Tampilkan postingan dengan label Skripsi Teknik Elektro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Skripsi Teknik Elektro. Tampilkan semua postingan

REKAYASA PERANGKAT LUNAK PEMBELAJARAN BACA AL-QUR’AN BERBASIS MULTIMEDIA

BAB I


PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah



Seiring dengan perkembangan teknologi di bidang komputer saat ini, baik dalam perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software), hampir sebagian besar pekerjaan manusia kini diselesaikan dengan komputer. Dengan demikian, komputer dapat dikatakan sebagai salah satu alat bantu manusia  dalam menyelesaikan  suatu pekerjaan.  Pemakaian  komputer sering digunakan untuk hal-hal yang berkenaan dengan pemrosesan data (data processing) dan  pengolahan   kata  (word  processing). Salah  satu   alasan, mengapa komputer cenderung digunakan sebagai alat bantu    dalam menyelesaikan suatu pekerjaan karena pekerjaan yang dilakukan menggunakan komputer memiliki kecepatan proses yang lebih dapat diandalkan.


Suatu informasi pada kenyataannya akan lebih efisisen dan efektif dengan  diterapkannya  komputerisasi,  karena  segala  sesuatu  dituntut  serba cepat  dan  akurat,  seiring  dengan  perkembangan   jaman  maka  teknologi komputer  juga  semakin  berkembang  pula  di  berbagai  bidang.  Salah  satu bidang yang terpengaruh adanya perkembangan teknologi komputer adalah di bidang  keagamaan.   Hampir  semua  kegiatan  keagamaan   yang  ada  dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat suatu pembelajaran dengan berdasar pada teknologi komputer.


Kegiatan keagamaan yang dapat dipakai untuk membuat pembelajaran antara  lain  tuntunan  wudlu,  tuntunan  sholat,  baca  dan tulis Al-Qur’an  dan masih banyak lagi. Dalam hal ini penulis ingin membuat suatu pembelajaran membaca Al-Qur’an  secara  interaktif  dengan memakai  teknologi  komputer yang  bertujuan  untuk lebih  mempermudah  bagi  pemula  yang ingin belajar membaca Al-Qur’an.  Dengan adanya software pembelajaran  ini diharapkan para pemula dapat dengan mudah berinteraksi dalam proses kegiatan belajar membaca Al-Qur’an.


Kendala-kendala yang dihadapi dalam proses belajar membaca Al-Qur’an bagi pemula adalah dalam proses pengucapan huruf masih belum bisa membedakan antara pengucapan huruf satu dengan huruf yang lain dalam huruf  hijaiyah dengan  lafal  yang  hampir  sama,  contoh  ?  (Qof) dengan  ? (Kho), ?   (Dlod) dengan  ? (Dho), ?   (Dal) dengan  ?  (Dzal),  pada  saat pengucapan panjang pendek huruf hijaiyah masih belum dapat membedakan antara huruf yang seharusnya dibaca panjang atau pendek.


Dalam membaca Al-Qur’an terdapat kaidah-kaidah dalam pengucapan huruf hijaiyah (hukum tajwid) yang harus dimengerti dan dipahami oleh pembaca Al-Qur’an tetapi pada prakteknya sering tidak diindahkan, banyak yang hanya sekedar membaca tanpa mengetahui hukumnya. Dari kendala- kendala yang telah disebutkan di atas, kendala yang paling sulit adalah banyak pemula   yang   tidak   mengindahkan   kaidah-kaidah   yang   telah   ditetapkan (hukum tajwid). Karena dalam bahasa arab sedikit saja kesalahan dalam pengucapan huruf maka akan mempengaruhi artinya.


Dengan  adanya  kendala-kendala  tersebut  di  atas  maka  diperlukan suatu  alat bantu  yang  akan  mempermudah  dalam  proses  belajar  membaca Al-Qur’an. Alat  bantu  yang  dimaksudkan  disini  berisi  pengenalan  huruf hijaiyah, cara membaca Al-Qur’an yang benar berdasarkan panjang pendek, serta pengucapan huruf hijaiyah yang benar sesuai dengan aturan atau kaidah- kaidah yang telah ditetapkan (hukum tajwid).


Berdasarkan  masalah  tersebut  maka  dalam  pembuatan  skripsi  ini penulis mengambil judul “Rekayasa Perangkat Lunak Pembelajaran Baca Al-Qur’an Berbasis Multimedia”.


1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan   latar  belakang  masalah  di  atas  maka  perumusan masalah yang akan dibahas dalam tugas akhir ini adalah sebagai berikut:Membuat Suatu Aplikasi Pembelajaran Baca Al-Qur’an Berbasis Multimedia”

PENGHITUNG JUMLAH PENGUNJUNG RUANG PERTUNJUKAN BERBASIS MIKROKONTROLER AT89C51

BAB I


PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang Masalah


Di dalam suatu kegiatan  khususnya  yang berada di dalam suatu ruangan yang melibatkan  banyak pengunjung  yang harus diperhatikan adalah kapasitas di dalam ruangan tersebut dimana diharapkan banyaknya pengunjung yang masuk dapat terkendali. Seperti kegiatan persidangan, umumnya pengunjung yang berkepentingan langsung masuk ke dalam ruang tersebut tanpa mengetahui ruang tersebut sudah penuh atau belum, jika pada ruang tersebut masih ada sisa kursi maka hal tersebut tidak masalah  tapi jika ruangan  tersebut  sudah penuh maka  akan akan  membuat  kondisi  orang didalam  ruangan   tersebut  tidak nyaman.


Begitu juga pada pertunjukan hiburan biasanya penjaga kurang memperhatikan kapasitas ruangan dengan jumlah pengunjung yang masuk, sehingga menyebabkan ruang tersebut kelebihan pengunjung.


Berdasarkan uraian diatas, penerapan alat penghitung jumlah pengunjung ruang pertunjukan diharapkan bisa membantu mengatasi  hal tersebut  sehingga  dapat memberikan  kenyamanan  dan keselamatan  pengunjung  yang berada  di dalam  ruang pertunjukan.  Alat penghitung   jumlah  pengunjung  ini juga dapat  di aplikasikan  untuk keperluan  umum  atau industri  yang membutuhkan  suatu  kapasitas/volume  tertentu,  seperti  contohnya  untuk  mengetahui  suatu  kapasitas  jumlah  pengunjung  di Gedung olah raga, juga dapat digunakan untuk mengetahui jumlah kapasitas volume dari suatu benda yang berada dalam suatu tempat/ruangan, dan masih banyak lagi.


B.      Rumusan Masalah


Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas maka, permasalahan  pengembangan  sistem minimum yang akan dibuat dapat dirumuskan sebagai berikut:




  1. Bagaimana  merancang  dan membuat  rangkaian  hardware yang meliputi  rangkaian  minimum  mikrokontroler,  rangkaian sensor, rangkaian penampil dan buzzer dapat difungsikan sebagai penghitung pengunjung ruang pertunjukan.

  2. Bagaimana merancang dan membuat software dalam mengendalikan sistem minimum mikrokontroler AT89C51 supaya alat dapat bekerja secara otomatis.

  3. Bagaimana  mengetahui  unjuk  kerja  alat  penghitung  yang  akan  dibuat  tersebut,  apakah  kerjanya  sesuai  dengan  yang direncanakan.

PEMBUATAN SIMULASI RANGKAIAN RESISTOR, INDUKTOR, DAN KAPASITOR ( R L C ) BERBASIS VISUAL BASIC SEBAGAI MEDIA BELAJAR

BAB I


PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang


Kemajuan teknologi memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan manusia.  Salah  satu  contohnya  adalah  untuk  membantu  menyelesaikan masalah –masalah dalam  dunia pendidikan yang mengarah pada pengembangan sumber daya manusia.


Contoh dari kemajuan teknologi adalah adanya sistem komputerisasi diberbagai instansi khususnya instansi pendidikan. Dalam hal pendidikan, komputer  dapat  dipergunakan  sebagai  alat  bantu  (media)  dalam  proses belajar  mengajar,  baik  untuk  guru  maupun  siswa.  Komputer  juga  bisa berfungsi sebagai media tutorial, alat peraga dan juga alat uji.


Sebagai media tutorial, komputer memiliki keunggulan dalam hal interaksi, menumbuhkan minat belajar mandiri serta dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa/anak. Sebagai media alat peraga, komputer mempunyai kelebihan dapat memperagakan percobaan tanpa adanya resiko kegagalan fungsi kerja. Sebagai alat uji, komputer memiliki keunggulan dalam keobyektifan, ketepatan dan kecepatan dalam penghitungan.


Rangkaian listrik merupakan pengetahuan dasar yang harus dipahami oleh seseorang sebelum mempelajari ilmu elektronika secara lebih jauh. Rangkaian listrik dapat terbentuk dari rangkaian resistor, induktor, dan kapasitor serta kombinasi antara resistor,  induktor,  dan kapasitor.


Rangkaian–rangkaian  tersebut  merupakan  dasar  dari  aplikasi  rangkaian elektronika yang sudah berkembang saat ini. Visual   basic   merupakan   software   yang   dapat   digunakan   untuk membuat suatu program aplikasi. Pemrograman menggunakan visual basic dirasa lebih mudah dibandingkan menggunakan bahasa pemrograman yang lain karena visual basic sudah menyajikan beberapa “ tools “ yang dibutuhkan dalam menyusun aplikasi.


Untuk membantu memahami rangkaian listrik terutama rangkaian resistor, induktor, dan kapasitor perlu adanya media belajar yang menarik dan inovatif. Salah satunya adalah dengan menggunakan software yang berisi simulasi rangkaian resistor, induktor, dan kapasitor. Dengan bantuan software, seseorang tidak perlu merangkai rangkaian resistor, induktor, dan kapasitor bila hanya ingin mengetahui perhitungan–perhitungan dasar dari rangkaian resistor, induktor, dan kapasitor. Sebagai contoh, bila ingin mengetahui besarnya frekuensi output dari rangkaian osilator LC. Dengan bantuan software, user cukup memasukkan nilai – nilai dari komponen pembentuk osilator. Maka secara otomatis komputer akan memproses nilai tersebut dan menampilkan hasilnya. Sehingga tanpa merangkai rangkaian osilator, dapat diketahui besarnya frekuensi output dari rangkaian osilator. Untuk keperluan analisis elektronika, juga dapat digunakan bantuan software sebagai bahan perbandingan antara praktikum dengan teori. Jadi, dengan adanya software simulasi rangkaian resistor, induktor, dan kapasitor akan didapatkan suatu media belajar yang menarik. Software tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk merancang suatu rangkaian listrik dasar sebelum dibuat rangkaian yang sebenarnya, sehingga dapat mengurangi resiko kegagalan fungsi kerja yang mungkin akan terjadi.


Berdasarkan pemikiran diatas, kiranya penting dan perlu untuk dibuat suatu inovasi pembelajaran tentang media belajar elektronika. Untuk itu maka penulis tertarik untuk membuat suatu software komputer menggunakan visual basic, dimana didalam software tersebut berisi simulasi dan tutorial tentang rangkaian  resistor,  induktor,  dan  kapasitor  yang  dapat  digunakan  sebagai media belajar sehingga siswa lebih tertarik untuk belajar elektronika.


B.  Rumusan Masalah


Dari  penjelasan  diatas,  dirumuskan  suatu  permasalahan,  dapatkah visual basic digunakan untuk membuat software simulasi rangkaian resistor, induktor, dan  kapasitor ( R L C ) sebagai media belajar.

PEMANFAATAN TURBIN ANGIN DUA SUDU SEBAGAI PENGGERAK MULA ALTERNATOR PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA ANGIN

BAB I


PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang


Energi  merupakan  bagian  penting  dalam  kehidupan   masyarakat karena hampir semua aktivitas manusia selalu membutuhkan energi. Misalnya untuk penerangan, proses industri atau untuk menggerakkan peralatan rumah tangga diperlukan energi listrik, untuk menggerakkan kendaraan  baik roda dua maupun  empat diperlukan  bensin,  serta masih banyak peralatan di sekitar kehidupan manusia yang memerlukan energi. Sebagian  besar  energi  yang digunakan  di Indonesia  berasal  dari energi fosil yang berbentuk minyak bumi dan gas bumi. Ketergantungan terhadap bahan bakar fosil setidaknya memiliki tiga ancaman serius, yakni:




  1. Menipisnya cadangan minyak bumi.

  2. Kenaikan  /  ketidakstabilan  harga  akibat  laju  permintaan  yang lebih besar dari produksi minyak.

  3. Polusi gas rumah kaca (terutama CO2) akibat pembakaran bahan bakar fosil.


Kadar CO2  saat ini disebut sebagai yang tertinggi selama 125 tahun belakangan,  efek buruk CO2  terhadap pemanasan global telah disepakati hampir oleh semua kalangan. Hal ini menimbulkan  ancaman serius bagi kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Oleh karena itu, pengembangan dan implementasi  bahan bakar terbarukan  yang ramah lingkungan  perlu mendapatkan    perhatian    serius     dari     berbagai    negara.     Pemerintah sebenarnya telah menyiapkan berbagai peraturan untuk mengurangi ketergantungan  terhadap bahan bakar fosil (misalnya:  Kebijakan  Umum Bidang Energi (KUBE) tahun 1980 dan Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. 996.K / 43 / MPE / 1999 tentang prioritasi penggunaan bahan bakar terbarukan untuk produksi listrik yang hendak dibeli PLN). Namun  sayang  sekali,  pada  tataran  implementasi  belum  terlihat  adanya usaha serius dan sistematik untuk menerapkan energi terbarukan guna substitusi bahan bakar fosil. (Yuli Setyo : 2005)


Pemanfaatan energi angin sebenarnya bukan barang baru bagi umat manusia. Semenjak 2000 tahun lalu teknologi pemanfaatan sumber daya angin  dan  air  sudah  dikenal  manusia  dalam  bentuk  kincir  angin  (wind mills).  Selain  ramah  lingkungan,  sumber  energi  ini juga selalu  tersedia setiap waktu dan memiliki masa depan bisnis yang menguntungkan.  Kini sebagian besar negara maju di Eropa dan Amerika Serikat telah memanfaatkan sumber energi ini. Pada masa awal perkembangannya, teknologi energi angin lebih banyak dimanfaatkan sebagai sulih tenaga manusia  dalam  bidang  pertanian  dan  manufaktur,  maka  kini  dengan teknologi dan bahan yang baru, manusia membuat turbin angin untuk membangkitkan energi listrik yang bersih, baik untuk penerangan, sumber panas atau tenaga pembangkit untuk alat-alat rumah tangga. Menurut data dari American Wind Energy Association (AWEA), hingga saat ini telah ada sekitar 20.000 turbin angin diseluruh dunia yang dimanfaatkan untuk menghasilkan  listrik.  Kebanyakan  turbin  semacam  itu  dioperasikan  di lahan khusus yang disebut “ladang angin” (wind farm).


Di negara-negara Eropa, pemanfaatan sumber energi yang dapat diperbaharui  diperkirakan  bakal mencapai 8% dari permintaan  energi di tahun 2005. Energi angin menjadi salah satu alternatif yang banyak dipilih dan sekaligus berfungsi mengurangi emisi gas karbondioksida (CO2) yang dihasilkan oleh perangkat sumber energi sebelumnya. Tujuh tahun belakangan ini, kapasitas energi angin terpasang di Eropa melonjak hingga 40% per tahun dan saat ini kapasitas tersebut dapat memenuhi kebutuhan listrik lebih dari 5 juta kepala keluarga. Industri energi tenaga angin diperkirakan  bakal  memiliki  kapasitas  40.000  MW  (mega  Watt)  yang dapat  mencukupi  kebutuhan  listrik  untuk  50 juta  kepala  keluarga  pada tahun 2010. Energi angin adalah energi yang relatif bersih dan ramah lingkungan karena tidak menghasilkan karbon dioksida (CO2) atau gas-gas lain yang berperan dalam pemanasan global, sulphur dioksida dan nitrogen oksida  (jenis gas yang menyebabkan  hujan asam).  Energi ini pun tidak menghasilkan  limbah yang berbahaya bagi lingkungan ataupun manusia. Meski  demikian,  harap  diingat  bahwa  sekecil  apapun  semua  bentuk produksi energi selalu memiliki akibat bagi lingkungan. Hanya saja efek turbin angin sangat rendah, bersifat lokal dan mudah dikelola. Di samping itu turbin atau kincir angin memiliki pesona tersendiri dan menjadi atraksi wisata yang menarik,  seperti misalnya saja kincir-kincir  angin di negeri Belanda. (Nanang Okta : 2006)


B.  Permasalahan


Permasalahan yang muncul dalam penelitian ini adalah:




  1. Bagaimanakah   mengaplikasikan    turbin    angin    dua    sudu    untuk penggerak mula alternator mobil ?

  2. Berapakah daya dan tegangan yang dihasilkan oleh alternator mobil ?

MODUL RANCANG BANGUN MESIN PENGAMPELAS KAYU BERBASIS PNEUMATIK SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN

BAB I


PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang


Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak menciptakan peralatan teknologi yang dapat dimanfaatkan oleh dunia pendidikan, mulai pendidikan tingkat dasar sampai pendidikan tingkat tinggi. Salah  satu  hasil  dari  teknologi  yang  telah  dimanfaatkan  dalam  dunia pendidikan adalah media/alat sumber belajar yang berguna untuk menyumbangkan peran dalam  proses belajar mengajar.


Media pendidikan merupakan salah satu faktor yang besar pengaruhnya terhadap terjadinya  proses  belajar mengajar  yang efektif dan efisien. Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar pemanfaatan media pendidikan serta sumber-sumer pendidikan yang lain dapat menunjang keberhasilan proses belajar mengajar. Penggunaan media dalam proses belajar mengajar bertujuan agar proses belajar mengajar tersebut dapat berlangsung secara tepat guna dan berhasil guna, sehingga mutu pendidikan dapat ditingkatkan (Latuheru, 1988: 15)


Pembelajaran yang baik, selain memerlukan pendidik yang menguasai materi dan metode pembelajaran, juga memerlukan suatu media / alat bantu pengajaran. Tersedianya alat bantu mutlak diperlukan untuk pembelajaran praktikum, sehingga dapat memberikan pengalaman kepada peserta didik.


Pneumatik merupakan salah satu ilmu teknik yang penting dalam teknologi dewasa ini. Kesulitan otomasi yang timbul atas dasar-dasar yang rasional dapat dipecahkan dengan sistem-sistem pneumatik. Teknologi pneumatik merupakan suatu bentuk mekanisasi atau otomasi sebagian atau otomasi lengkap pada pengendalian atau penggerakan selain itu juga pada peralatan-peralatan rentang untuk pengerjaan tertentu, atau pada alat-alat angkut, gosok dan angkat.


Pada prinsipnya pneumatik menggunakan teknik udara mampat, di mana udara mampat sebagai pendukung, pengangkut dan pemberi tenaga pada peralatan yang menggunakan sistem pneumatik salah satu diantaranya adalah mesin pengampelas kayu.


Pada kehidupan sehari-hari biasanya pengampelasan dilakukan secara manual yang membutuhkan banyak tenaga, waktu dan kurang efisiensi. Tetapi dengan proses mekanisasi menggunakan sistem pneumatik dapat mempermudah  atau  memperingan  pekerjaan,  efisiensi  waktu,  tenaga  dan biaya. Pemahaman mengenai dasar-dasar pneumatik  dan  aplikasinya  perlu diberikan kepada mahasiswa jurusan Teknik Elektro sebagai bekal untuk digunakan di dunia industri dalam bentuk media/alat pembelajaran.


Berdasarkan uraian di atas maka perlu pengadaan media pembelajaran praktikum mengenai penggunaan sistem pneumatik dalam pengontrolan mesin pengampelas kayu. Maka penelitian ini berjudul “Modul Rancang Bangun Mesin Pengampelas Kayu Berbasis Pneumatik Sebagai Media Pembelajaran”.


B.  Permasalahan


Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, maka masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut :




  1. Bagaimana desain mesin pengampelas kayu berbasis pneumatik sebagai media pembelajaran?

  2. Bagaimana kinerja mesin pengampelas kayu berbasis pneumatik dalam fungsinya sebagai media pembelajaran?

EFEKTIVITAS KONSENTRASI DAN TEMPERATUR LARUTAN FERIKLORIDA (FeCl3) TERHADAP KECEPATAN PELARUTAN PRINTED CIRCUIT BOARD (PCB)

BAB 1


PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang


Rangkaian tercetak terbuat dari bahan tembaga berupa lembaran yang sangat tipis sehingga memerlukan suatu penompang. Penompang atau alas pada rangkaian tercetak berfungsi sebagai perangkat yang berguna untuk menempatkan komponen elektronika. Rangkaian tercetak yang dikenal sebagai PCB (Printed Circuit Board) dibuat dengan cara melarutkan papan pertinak ke dalam larutan kimia. Pada papan pertinak terdapat lapisan tembaga, yang selanjutnya setelah digambari jalur–jalur, tembaga yang tidak diperlukan perlu dilarutkan. Proses pelarutan  papan  pertinak  merupakan  reaksi   kimia   dimana   reaksi  kimia berlangsung dengan laju reaksi yang berbeda-beda, ada reaksi yang berlangsung sangat cepat dan ada pula yang berlangsung lambat. Selain tergantung pada jenis zat yang bereaksi, laju reaksi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu; konsentrasi, luas permukaan sentuh,  suhu, dan katalisator.  Untuk mendapatkan laju reaksi yang diinginkan, keempat faktor yang mempengaruhi laju reaksi tersebut harus diperhatikan, sehingga reaksi akan berlangsung secara efektif.


Feriklorida (FeCl3) merupakan salah satu larutan yang dapat digunakan untuk melarutkan tembaga. Feriklorida merupakan senyawa garam yang bersifat ionik, yang terbentuk dari unsur halogen dan unsur logam. Unsur halogen sangat reaktif sehingga dapat bereaksi dengan unsur golongan lain seperti unsur logam, non logam, metaloid, bahkan unsur gas mulia.


Dalam pelarutan papan pertinak, memerlukan waktu untuk dapat melarutkan tembaga sesuai dengan jalur yang telah ditentukan. Pada umumnya pelarutan papan pertinak kurang memperhitungkan konsentrasi dan temperatur larutan, sehingga tidak pernah mencoba melarutkan papan pertinak pada konsentrasi  dan temperatur  yang bervariasi dengan  kecepatan putar dari larutan feriklorida yang tetap.


Berdasarkan waktu pelarutan yang dibutuhkan untuk melarutkan papan pertinak, maka dalam penelitian ini diberi judul “Efektifitas konsentrasi dan temperatur larutan  feriklorida terhadap kecepatan pelarutan PCB”.


B.   Permasalahan


Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah, permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adalah:




  1. Apakah  ada  perbedaan  kecepatan  pelarutan  PCB  jika  konsentrasi  larutan feriklorida diubah–ubah?

  2. Apakah  ada  perbedaan  kecepatan  pelarutan  PCB  jika  temperatur  larutan feriklorida diubah–ubah?

  3. Apakah  ada  perbedaan  kecepatan  pelarutan   PCB  jika  konsentrasi  dan temperatur larutan feriklorida diubah–ubah?

  4. Bagaimana  hubungan  konsentrasi  dan  temperatur  dari  larutan  feriklorida terhadap kecepatan pelarutan PCB?

  5. Pada  konsentrasi dan temperatur larutan feriklorida  berapakah yang paling efektif?

ANALISA KERJA RECLOSER TIPE VWVE MEREK COOPER DI WILAYAH PT.(Persero) PLN APJ SURAKARTA

BAB I


PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang


Sistem tenaga listrik sangat memegang peranan penting dalam semua aspek, sehingga faktor keamanan pada pusat pembangkit listrik maupun pada jaringan tegangan menengah sangat diperlukan. Dalam  jaringan distribusi    terdapat   banyak    sekali    gangguan    yang mengakibatkan penurunan kapasitas daya listrik yang disalurkan ke beban. Hal tersebut dapat mengganggu mekanisme kerja penggunaan energi listrik. Maka dari itu untuk memperoleh kontinuitas pelayanan tersebut penerapan dan penggunaan peralatan proteksi dalam mengatasai gangguan mempunyai peranan yang sangat penting.


Peralatan  pengaman  dalam     sistem  tenaga  listrik,  digunakan  sebagai pengaman pada daerah - daerah tertentu. Daerah pengaman tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga dibeberapa bagian dalam saluran terjadi tumpang tindih sehingga tidak ada daerah didalam sistem tenaga listrik yang tidak terlindungi. Alat proteksi yang digunakan adalah sebuah rele dan perlengkapannya yang bekerja memberi perintah kepada pemutus tenaga untuk membuka atau memisahkan bagian bila terjadi gangguan. Untuk memudahkan pengamanan terhadap gangguan, digunakan rele yang berfungsi  membuka  dan  menutup  secara  otomatis  yang  disebut  ”reclosing (recloser)” dimana sistem kendalinya ada pada kotak kontrol elektronik.


Recloser  merupakan  suatu  peralatan  pengaman  yang  dapat  mendeteksi arus lebih karena hubung singkat antara fasa dengan fasa atau fasa dengan tanah, dimana recloser ini memutus arus dan menutup kembali secara otomatis dengan selang waktu yang dapat diatur misal dengan setting interval reclose 1 sampai 5 detik dan setting interval reclose 2 sampai 10 detik dan pada trip ketiga recloser akan membuka tetap dengan sendirinya karena gangguan itu bersifat permanen. Peralatan  ini  digunakan  sebagai  pelindung  saluran  distrbusi  dan  mempunyai peranan penting dalam perlindungan sistem daya karena saluran distribusi merupakan elemen vital suatu jala-jala, yang menghubungkan gardu induk (GI) ke pusat - pusat beban.


Pembatasan gangguan pelayanan dapat diukur untuk daerah sesempit mungkin dengan cara memasang saklar-saklar bersekering yang dipasang pada tempat-tempat strategis dan diberi pengaman lebur. Ini akan menjamin bahwa sekering ditempat yang terdekat dengan letak gangguan akan bekerja terlebih dahulu  pada  saat  ganguan  itu  terjadi.  Pada  jaringan  distribusi  diperoleh  data bahwa 70% sampai 80% gangguan bersifat permanen yaitu gangguan yang dapat dihilangkan atau diperbaiki setelah bagian yang terganggu itu diisolir dengan bekerjanya pemutus daya (TS. Hautaruk,1991:4).


Permasalahan yang sering muncul pada saluran distribusi atau jaringan tegangan menengah 20kV adalah bagaimana mengatasi suatu gangguan yang menghambat kelancaran sistem penyaluran beban. Ada banyak jenis recloser yang digunakan  dalam  mengatasi  gangguan  salah  satunya  memasang  sebuah  rele otomatis yang  dapat  mempersempit  daerah  gangguan.  Jenis  recloser menurut media peredaman busur apinya adalah (PLN, Pusdiklat.1997):


1.Vaccum (hampa udara)


- Nova


2. Gas SF6


-Brush


-Nullec


3. Oil (minyak)


-MVE


-VWVE


Recloser tipe MVE dan recloser tipe VWVE keduanya mempunyai prinsip kerja yang sama hanya dibedakan pada media pemutusnya saja. Recloser tipe MVE menggunakan motor listrik 220 V dengan daya sebesar 0,75 HP, sedangkan recloser tipe VWVE menggunakan closing selenoid 20 Kv. Recloser tipe VWVE lebih banyak dipakai dari pada recloser tipe MVE, sebab dilihat dari segi ekonomisnya lebih mudah perawatan dan lebih sederhana.


Bertolak dari permasalahan diatas maka penulis tertarik untuk malakukan analisis  kerja  recloser  tipe  VWVE  (Vaccum  Withstand  Voltage  Electronical) merek Cooper.


B.  Permasalah


Untuk menghindari presepsi yang salah dan meluasnya pembahasan, maka pembatasan masalah penelitian ini adalah pada analisis kerja dari sebuah recloser tipe VWVE (Vaccum Withstand Voltage Elektronical) merek cooper dengan arus pengaturan   pemutusan  sebesar    200%,300%,400%,500%    dari    arus    setting kumparan trip yang sebesar 100A atau bisa disebut dengan I nominal, karena recloser yang digunakan di wilayah kerja PT.PLN (Persero) cabang Surakarta menggunakan arus pengaturan setting kumparan trip yang besarnya 100A.


Rumusan masalah skripsi ini adalah :




  1. Bagaimana  recloser tipe  VWVE bekerja  mulai  dari  mendapatkan  arus gangguan trip sampai dengan recloser kembali beroperasi seperti sebelum terjadinya gangguan.

  2. Seberapa cepat sebuah recloser tipe VWVE merek cooper akan trip jika terjadi arus gangguan sebesar 200%,300%,400%,500% dari I nominal yang mungkin terjadi pada jaringan tegangan menengah 20 kV.

  3. Mengapa terjadi perbedaan waktu pemutusan antara waktu pengaturan dengan waktu nyata dan waktu pemutusan antara fasa trip dan ground trip.