata, adukan pasir serta acian semen mampu memberikan temperatur pengeringan yang berbeda dengan jumlah bahan bakar dan waktu pembakaran yang sama.

  2. Apakah  variasi  bahan  baku  dinding  dapur  oven  pengering  variasi  I batubata, variasi II batu bata, adukan pasir dan variasi III batu bata, adukan pasir serta acian semen menyebabkan perbedaan efisiensi kerja dapur dan kalor yang hilang (heat lost).

  3. Apakah ada perbedaan perhitungan efisiensi kerja dapur   dengan temperatur pengeringan dan perhitungan efisiensi kerja dapur dengan Heat lost.

PENGARUH SUHU ANNEALING PADA POST WELD HEAT TREATMENT PENGELASAN BAJA BOHLER GRADE K-945 EMS 45 TERHADAP SIFAT FISIS DAN MEKANIS

BAB I


PENDAHULUAN


1.1.  ALASAN PEMILIHAN JUDUL


Seiring dengan perkembangan teknologi dibidang konstruksi, pengelasan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pertumbuhan dan peningkatan industri, karena mempunyai peranan yang sangat penting dalam rekayasa  dan reparasi  produksi  logam.  Hampir  pada setiap  pembangunan suatu konstruksi dengan logam melibatkan unsur pengelasan.


Pengelasan   bukan   tujuan   utama   dari   konstruksi,   tetapi   hanya merupakan sarana untuk mencapai tujuan ekonomi yang lebih baik, karena itu rancangan las dan cara pengelasan harus betul-betul memperhatikan kesesuaian  antara sifat fisis dan mekanis dari logam las dengan kegunaan konstruksi serta keadaan di sekitarnya (Wiryosumarto dan Okumura; 2001).


Baja  K-945  EMS  45  ini  adalah  baja  yang  diproduksi  oleh  PT. BOHLER. Baja ini mempunyai komposisi kandungan (% berat) C 0,48%, Si 0,30%, Mn 0,70%. Baja ini banyak digunakan dalam pengerjaan permesinan misalnya pembuatan tanggem, bantalan mesin, konstruksi pada kapal. Baja ini merupakan  baja karbon sedang yang mempunyai  kekuatan tarik 60-70 Kg/mm2  (BOHLER).  Apabila  baja  ini  diberi  perlakuan  panas  yang  tepat maka  akan  didapatkan  kekerasan  dan  keuletan  sesuai  yang  diinginkan  . Proses perlakuan panas dalam dunia industri merupakan proses yang cukup berpengaruh   dalam   menentukan   sifat   fisis   dan   mekanisnya.   Dengan perlakuan  panas  sifat-sifat  yang  kurang  menguntungkan  pada  logam  atau baja  dapat  diperbaiki.  Pengerjaan  panas  merupakan  proses  memanaskan bahan atau logam sampai suhu tertentu, kemudian didinginkan pada waktu tertentu. Tujuan pengerjaan panas (Heat Treatment) adalah untuk memberi sifat yang lebih baik atau sempurna pada suatu material.


Menurut (Love;1986) prinsip pengerjaan panas (Heat Treatment) yang berhubungan dengan perlakuan pada logam yaitu: (1) Pelunakan (Annealing) merupakan  proses pemanasan logam, kemudian didinginkan secara perlahan-lahan; (2) Hardenning adalah pengerasan logam dengan cara dipanaskan kemudian didinginkan secara cepat; (3) Tempering adalah pemanasan  logam di bawah suhu kritis bawah, dipertahankan  pada waktu tertentu, diikuti dengan pendinginan di udara; (4) Normalising adalah pengerjaan  baja dengan  pemanasan  di atas suhu kritis  atas dan dibiarkan dingin di udara terbuka.


Proses annealing adalah proses pemanasan logam pada suhu tertentu, mempertahankan suhu tersebut pada waktu tertentu dan selanjutnya didinginkan  secara perlahan-lahan.  Tujuan dari proses annealing  yaitu (1) Mengurangi tegangan internal yang terjadi akibat pembekuan;  (2) Meningkatkan ketangguhan dan keuletan; (3) Meningkatkan mampu mesin; (4) Mengurangi ketidak homogenan komposisi kimia; (5) Menghaluskan ukuran butiran; (6) Mengurangi kandungan gas di dalam logam.


Pada perlakuan panas terutama pada proses annealing, waktu penahanan (Holding Time), suhu pemanasan,  dan laju pendinginan  merupakan  faktor yang sangat penting.  Post Weld Heat Treatment biasanya  dilakukan  pada higher strength carbon magnese steels dan baja paduan rendah yang riskan retak akibat hydrogen. PWHT dimaksudkan juga untuk stress relieving (pelepasan tegangan internal. PWHT ini memiliki multi fungsi selain menurunkan tegangan sisa, antara lain meningkatkan keuletan di HAZ dan memperbaiki  sifat  mampu  las daerah  logam  las dan  HAZ (Sonawan  dan Suratman; 2004)


Berdasarkan uraian di atas maka   penulis   mengadakan   penelitian mengenai “Pengaruh suhu annealing pada post weld heat treatment pengelasan  baja BOHLER GRADE K-945 EMS 45 terhadap sifat fisis dan mekanis”.


1.2.  PERMASALAHAN


Sesuai dengan judul dan alasan pemilihan judul, maka permasalahan yang  timbul  adalah  bagaimanakah  pengaruh  variasi  suhu  annealing pada post weld heat tretment pengelasan baja BOHLER GRADE K-945 EMS-45 terhadap sifat fisis dan mekanis.

PENGARUH PENGARBONAN DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA ARANG BATOK KELAPA TERHADAP KEKUATAN TARIK ALUR PASAK LURUS ( SLIDING KEYWAYS ) PADA MATERIAL BAJA POROS KARBON RENDAH

BAB I


PENDAHULUAN


A.  Alasan Pemilihan Judul


Seiring dengan perkembang zaman, dunia industri nasional mengalami perkembangan   yang   sangat   pesat.   Industri-industri   tersebut   antara   lain meliputi industri otomotif dan transportasi, mesin mesin berat, mesin mesin produksi, rancang bangun  dan    rekayasa  serta   industri-industri  yang menghasilkan / memproduksi elemen-elemen mesin. Sebagian besar dari industri-industri tersebut dalam operasionalnya membutuhkan logam sebagai bahan bakunya.


Setiap elemen mesin sudah barang tentu mempunyai karakteristik yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya. Persyaratan teknis yang secara umum harus diketahui dan diperhatikan dalam pembuatan elemen- elemen mesin dengan bahan baja antara lain sifat-sifat mekanis dan sifat fisis dari bahan. Sifat-sifat mekanis bahan antara lain meliputi kekuatan tarik, kekuatan lelah/fatik, kekuatan terhadap puntiran, kekerasan dan sebagainya. Sedangkan sifat-sifat fisis dari bahan seperti struktur mikro, kehalusan permukaan, ketahan terhadap korosi dan sebagainya.


Poros  merupakan  salah  satu  elemen  dalam  mesin  yang  mempunyai fungsi sangat vital, yaitu untuk meneruskan daya dari komponen yang satu ke komponen yang lain. Untuk merencanakan poros sangat perlu diperhatikan mengenai  kekuatan  poros.  Dalam  siklus  kerjanya,  poros  dapat  mengalami pembebanan-pembebanan  seperti  beban  puntir,  lentur,  maupun  gabungan antara beban puntir dan lentur (beban kombinasi). Disamping itu, poros juga mengalami pembebanan tarik dan tekan seperti yang terdapat dalam baling- baling ataupun turbin. Karena itu, sebuah poros harus direncanakan hingga cukup kuat untuk menahan beban-beban di atas (Sularso, 1987). Kekuatan tarik sangat penting diketahui sebab dengan kekuatan tarik akan dapat diprediksikan mengenai sifat-sifat mekanis yang lain.


Dalam sebuah poros selalu terdapat bentuk-bentuk geometri yang tidak menentu   seperti:   rongga,   goresan   pada   permukaan,   pengerjaan   kasar, perubahan diameter dan lain-lain. Ketidakteraturan bentuk geometri ini terjadi akibat ketidaksengajaan dalam proses produksi. Selain itu keadan ini juga dikarenakan oleh tuntutan desain misalnya: poros bertingkat, lubang saluran minyak pada poros ataupun alur pasak (keyways). Semua keadaan ini sangat berpotensi  menimbulkan  konsentrasi  tegangan  pada  tempat-tempat  yang terjadi perubahan penampang. Konsentrasi tegangan adalah pemusatan tegangan akibat penampang yang tidak rata atau menyempit sehingga menghasilkan  tegangan  yang  lebih  besar  daripada  di  daerah  sekitarnya. Sebagai  akibat  lanjutnya  akan  menyebabkan  kerusakan.  Yudiono  (2001), dalam penelitiannnya pada material baja poros K945 EMS45 menunjukkan bahwa kehadiran alur pasak lurus memberi kecenderungan menurunnya sifat mekanis bahan, sedang pada level pembebanan 74,25% kekuatan luluh menunjukkan adanya kecenderungan yang sama.


Alur pasak merupakan jenis penyambungan yang umum dipakai pada poros. Penyambungan jenis ini banyak memberikan kontribusi positif secara ekonomis ataupun teknis bila dibandingkan dengan jenis penyambungan lain semisal pengelasan.


Saat ini banyak ditemui komponen-komponen mesin yang mengalami kerusakan dengan lama pembebanan yang relatif singkat. Hal ini dikarenakan kekerasan permukaan yang kurang baik, ketidaktahanan terhadap pembebanan ataupun sifat internal bahan itu sendiri yang kurang baik. Oleh karena itu, suatu tindakan yang berkaitan dengan peningkatan kualitas permukaan dan kekuatan terhadap komponen-komponen tertentu sangat penting untuk diteliti. Dengan demikian, unjuk  kerja komponen-komponen  tersebut dapat ditingkatkan  sesuai  dengan  perencanaan  walaupun  dengan  menggunakan bahan dan media yang murah yang memenuhi persyaratan teknis.


B.  Pembatasan Masalah


Dalam penelitian ini, dilakukan proses pengarbonan pada spesimen material baja poros karbon rendah dengan media arang batok kelapa. Media pengarbonan dan spesimen diletakkan dalam kotak sementasi kemudian dipanaskan dalam dapur pemanas hingga suhu 9300 C. Waktu penahanan (holding time) selama 2 jam, 3 jam dan 4 jam.


C.  Permasalahan


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, permasalahan yang akan diungkap dalam penelitian ini adalah:




  1. Bagaimanakah kekuatan tarik, kekuatan luluh, perpanjangan, reduksi penampang dan bentuk penampang patah dari baja poros karbon rendah dengan alur pasak lurus (sliding keyways) sebelum dan sesudah dilakukan pengarbonan dengan menggunakan media arang batok kelapa ?

  2. Bagaimanakah  bentuk  strutur  mikro  dari  material  baja  poros  karbon rendah sebelum dan sesudah dilakukan pengarbonan dengan menggunakan madia arang batok kelapa ?

  3. Bagaimanakah  perubahan  komposisi  unsur  pada  material  baja  poros karbon  rendah  sesudah  dilakukan  pengarbonan  dengan  menggunakan media arang batok kelapa ?

PENGARUH ARUS PENGELASAN TERHADAP KEKUATAN TARIK DAN KETANGGUHAN LAS SMAW DENGAN ELEKTRODA E7018

BAB I


PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang


Pengembangan  teknologi  di  bidang  konstruksi  yang  semakin  maju tidak dapat  dipisahkan  dari pengelasan  karena  mempunyai  peranan  penting dalam rekayasa dan reparasi logam. Pembangunan  konstruksi dengan logam pada  masa  sekarang  ini  banyak  melibatkan  unsur  pengelasan  khususnya bidang   rancang   bangun   karena   sambungan   las   merupakan   salah   satu pembuatan  sambungan  yang  secara  teknis  memerlukan  ketrampilan  yang tinggi  bagi  pengelasnya  agar  diperoleh  sambungan  dengan  kualitas  baik. Lingkup penggunaan teknik pengelasan dalam konstruksi sangat luas meliputi perkapalan, jembatan, rangka baja, bejana tekan, sarana transportasi, rel, pipa saluran dan lain sebagainya.


Faktor yang mempengaruhi las adalah prosedur pengelasan yaitu suatu perencanaan untuk pelaksanaan penelitian yang meliputi cara pembuatan konstruksi las yang sesuai rencana dan spesifikasi dengan menentukan semua hal yang diperlukan dalam pelaksanaan tersebut. Faktor produksi pengelasan adalah jadwal pembuatan, proses pembuatan, alat dan bahan yang diperlukan, urutan pelaksanaan, persiapan pengelasan (meliputi: pemilihan mesin las, penunjukan juru las, pemilihan elektroda, penggunaan jenis kampuh) (Wiryosumarto, 2000).


Pengelasan berdasarkan klasifikasi cara kerja dapat dibagi dalam tiga kelompok yaitu pengelasan cair, pengelasan tekan dan pematrian. Pengelasan cair adalah suatu cara pengelasan dimana benda yang akan disambung dipanaskan  sampai  mencair  dengan  sumber  energi  panas.  Cara  pengelasan yang paling banyak digunakan adalah pengelasan cair dengan busur (las busur listrik)  dan  gas.  Jenis  dari  las  busur  listrik  ada  4  yaitu  las  busur  dengan elektroda  terbungkus,  las busur  gas (TIG,  MIG,  las busur  CO2),  las  busur tanpa gas, las busur rendam. Jenis dari las busur elektroda terbungkus salah satunya adalah las SMAW (Shielding Metal Arc Welding).


Mesin  las SMAW  menurut  arusnya  dibedakan  menjadi  tiga macam yaitu mesin las arus searah atau Direct Current (DC), mesin las arus bolak- balik atau   Alternating   Current (AC) dan mesin las arus   ganda   yang merupakan  mesin  las yang  dapat  digunakan  untuk  pengelasan  dengan  arus searah (DC) dan pengelasan  dengan arus bolak-balik  (AC). Mesin Las arus DC  dapat  digunakan  dengan  dua  cara  yaitu  polaritas  lurus  dan  polaritas terbalik. Mesin las DC polaritas lurus (DC-) digunakan bila titik cair bahan induk tinggi dan kapasitas besar, untuk pemegang elektrodanya dihubungkan dengan kutub negatif dan logam induk dihubungkan dengan kutub positif, sedangkan untuk mesin las DC polaritas terbalik (DC+) digunakan bila titik cair bahan induk rendah dan kapasitas  kecil, untuk pemegang  elektrodanya dihubungkan  dengan  kutub  positif  dan  logam  induk  dihubungkan  dengan kutub negatif.


Pilihan ketika menggunakan  DC polaritas negatif atau positif adalah terutama ditentukan elektroda yang digunakan. Beberapa elektroda SMAW didisain untuk digunakan hanya DC- atau DC+. Elektroda lain dapat menggunakan  keduanya  DC-  dan  DC+.  Elektroda  E7018  dapat  digunakan pada  DC  polaritas  terbalik  (DC+).  Pengelasan  ini  menggunakan  elektroda E7018 dengan diameter 3,2 mm, maka arus yang digunakan berkisar antara 115-165  Amper.  Dengan  interval  arus tersebut,  pengelasan  yang dihasilkan akan berbeda-beda (Soetardjo, 1997).


Tidak semua logam memiliki sifat mampu las yang baik. Bahan yang mempunyai sifat mampu las yang baik diantaranya adalah baja paduan rendah. Baja ini dapat dilas dengan las busur elektroda terbungkus, las busur rendam dan las MIG (las logam gas mulia). Baja paduan rendah biasa digunakan untuk pelat-pelat tipis dan konstruksi umum (Wiryosumarto, 2000).


Penyetelan kuat arus pengelasan akan mempengaruhi  hasil las. Bila arus yang diguanakan terlalu rendah akan menyebabkan sukarnya penyalaan busur listrik. Busur listrik yang terjadi menjadi tidak stabil.  Panas yang terjadi tidak cukup untuk melelehkan  elektroda dan bahan dasar sehingga hasilnya merupakan  rigi-rigi  las yang kecil dan tidak rata serta penembusan  kurang dalam. Sebaliknya bila arus terlalu tinggi maka elektroda akan mencair terlalu cepat dan akan menghasilkan permukaan las yang lebih lebar dan penembusan yang   dalam   sehingga   menghasilkan   kekuatan   tarik   yang   rendah   dan menambah kerapuhan dari hasil pengelasan (Arifin, 1997).


Kekuatan hasil lasan dipengaruhi oleh tegangan busur, besar arus, kecepatan pengelasan, besarnya penembusan dan polaritas listrik. Penentuan besarnya    arus dalam    penyambungan logam menggunakan las busur mempengaruhi efisiensi pekerjaan dan bahan las. Penentuan besar arus dalam pengelasan  ini mengambil  100  A, 130 A dan  160  A. Pengambilan  100 A dimaksudkan sebagai pembanding dengan interval arus diatas.


Berdasarkan  latar  belakang  diatas  maka  penelitian  ini  mengambil judul:   “Pengaruh   Arus   Pengelasan   Terhadap   Kekuatan   Tarik   dan Ketangguhan Las SMAW Dengan Elektroda E7018.”


B.  Pembatasan Masalah


Penelitian ini menggunakan bahan baja paduan rendah yang diberi perlakuan  pengelasan  dengan variasi arus 100 Amper, 130 Amper dan 160 Amper  dengan  menggunakan   las  SMAW  DC  polaritas   terbalik  dengan elektroda  E7018  diameter  3,2  mm.  Jenis  kampuh  yang  digunakan  adalah kampuh V dengan sudut 700. Spesimen   diuji tarik, ketangguhan, foto mikro dan uji kekerasan.


C.  Permasalahan


Berdasarkan alasan tersebut di atas, maka permasalahan yang timbul adalah:




  1. Apakah  ada  pengaruh  arus  pengelasan  terhadap  kualitas  kekuatan  tarik baja paduan rendah hasil pengelasan SMAW dengan elektroda E7018?

  2. Apakah ada pengaruh arus pengelasan terhadap kekuatan tarik daerah las baja paduan rendah hasil pengelasan SMAW dengan elektroda E7018?

  3. Apakah ada pengaruh arus pengelasan terhadap ketangguhan baja paduan rendah hasil pengelasan SMAW dengan elektroda E7018?

  4. Apakah ada pengaruh arus pengelasan terhadap struktur mikro baja paduan rendah hasil pengelasan SMAW dengan elektroda E7018?

  5. Apakah  ada  pengaruh  arus  pengelasan  terhadap  kekerasan  baja  paduan rendah hasil pengelasan SMAW dengan elektroda E7018?

ANALISIS TROUBLE SHOOTING PADA SISTEM PERAGA HIDROLIK SILINDER PENGGERAK GANDA

BAB I


PENDAHULUAN


A.  Alasan Pemilihan Judul


Seiring   dengan   kemajuan   teknologi   masa   kini,   agar   dapat   mencapai efesiensi  dan pengetahuan  yang tinggi  diberbagai  hal,  maka  manusia  berusaha untuk mencapai dan menciptakan suatu alat yang dapat membantu kegiatan dan memberikan  pengetahuan  pada manusia.  Manusia  berusaha  untuk maju dengan bekal ilmu pengetahuan dan teknologi dengan melakukan pemikiran yang khusus untuk mendapatkan  suatu ide atau metode dengan prinsip efisiensi,  yaitu suatu cara untuk mencapai hasil yang maksimal dengan waktu yang cepat dan tepat.


Banyak industri-industri  modern yang menuntut adanya suatu sistem yang bekerja secara otomatisasi untuk mempertinggi produktifitas kerja dalam mengoptimalkan produk yang dihasilkan, salah satunya denga sistem hidrolik.


Dewasa  ini  sistim  hidrolik  banyak  digunakan  dalam  berbagai  macam industri  makanan,  industri  minuman,  industri  permesinan,   industri  otomotif, hingga industri pembuatan robot. Sehingga pengetahuan tentang komponen dari sistim hidrolik menjadi sangat penting dalam semua cabang produksi industrial.


Kondisi sistem hidrolik dalam penggunaannya  akan mengalami penurunan kondisi  kualitas  kerjanya,  sehingga  perlu  adanya  langkah-langkah  perawatan untuk  menjaga  kualitas  kerja  supaya  tetap  baik.  Perawatan  dapat  dilakukan dengan memperhatikan pada gerakan sistem hidrolik yang mengatur gerak turun lengan utama. Apabila menemui kejanggalan atau mungkin kerusakan maka perlu dilakukan perbaikan.


Universitas Negeri Semarang sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi yang memiliki laboratorium pneumatik dan hidrolik, sampai saat ini masih belum banyak  memiliki  alat peraga  yang menggunakan  sistem  hidrolik.  Tugas  Akhir dimaksudkan untuk memberikan kontribusi positif pada penyedian alat peraga di laboratorium hidrolik dan untuk menyajikan aplikasi dari mata kuliah pneumatik dan hidrolik yang telah disampaikan.


B.  Tujuan


Tujuan dalam penulisan Proyek Akhir ini adalah sebagai berikut:




  1. Merencanakan dan membuat alat peraga di laboratorium  pneumatik  dan hidrolik dalam peningkatan kualitas pendidikan di Universitas Negeri Semarang.

  2. Untuk menganalisa trouble shooting pada sistem peraga hidrolik silinder penggerak ganda.

  3. Melatih dan mengembangkan kreatifitas dalam berfikir serta memberikan masukan positif kepada pembaca dengan  menyajikan  gagasan ilmiah mengenai sistem hidrolik.

ANALISIS TENAGA BERKURANG PADA MESIN MITSHUBISHI DIESEL L.300

BAB I


PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG MASALAH


Perkembangan   ilmu   pengetahuan   dan   teknologi   (IPTEK)   yang semakin  pesat  dewasa  ini  menimbulkan  dampak  pada  dunia  pendidikan dengan makin besarnya tantangan yang harus dihadapi oleh dunia pendidikan. Dunia  pendidikan  Sekarang  ini  makin  dituntut  untuk  dapat  menghasilkan sumber  daya manusia yang handal, yang mampu menjawab dan mengantisipasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dunia pendidikan harus dapat mewujudkan hal itu, maka perlu adanya peningkatan dan penyempurnaan dalam penyelenggaraan pendidikan.


Salah satu upaya peningakatan dan penyempurnaan dalam penyelenggaraan pendidikan khususnya dibidang teknik mesin khususnya otomotif, salah satunya engine stand Mitshubishi  Diesel L 300. Mitshubishi L 300 adalah jenis kendaraan yang diproduksi oleh mitshubishi jenis Diesel, sedangkan mitshubishi L 300 bensin didalam buku terdapat tambahan GS (gasoline)  yaitu  Mitshubishi  L 300 GS  (Mitshubishi  L 300 jenis  bensin). Mesin   Mitshubishi  L 300 didalamnya  terdapat beberapa sistem, antara lain adalah  sistem  penggerak  atau penghasil  tenaga  yaitu mesin(engine),  sistem bahan  bakar,  sistem  pelumasan,  sistem  pendingin,  sistem  pengisian  dan mengenai sistem kerja mesin (engine).


Mesin Diesel L 300 yang digunakan  pada mobil Mitshubishi  L 300 merupakan  salah  satu  jenis  motor  bakar  torak.  Mesin  (engine)  merupakan salah satu rangkaian  komponen  (sistem) yang sangat penting dalam sebuah kendaraan atau mobil, yaitu sebagai sistem yang mengubah panas yang dihasilkan   dari  proses pembakaran   campuran   udara dan bahan   bakar kemudian  diubah  menjadi  kerja  melalui  mekanisme  dengan  gerak  translasi lurus bolak-balik (reciprocal) menjadi gerak putar (rotasi). Motor dalam melakukan pengubahan tenaga panas menjadi tenaga penggerak ini dilakukan dalam mesin itu sendiri, sehingga disebut sebagai mesin pembakaran dalam (internal combustion engine).  Roda-roda suatu kendaraan yang memungkinkan  kendaraan  dapat  bergerak  serta  dapat  mengatasi  keadaan, jalan, udara dan sebagainya dibutuhkan tenaga dari dalam. Sumber tenaga dari dalam disebut mesin, salah satunya mesin Mitshubishi Diesel L 300.


Proyek akhir ini akan memaparkan cara kerja kemudian analisis dan cara  mengatasi  tenaga  mesin  berkurang  pada  Mitsubishi  Diesel  L  300, terutama pada mesin (engine). Hal-hal lain yang melatar belakangi pemilihan masalah  ini  adalah:  Mesin  merupakan  sistem  sangat  penting  dalam  proses kerja, penggerak maupun penghasil tenaga dalam suatu kendaraan bermotor maupun  mobil.  Mesin  tersebut  terdiri  dari beberapa  komponen,     jika salah salah satu komponen mengalami keausan atau kelengkungan yang disebabkan oleh kerja dan panas maka akan timbul gangguan dalam mesin seperti tenaga berkurang yang disebabkan oleh beberapa sebab seperti ring piston aus, kepala silinder  dan  permukaan  blok  silinder  yang  sudah  melengkung  sehingga menyebabkan gas bocor dan tenaga mesin yang dihasilkan kurang optimal.


B.  PERMASALAHAN


Permasalahan  yang dihadapi  dalam penyusunan  proyek akhir ini adalah :




  1. Bagaimana   cara  kerja  mesin  (engine)   khususnya   mesin  Diesel  empat langkah  yang digunakan  pada  Mitshubishi  L 300 serta  kelebihan  dan kekurangan mesin Mitshubishi Diesel L 300 dibandingkan dengan motor Diesel lainnya?

  2. Bagaimana  menganalisis  dan cara mengatasi  gangguan  jika tenaga mesin pada Mitshubishi Diesel L 300 berkurang?

ANALISIS GANGGUAN SISTEM INJEKSI BAHAN BAKAR MESIN DIESEL HYUNDAI FE 120 PS DAN CARA MENGATASINYA

BAB I


PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang


Diesel berasal dari nama seorang insinyur dari Jerman yang menemukan mesin ini pada tahun 1893, yaitu Dr. Rudolf Diesel. Pada waktu itu mesin tersebut tergantung pada panas yang dihasilkan ketika kompresi untuk menyalakan bahan bakar. Bahan bakar ini diteruskan ke silinder oleh tekanan udara pada akhir kompresi.


Pada tahun 1924, Robert Bosch, seorang insinyur dari Jerman, mencoba mengembangkan pompa injeksi daripada menggunakan metode tekanan udara yang akhirnya berhasil menyempurnakan ide dari Rudolf Diesel. Keberhasilan Robert Bosch dengan mesin dieselnya tersebut sampai saat ini digunakan oleh masyarakat.


Dalam  mesin  diesel,  bahan  bakar  diinjeksikan  ke  dalam  ruang  bakar pada akhir langkah kompresi. Sebelumnya udara yang diisap telah dikompresi dalam ruang bakar sampai tekanan dan temperatur menjadi naik. Naiknya tekanan  dan temperatur  mengakibatkan  bahan   bakar menyala  dan terbakar sendiri. Untuk memperoleh tekanan kompresi yang tinggi saat putaran mesin rendah,  banyaknya  udara  yang  masuk  ke dalam  silinder  harus  besar  tanpa menggunakan throttle valve untuk membatasi aliran dari udara yang dihisap. Dengan demikian dalam sebuah mesin diesel, output mesinnya dikontrol oleh pengontrol banyaknya bahan bakar yang diinjeksikan. Berbeda dengan mesin diesel, output mesin bensin dikontrol oleh membuka dan menutupnya throttle valve dengan cara mengontrol  banyaknya  campuran  udara dan bahan bakar yang masuk.


Bagian    terpenting    saat    pemeliharaan   pada    mesin    bensin    yaitu perbandingan  udara dan bahan bakar dari campuran udara dan bahan bakar, besarnya campuran yang masuk, apakah tetah memadai kompresinya, apakah ada atau tidak kemampuan pengapiannya dan juga apakah saat pengapiannya tepat.  Sementara  dalam  mesin  diesel,  kompresi  adalah  bagian  yang  paling penting dalam pemeliharaan.. Penggunaan perbandingan kompresi yang tinggi dan bahan bakar dengan titik bakar (ignition point) yang rendah akan memperbaiki kemampuan terbakarnya bahan bakar.


Banyaknya  udara yang masuk ke silinder  pada mesin diesel  memiliki pengaruh  besar  terhadap  terjadinya  pembakaran  sendiri  (self-ignition) yang dapat menentukan output. Efisiensi pengisapan adalah suatu hal yang penting. Untuk bahan bakar mesin diesel menggunakan minyak diesel (solar). Bahan bakar   diinjeksikan   ke   dalam   ruang   bakar,   dan   dapat   terbakar   secara spontanitas oleh adanya temperatur udara yang tinggi. Tingginya temperatur udara yang dikompresikan  dapat mempermudah  bahan bakar untuk terbakar secara spontanitas. Nilai kemampuan bahan bakar diesel untuk cepat terbakar adalah angka cetane (cetane number). Untuk mesin diesel yang berkecepatan tinggi  yang  digunakan  pada  kendaraan  truk  dan  mobil-mobil  angka  cetane yang umumnya digunakan sekurang-kurangnya 40-45.


B.  Permasalahan


Dari uraian tersebut di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :




  1. Gangguan  apa saja yang sering  terjadi  pada sistem injeksi bahan bakar pada mesin diesel Hyundai FE 120 PS ?

  2. Bagaimana  cara  mengatasi  gangguan  yang  terjadi  pada  sistem  injeksi bahan bakar pada mesin diesel Hyundai FE 120 PS (trouble shooting) ?