Tampilkan postingan dengan label Skripsi MIPA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Skripsi MIPA. Tampilkan semua postingan

PENERAPAN MICROSOFT VISUAL BASIC 6.0 DALAM MANAJEMEN DATA GURU, DATA SISWA DAN DATA KARYAWAN DI SMP NEGERI 1 MARGOYOSO KABUPATEN PATI

BAB I


PENDAHULUAN


A.  LATAR BELAKANG MASALAH


Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin pesat disertai dengan persaingan dalam dunia usaha. Salah satu penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam aplikasi-aplikasi  komputer yang semakin marak baik di dunia usaha maupun di dunia pendidikan.


Perkembangan komputer yang pesat bisa dilihat dengan adanya pusat- pusat  pendidikan   komputer   yang   memudahkan   masyarakat   untuk   bisa menikmati teknologi komputer yang dahulu hanya dimiliki kalangan terbatas, hal ini dibuktikan  dengan adanya komputerisasi  disegala bidang contohnya: bidang ekonomi, sosial, pendidikan, politik budaya, kesehatan, manajemen, administrasi dan lembaga-lembaga pemerintah maupun swasta.


Sekolah  sebagai  salah  satu  bentuk organisasi  merupakan  pelaksana teknis   pendidikan   formal.  Struktur organisasi sekolah tersebut terlihat hubungan antara kepala sekolah, guru, siswa, dan pegawai tata usaha sekolah serta pihak lain di luar sekolah.


Kita ketahui fungsi manajemen sekolah adalah pengelolaan data siswa, guru dan karyawan. Pengelolaannya kebanyakan masih menggunakan sistem pemrosesan manual yang masih memiliki banyak kekurangan. Misalnya membutuhkan  waktu yang lama untuk mengerjakannya.  Sistem pemrosesan manual   (berbasis   kertas)   merupakan   bentuk   pemrosesan   dasar   berupa setumpuk  rekaman  yang  disimpan  di  rak-rak  berkas.  Jika  suatu  berkas diperlukan berkas tersebut harus dicari pada rak-rak tersebut (Kadir, 1999:12). Konkritnya, sistem pemrosesan berkas memiliki kekurangan antara lain: kemubadziran   data,   keterbatasan   berbagi   data,   ketidakkonsistenan    dan kurangnya integritas, serta ketidakluwesan (Kadir, 1999:12).


Di   sekolah   SMP   Negeri 1 Margoyoso Kabupaten Pati untuk melakukan pendataan guru, siswa dan karyawan masih menggunakan sistem berkas  (kertas)  artinya  mencatat  data  guru,  siswa  dan  karyawan  di  kertas. Padahal di SMP Negeri 1 Margoyoso Kabupaten Pati sudah mempunyai komputer tapi tidak dimanfaatkan dengan maksimal, yang sering dipakai yaitu dengan  Microsoft  Word  dan  Microsoft  Excel.  Padahal  kita  tahu  sekarang sudah banyak beredar software komputer dimana mempunyai fungsi untuk mempermudah  seorang pemakai untuk mengoperasikannya.  Untuk mencatat data siswa tiap tahun ajaran baru pasti ada siswa yang masuk dengan jumlah banyak  dan  saat  inilah  mulai  proses  memasukkan  data  siswa  satu  persatu. Beda dengan guru dan karyawan mungkin tiap tahun hanya ada satu atau dua orang yang masuk, pensiun atau keluar yang bisa disebabkan karena pindah atau  meninggal  dunia.  Memasukkan  data  siswa  satu  persatu  dengan  cara dicatat  di  kertas,  memerlukan   waktu  lama  karena  harus  dikelompokkan menurut kelas dimana siswa itu diterima.


Hal seperti ini juga menyulitkan saat kita sewaktu-waktu ingin mencari data guru, siswa dan karyawan karena kita harus mencari ditumpukan berkas tersebut. SMP Negeri 1 Margoyoso Kabupaten Pati memiliki 15 kelas yang terdiri dari kelas I, kelas II dan kelas III.


Perlu diketahui komputer juga dapat digunakan untuk perhitungan- perhitungan yang rumit dalam skala besar serta kemampuannya dalam menyimpan  atau  memberikan  suatu  informasi,  dan  juga  dapat  digunaka sebagai media telekomunikasi  apabila dihubungkan  dengan jaringan telepon atau biasa sering disebut dengan internet. Tetapi juga dapat digunakan untuk menyimpan dokumen penting atau sebagai pusat data (database) yang dapat dijadikan informasi yang bermanfaat bagi semua orang yang membutuhkannya.


Salah satu perangkat lunak pengembangan program aplikasi database dengan Microsoft Visual Basic 6.0 yang lahir dari perkembangan  teknologi basis  data  menggunakan  komputer  perangkat  lunak  (software)  merupakan bahasa pemrograman yang canggih. Microsoft Visual Basic 6.0 adalah bahasa pemprograman  berbasis Microsoft Windows. Sebagai bahasa pemprograman yang    mutakhir,    Microsoft    Visual    Basic    6.0   di   desain    untuk    dapat memanfaatkan  fasilitas  yang  tersedia  dalam  Microsoft  Windows.   Dengan menggunakan  Microsoft  Visual  Basic  6.0  penulis  tertarik  untuk  membuat suatu basis data guru, data siswa dan data karyawan disekolah yang berisikan data lengkap dari guru, siswa dan karyawan. Alasan memakai Visual Basic (VB) karena secara  mendasar  VB mirip dengan bahasa pemrograman  yang lain, misalnya BASIC, C dan Pascal (tetapi tentu saja sintaks dari tiap-tiap bahasa tidak sama persis). Lompatan besar VB adalah kemampuannya untuk memanfaatkan Windows dan cara penggunaannya juga berbasis visual seperti aplikasi Windows lainnya, misalnya untuk mengatur besarnya jendela cukup dengan men-drag form yang tersedia dengan mouse sehingga diperoleh ukuran yang dikehendaki (Dewobroto W, 2002:3)


Dari latar belakang tersebut, maka penulis mengambil judul penerapan Microsoft  Visual  Basic  6.0  dalam  manajemen  pembuatan  basis  data  guru, siswa dan karyawan di sekolah SMP Negeri 1 Margoyoso Kabupaten Pati.


B.  PERUMUSAN MASALAH DAN PEMBATASANNYA


1.   Perumusan Masalah


Melihat latar belakang masalah tersebut, maka penulis akan merumuskan masalah yaitu bagaimana aplikasi dan proses kerja program basis data guru, siswa dan karyawan sekolah di SMP Negeri 1 Margoyoso Kabupaten Pati dengan  menggunakan program Visual Basic 6.0?


2.   Pembatasan Masalah


Manajemen sekolah mencangkup berbagai   bentuk kegiatan, sehingga  seluruh kegiatan  tidak mungkin  dibuat program basis datanya. Berdasarkan  pertimbangan  waktu,  pada kegiatan  ini hanya dapat dibuat basis data siswa, guru dan karyawan sekolah. Bahasa program yang digunakan adalah bahasa pemrograman Microsoft Visual Basic 6.0.

PEMBUATAN PROGRAM BASIS DATA DI SMP NEGERI 4 PATI DENGAN MICROSOFT VISUAL BASIC 6.0

BAB I


PENDAHULUAN


A.  LATAR BELAKANG


Dalam kehidupan masyarakat terdapat lembaga pendidikan formal dan non formal. Lembaga tersebut bertujuan untuk meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan formal adalah pendidikan sekolah sedangkan pendidikan non formal adalah pendidikan di luar sekolah.


Dalam sekolah terjadi proses pendidikan yaitu proses yang berkenaan dengan perkembangan  dan perubahan tingkah laku anak didik, pengetahuan, ketrampilan,  kepercayaan,  dan  kemampuan.  Apabila  seorang  murid  kurang atau tidak bisa mengalami perubahan dan perkembangan seperti di atas, murid tersebut akan dinyatakan tinggal kelas karena dirasa belum mampu untuk melanjutkan ke tingkatan yang lebih tinggi.


Dalam kegiatan sekolah tidak lepas dari data-data yang dapat berubah sewaktu-waktu  dan  dalam  jumlah  data  yang  sangat  besar.  Perubahan  data tersebut harus tersimpan dengan baik. Dalam pengelolaan  data, kebanyakan sekolah menggunakan sistem pemrosesan manual, yaitu data yang ada berupa setumpuk kertas atau rekaman yang disimpan dalam rak berkas.


Seiring dengan kemajuan teknologi, komputer merupakan produk teknologi yang mampu memecahkan masalah bukan hanya dalam segi perhitungan  tetapi juga dalam kemampuannya  menyimpan  dan memberikan informasi.  Walaupun  demikian  dalam  masyarakat  modern  komputer  lebih banyak dimanfaatkan sebagai pusat data (database) dibandingkan penggunaan lainnya.


Perkembangan  basis  data  tidak  lepas  dari  perkembangan  perangkat keras dan perangkat lunak. Salah satu perangkat lunak pengembangan aplikasi yang   populer   adalah   Microsoft   Visual   Basic   6.0   yaitu   suatu   bahasa pemrograman yang  berbasis Microsoft Windows. Sebagai  bahasa pemrograman yang mutakhir, Microsoft Visual Basic 6.0 didesain untuk dapat memanfaatkan fasilitas yang tersedia dalam Microsoft Windows.


Penggunaan  bahasa  pemrograman  Visual  Basic  dalam  penanganan basis data merupakan  kemajuan  teknologi  dalam perkembangan  basis data. Dalam menangani data yang besar, pemrograman Visual Basic sangat efektif dibandingkan  dengan  sistem  pemrosesan  manual  yang  dilakukan.  Di  SMP Negeri 4 Pati pengolahan basis datanya masih menggunakan Microsoft Access dan    Microsoft   Excel.   Kedua   program   tersebut mempunyai    beberapa kelemahan dalam pengolahan basis data antara lain dalam Microsoft Access hasil  program  yang  kita  buat  harus  disertakan  software  access  tidak  dapat berdiri sendiri dan menu pilihannya sudah tersusun dalam program tanpa perlu kita buat sendiri. Sedangkan dalam Visual Basic program yang kita buat bisa berdiri sendiri dengan membuat setupnya karena dalam Visual Basic terdapat fasilitas menu pilihan yang bisa kita atur sesuai dengan kebutuhan.


Kelemahan dalam Microsoft Excel adalah dalam proses pencarian data kurang cepat dan dalam  proses  pengeditan  kita  harus  memblok  data  yang  akan  kita edit kemudian  kita hapus dan baru proses pengeditan  dapat berlangsung.  Visual Basic memberi kemudahan dalam proses pencarian data, proses dapat kita atur sesuai yang kita inginkan  tanpa memblok  data yang akan kita edit melalui bahasa  pemrograman.   Dengan  menggunakan   pemrograman   Visual  Basic penulis tertarik untuk membuat program basis data siswa, guru, dan karyawan. Adapun yang menjadi obyek dalam pembuatan basis data adalah siswa, guru, dan karyawan SMP Negeri 4 Pati pada tahun ajaran 2006/2007.


B.  RUMUSAN MASALAH DAN PEMBATASANNYA


1.   Rumusan Masalah


Permasalahan yang akan dipecahkan dalam kegiatan ini dapat dirumuskan sebagai berikut.




  1. Bagaimana bentuk normal dari relasi tabel dalam basis data guru, karyawan, dan siswa di SMP Negeri 4 Pati?

  2. Bagaimana    algoritma     untuk     membuat     program     basis     data menggunakan program Microsoft Visual Basic 6.0?

  3. Bagaimana  cara  atau  proses  kerja  programming  sehingga  dengan bantuan  Visual  Basic  6.0  dapat  menghasilkan  program  basis  data guru, karyawan, dan siswa di SMP Negeri 4 Pati?

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI PENGGUNAAN ALAT PERAGA UANG DALAM POKOK BAHASAN UANG SISWA KELAS II MI MA’ARIF BLOTONGAN TAHUN PELAJARAN 2004/2005

BAB I


PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang Masalah


Matematika sebagai salah satu ilmu dasar dewasa ini telah berkembang demikian pesat, baik materi maupun terapannya. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini tidak terlepas dari peranan matematika. Penguasaan matematika  sangat penting dalam mempercepat  kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).


Tetapi  banyak  orang beranggapan  materi  pelajaran  eksakta  terutama dalam  hal  ini  matematika   memiliki  tingkat  kesulitan  yang  lebih  tinggi dibanding materi pelajaran non eksak. Anggapan   seperti ini tentu saja perlu disikapi oleh tenaga pendidik dalam upaya meningkatkan  penguasaan  siswa dalam memahami materi yang disampaikan. Selain itu tenaga pendidik harus mencari ide atau gagasan baru guna meningkatkan  mutu pembelajaran  yang berkualitas.


Peneliti merupakan salah satu pendidik di MI Ma’arif Blotongan. Kondisi yang ada MI Ma’arif terdiri dari   15 pendidik, yang terdiri 3 orang pendidik berstatus Pegawai Negeri Sipil, selebihnya berstatus sebagai guru honorer. Di samping itu sekolah yang nota benenya di bawah naungan Departemen  Agama  yang  berlabel  “MI”  seringkali  dipandang  masyarakat dengan sebelah mata. Hal ini dikarenakan  masyarakat  sudah menyimpulkan dengan  fenomena  yang ada, bahwa “MI” merupakan  sekolah pinggiran  dan sekolah alternatif terakhir seandainya putra-putrinya tidak diterima di sekolah negeri.


Banyak  anggapan   dari  masyarakat   bahwa  guru  atau  pendidik  di kalangan MI kurang profesional. Hal ini disebabkan bermacam-macam alasan ataupun  kendala  yang  dihadapi  oleh  pendidik  itu  sendiri.  Di  antaranya, kendala yang berkaitan dengan pendanaan. Pendidik di MI merasa pendanaan merupakan modal paling utama, seperti untuk memenuhi sarana prasarana pembelajaran, pemenuhan alat peraga guna menunjang kualitas pembelajaran, kesejahteraan guru, ataupun yang lain semua itu memerlukan dana yang tidak sedikit. Kendala yang lain adalah manajemen, baik dan tidaknya manajemen tergantung pemegang pucuk pimpinan di sebuah sekolah. Dalam hal ini adalah kepala madrasah.


Kurikulum merupakan salah satu kendala bagi seorang pendidik dalam pelaksanaan pembelajaran. Di Sekolah Dasar kurikulumnya berbeda dengan di Madrasah  Ibtidaiyah.  Di MI, dari kurikulum  yang ada masih ditambah  lagi dengan  materi agama Islam, seperti aqidah akhlaq, fiqh, sejarah  Islam, dan lain sebagainya.


Masih banyak lagi kendala yang ada. Tetapi di antara kendala-kendala yang ada, kendala  yang paling pokok  adalah  kendala yang berasal dari diri seorang pendidik itu sendiri. Seorang pendidik dituntut keprofesionalannya dalam  melaksanakan  tugasnya  untuk  mencapai  tujuan  visi,  misi  sekolah. Peneliti sebagai pendidik di MI Ma’arif Blotongan yang masuk dalam wilayah Kota Salatiga, merasa terpanggil untuk ikut mengembangkan dan memajukan MI.


Salah   satu   upaya   yang   dilakukan   oleh   peneliti   adalah   dengan menganalisa kekurangan-kekurangan, kesulitan-kesulitan dalam memahami konsep dalam pembelajaran. Langkah awalnya peneliti menekankan pada penganalisaan  kesulitan-kesulitan  belajar mata pelajaran matematika. Karena pada pelajaran matematika banyak dijumpai kesulitan-kesulitan tersebut. Kesulitan tersebut dapat terlihat dari hasil belajar siswa pada pokok bahasan uang tahun ajaran 2003-2004 yang di bawah standar yaitu rata-ratanya hanya mencapai 6,19 dan yang memperoleh nilai ? 6,5 hanya 55,6 %.


Kesulitan-kesulitan   tersebut    di    atas    disebabkan   karena    kurang pahamnya siswa pada materi pokok bahasan uang serta kurangnya kreatifitas guru dalam pembelajaran matematika. Padahal pokok bahasan tersebut sangatlah penting sebagai bekal bagi seorang   siswa   kelak   jika   sudah   dewasa   dan   hidup   di   tengah-tengah masyarakat.   Uang  merupakan   sesuatu  yang  tidak  dapat  dipisahkan   dari kehidupan   sehari-hari.   Belanja,   makan,   minum,   pakaian,   rekreasi   dan kebutuhan hidup yang lain membutuhkan uang.


Maka dari itu kita sebagai pendidik harus berupaya membekali siswa sebanyak mungkin konsep dasar matematika, dan yang paling penting adalah konsep  itu  harus  diberikan  kepada  siswa  secara  matang  dan  benar-benar dipahami oleh siswa.


Materi yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari siswa  dirasa sulit untuk  diselesaikan  oleh  siswa  itu  sendiri.  Contohnya  materi  yang  terkait dengan uang yaitu jenis uang, nilai uang, nilai tukar uang, penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian yang terkait dengan uang, serta beberapa masalah dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan uang. Karena hal tersebut  masih  dalam  dunia  abstrak.  Walaupun  siswa  setiap  hari  bergelut dengan uang. Mereka hanya memahami uang sebagai uang saku. Untuk jajan, dan hanya sebatas itu.


Siswa pada umumnya mampu membelanjakan uangnya. Tetapi mereka kadang kurang teliti untuk uang kembaliannya.  Hal ini karena siswa kurang memahami  konsep nilai tukar uang. Misalnya,  siswa mempunyai  uang saku 1000 rupiah, kemudian digunakan untuk beli satu buah permen yang harganya 100  rupiah.  Uang  kembaliannya  adalah  1000  rupiah  dikurangi  100  rupiah, yaitu 900 rupiah kalau dalam bentuk uang logam yang nilainya 100 rupiah, maka  jumlah  uang  yang  diterimanya  adalah  9  keping.  Tetapi  kalau  dalam bentuk  uang logam yang nilainya  bermacam-macam,  misalnya  nilainya  500 rupiah, 200 rupiah, 100 rupiah, dan 50 rupiah atau uang bentuk kertas, maka jumlah uang yang diterima bervariasi.  Hal itu tergantung  jumlah nilai uang tersebut.  Hal  inilah  yang  kurang  diperhatikan  siswa.  Mereka  dengan  serta merta  menerima  uang kembalian  tersebut  tanpa  menghiraukan  jumlah  nilai uang  tersebut.  Padahal  anak  sekarang  yang  namanya  uang  mereka  sudah cukup kenal, baik yang nilainya 50 rupiah, 100 rupiah, 200 rupiah, 500 rupiah, 1.000 rupiah, 5.000 rupiah, bahkan 10.000 rupiah. Tetapi mereka ceroboh dalam membelanjakannya.  Kecerobohannya itu dikarenakan ketidakpahamannya terhadap nilai tukar uang.


Agar siswa lebih paham dalam menerima materi ini dan hasil belajarnyapun dapat meningkat,  perlu mencoba metode, tehnik, dan pendekatan lain.  Peneliti ingin memecahkan masalah  yang  dihadapi  agar nantinya kegiatan-belajar mengajar berjalan dengan sukses dan berkualitas. Peneliti   mencoba   menyelesaikan   masalah   tersebut   melalui   pembelajaran dengan bantuan alat peraga.


Dari  latar  belakang   tersebut  di atas penulis  mengadakan  penelitian tentang pembelajaran matematika dengan judul “Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Penggunaan Alat Peraga Uang Dalam Pokok Bahasan Uang Siswa Kelas II MI Ma’arif Blotongan Tahun Pelajaran 2004/2005”.


B.  Permasalahan


Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas maka permasalahan  dalam penelitian ini adalah “Bagaimana pengaruh penggunaan alat peraga uang terhadap peningkatan hasil belajar siswa kelas II MI Ma’arif Blotongan pada pokok bahasan uang tahun pelajaran 2004/2005”.

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BANGUN RUANG MELALUI PEMANFAATAN ALAT PERAGA BAGI SISWA KELAS V SDN PROGOWATI I KECAMATAN MUNGKID KABUPATEN MAGELANG TAHUN PELAJARAN 2004/2005

BAB I


PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang Masalah


Perhatian Pemerintah Republik Indonesia terhadap dunia pendidikan di negeri ini begitu besar. Anggaran pendidikan yang dialokasikan tiap tahunnya selalu besar. Pembangunan unit gedung sekolah baru, pengangkatan guru baru, pelatihan guru, pemberian bantuan sarana dan prasarana. Tidak lain segala usaha ini dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan penyelenggaraannya, sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945.


Usaha pemerintah tersebut perlu didukung oleh guru-guru di sekolah. Salah satunya usahanya adalah mengoptimalkan pengajaran dengan penggunaan alat peraga/media pengajaran. Alat peraga/media merupakan satu komponen pengajaran yang mendukung keberhasilan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Proses kegiatan belajar mengajar (KBM) dapat berlangsung lebih efektif dan optimal jika semua komponen saling mendukung.


Kurikulum yang saat ini berlaku adalah kurikulum 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang memberikan wewenang lebih bagi sekolah dan guru untuk mengelola pengajaran yang berlangsung di sekolah tyersebut. Juga dengan dimunculkannya Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) diharapkan mutu pendidikan di sekolah tersebut benar-benar menjadi lebih baik.


Banyak cara yang dapat dilakukan guru dalam upaya meningkatkan mutu pengajaran di sekolah sehingga tujuan pengajaran dapat tercapai dengan baik. Salah satu diantaranya adalah mengajar dengan menggunakan alat peraga/media. Mengingat manfaat alat  peraga/media ini begitu penting maka perlu  menjadi pemikiran bagi setiap guru di sekolah.


Selain merencanakan mengusahakan adanya alat peraga dan memahami penggunaannya, seorang  guru  harus  dapat mengembangkan    kreasi    dan keterampilannya untuk membuat sendiri alat bantu pengajaran yang dibutuhkan tersebut, disesuaikan dengan kondisi sekolah dan lingkungan anak didik. Agar pengajaran matematika berhasil baik maka guru juga harus merancang proses belajar mengajar yang melibatkan siswa secara aktif, kreatif dan terampil.


Fungsi alat peraga/media dalam kegiatan pengajaran matematika tidak hanya sekedar sebagai alat bantu bagi guru dalam proses kegaitan belajar mengajar, tetapi juga sebagai pembawa informasi atau pesan pengajaran yang dibutuhkan. Alat peraga kubus, limas dan kerucut adalah bagian alat peraga hasil dari kreasi penulis yang diharapkan dapat menjadi media dalam menyampaikan informasi pengajaran pada pokok bahasan bangun ruang khususnya kubus, limas dan kerucut diharapkan juga dapat memberi motivasi belajar siswa.


Alat peraga  yang digunakan dapat dibuat oloeh guru sendiri maupun siswa-siswa  dalam  kelompok  maupun  individual  dan  di  dalam  pembuatan maupun penggunaannya harus sesuai dengan materi yang diajarkan. Sehingga kegiatan belajar mengajarnya dapat efektif dan mencapai sasaran.


Berdasarkan pengalaman mengajar bahwa kemampuan siswa dalam menjelaskan volum kubus, limas dan kerucut masih rendah, karena nilai rata-rata kelas  pada  tes  formatif  maupun  sumatif  5  tahun  terakhir  ini  kurang  dari  6. Padahal bentuk-bentuk materi volum sering dijumpai dalam materi-materi penerapan pada jenjang kelas yang lebih tinggi atau pada mata pelajaran yang lain.


Berdasarkan uraian di atas dapat peneliti kemukakan latar belakang masalah yang berkaitan dengan penelitian ini sebagai berikut :




  1. Bahwa penelitian ini berkaitan langsung dengan mata pelajaran matematika, sesuai dengan tugas peneliti yang saat ini mengajar matematika di kelas V SDN Progowati I, Mungkid, Magelang.

  2. Kegiatan penelitian semacam ini belum pernah dilaksanakan di sekolah tersebut.

  3. Peneliti ingin meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelesaikan materi volum bangun ruang kubus, limas, kerucut yang pada akhirnya akan meningkatkan prestasi belajar matematika bagi siswa kelas V SDN Progowati I, Mungkid, Magelang.


B.  Permasalahan


Permasalahan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah apakah alat peraga bangun ruang kubus, limas dan kerucut dapat meningkatkan hasil belajar pada operasi hitung volume kubus, limas dan kerucut bagi siswa SDN Progowati I

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS III SD NEGERI BULAKPACING 02 KECAMATAN DUKUHWARU KABUPATEN TEGAL DALAM MATERI PECAHAN MELALUI BANTUAN ALAT PERAGA BENDA KONKRET

BAB I


PENDAHULUAN


A.   ALASAN PEMILIHAN JUDUL


Keberhasilan proses pembelajaran merupakan hal utama yang didambakan dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah. Pada era globalisasi ini penerapan ilmu pengetahuan dan tekhnologi harus didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. Matematika sebagai salah satu ilmu dasar dewasa ini telah berkembang amat pesat, baik materi maupun kegunaannya. Namun sayang, sampai saat sekarang matematika masih dipandang sebagai pelajaran yang membosankan dan tidak menarik.


Komponen utama dalam proses pembelajaran adalah guru dan siswa. Ditinjau dari komponen guru, agar proses pembelajaran berhasil, guru harus dapat membimbing siswa sedemikian rupa sehingga mereka dapat mengembangkan pengetahuannya sesuai dengan struktur pengetahuan mata pelajaran yang dipelajarinya. Untuk mencapai keberhasilan tersebut harus memahami sepenuhnya materi yang diajarkan, guru juga dituntut mengetahui secara tepat dimana “posisi” pengetahuan siswa pada awal (sebelum) mengikuti pelajaran materi tertentu. Selanjutnya berdasar metode yang dipilihnya, guru diharapkan dapat membantu siswa dalam mengembangkan pengetahuannya secara efektif.


Ditinjau dari komponen siswa, keberhasilan belajar sangat ditentukan oleh konsep-konsep yang relevan yang telah dimiliki siswa pada awal (sebelum) mempelajari materi tertentu. Konsep-konsep baru akan sulit dipahami, bila konsep-konsep yang relevan belum dimiliki siswa. Kegagalan 2 siswa di kelas sering diakibatkan oleh ketidaksiplinan siswa mengenai konsep-konsep yang relevan ini.


Sampai sekarang masih banyak terdengar keluhan bahwa mata pelajaran matematika membosankan, tidak menarik. Hal ini disebabkan pelajaran matematika dirasakan sukar, gersang dan tampaknya tidak ada kaitannya dalam kehidupan sehari-hari, kenyataan ini adalah persepsi yang negatif terhadap matematika, persepsi ini ada dalam setiap jenjang pendidikan. Banyak hal yang dapat dikaji untuk mengungkap masalah tersebut, mungkin bersumber dari porsi materinya yang tidak sesuai, strategi pembelajarannya kurang tepat dan cara penyajian aturan-aturan yang tidak jelas asal-usulnya.


Untuk mengatasi persepsi yang negatif tersebut, guru mempunyai peranan yang sangat penting, maka dalam kegiatan belajar mengajar guru hendaknya mampu memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, maupun sosial. Bagaimana agar siswa itu belajar aktif? Agar siswa belajar aktif, hendaknya pengajaran matematika itu: menarik minat siswa, derajat kesukarannya dapat diikuti siswa, siswa mendapat kesempatan, sarana dan prasarananya menunjang kelancaran dalam pembelajaran, penggunaan teknik/metode yang tepat, guru harus mampu mengadakan penilaian diri, pengetahuan guru luas, memakai cara evaluasi yang bervariasi, dan guru memiliki kompetensi yang utuh serta mampu menerapkan dalam pembelajaran matematika.


Disamping hal tersebut di atas, pembelajaran matematika hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan/sub pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa. Dengan demikian diharapkan akan terdapat keserasian dalam pembelajaran yang menekankan keterampilan menyelesaikan dan pemecahan masalah. Karena matematika merupakan ide-ide abstrak yang berisi simbol- simbol, maka konsep-konsep matematika harus dipahami terlebih dahulu, sebelum memanipulasi simbol-simbol itu. Seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari pada apa yang telah diketahuinya.


Karena itu untuk mempelajari suatu materi matematika yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang itu akan mempengaruhi terjadinya proses belajar materi matematika tersebut. Dalam hal ini penulis mengangkat materi pecahan untuk dijadikan bahan penelitian karena selama penulis mengajar di kelas III SD Bulakpacing 02 dapat ditarik kesimpulan bahwa materi pecahan kurang diminati siswa. Hal ini tercermin dari kurang antusiasnya siswa dalam mengikuti pelajaran khususnya pada materi pecahan serta kurang adanya respon positif dan siswa yang dapat mengerjakan soal tes formatif dengan betul kurang dari 65% dengan ketuntasan kurang dari 60%.


Untuk mencapai keberhasilan dalam proses pembelajaran matematika di Pendidikan Dasar sangat diperlukan suatu media pengajaran matematika atau alat peraga, terutama dalam proses menuju kepemahaman siswa terhadap objek abstrak, sehingga dalam penelitian ini penulis merasa perlu menggunakan benda-benda konkret untuk membantu memberikan 4 pemahaman terhadap siswa dalam menghayati ide-ide matematika yang abstrak. Berdasarkan hal tersebut, maka penulis ingin mencetuskan suatu ide atau gagasan sebagai langkah untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran matematika, khususnya pada materi pecahan, yaitu dengan mendekatkan siswa pada kegiatan-kegiatan yang terjadi dan dialami siswa dalam kehidupan sehari-hari dengan memanfaatkan benda-benda konkret yang terdapat di sekitarnya untuk membantu proses pembelajaran. Semoga dapat memenuhi sasarannya, terutama dalam membantu siswa untuk menyenangi pelajaran matematika.


B.   PERMASALAHAN


Rumusan masalah pada penelitian ini adalah Bagaimanakah cara meningkatkan hasil belajar siswa kelas III semester I SD Bulakpacing 02 Dukuhwaru tahun pelajaran 2005/2006 dalam materi pecahan melalui bantuan alat peraga benda konkret?

USAHA MENINGKATKAN KETERAMPILAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL KELIPATAN DAN KELIPATAN PERSEKUTUAN SUATU BILANGAN MELALUI TURUS PERSEKUTUAN BAGI SISWA KELAS IV SD RAMBEANAK I KECAMATAN MUNGKID KABUPATEN MAGELANG TAHUN PELAJARAN 2004/2005

BAB I


PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah


Pendidikan merupakan bidang yang sangat penting terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Dengan diberlakukannya wajib belajar sembilan tahun yang terdiri 6 tahun di SD dan 3 tahun di SMP atau pendidikan yang sederajat, menjadikan pelajaran matematika mendapat sorotan atau perhatian yang sangat besar.


Matematika Sekolah Dasar merupakan konsep dasar dalam mempelajari konsep-konsep di jenjang sekolah menengah. Menurut Herman Hudoyo (1990, h.4) secara singkat dapat dikatakan bahwa ”matematika berkenaan dengan ide-ide, konsep-konsep abstrak yang tersusun secara hierarkis dan penalarannya deduktif”. Matematika disebut ilmu deduktif, karena kita ketahui bahwa baik isi maupun metode pencarian kebenaran dalam matematika berbeda dengan ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan umumnya. Metode pencarian kebenaran yang dipakai matematika adalah metode deduktif, namun dalam matematika mencari kebenaran bisa dimulai dengan cara induktif, tetapi semua keadaan harus dibuktikan secara deduktif. Menurut GBPP SD 2004 kelas IV semester II mata pelajaran matematika dengan pokok bahasan Kelipatan dan Kelipatan Persekutuan memerlukan keterampilan khusus dari siswa, untuk itu diperlukan suatu alat bantu yang disebut sebagai media pembelajaran.


Kurangnya nilai matematika dari sebagian besar siswa disebabkan karena siswa kurang menguasai materi. Hal ini dapat dilihat pada saat siswa mengerjakan soal ulangan atau tes, masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal tersebut. Berdasarkan hal tersebut di atas maka penulis bermaksud untuk mengadakan penelitian mengenai masalah KPK dengan menggunakan alat peraga turus persekutuan. Penggunaan alat peraga sebagai media pembelajaran sangat membantu proses komunikasi antara guru dan siswa, karena dapat menghindari atau mengurangi kemungkinan terjadinya salah komunikasi dalam penyampaian materi. Mengingat pentingnya manfaat media pengajaran maka seorang guru harus berusaha mengembangkan keterampilan untuk membuat sendiri alat bantu pengajaran karena media pengajaran harus disesuaikan dengan kondisi sekolah masing-masing. Sehingga dalam kegiatan belajar mengajar dapat efektif dan mencapai sasaran. Dengan seringnya berlatih menggunakan alat peraga diharapkan keterampilan siswa meningkat sehingga hasil belajar meningkat. Permasalahan di atas menjadikan peneliti mengemukakan alasan pemilihan judul sebagai berikut.




  1. Penelitian tindakan kelas berkaitan langsung dengan mata pelajaran matematika. Karena peneliti mengajar di SD Rambeanak I Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang maka dengan cepat dapat mengetahui hambatan dan keberhasilan siswa dalam belajar. Sepandai-pandainya guru dalam menyampaikan pelajaran matematika namun jika tidak diimbangi dengan kesiapan siswa dalam menerima pelajaran tersebut, maka tidak mungkin membuahkan hasil yang baik. Kesiapan yang dimaksud adalah kesiapan dalam menerima, memahami, dan mencerna informasi yang disampaikan oleh guru sebagai perubahan tingkah laku. Tinggi rendahnya daya tangkap siswa sangat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran.

  2. Minat belajar siswa kurang. Agar ada minat siswa dalam belajar, alangkah baiknya bila dalam mengajarkan matematika digunakan alat peraga atau model dan pengajarannya beraneka ragam serta sesuai dengan konsep yang akan ditanamkan. Salah satunya adalah dengan bermain mengingat dunia anak dunia bermain. Sekolah Dasar Rambeanak I berada di pedesaan. Latar belakang orang tua siswa yang berpendidikan rendah, mayoritas bermata pencaharian buruh tani. Hal ini menyebabkan perhatian orang tua terhadap pendidikan putra-putrinya sangat kurang. Akibatnya minat belajar siswa sangat rendah.

  3. Keterampilan menyelesaikan soal rendah. Setiap Sekolah Dasar terdapat beberapa anak yang mengalami kesulitan belajar yang berarti keterampilan anak dalam menyelesaikan soal rendah dan kurang. Bila dibanding dengan pelajaran lain nilai rata-rata mata pelajaran matematika menduduki urutan bawah. Hal ini membuktikan betapa rendahnya keterampilan menyelesaikan soal matematika bagi siswa kelas IV SD Rambeanak I Kecamatan Mungkid. Ini disebabkan oleh kurangnya minat belajar siswa terhadap pelajaran matematika. Di lain pihak, matematika sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Menyadari besarnya fungsi dan tujuan matematika dalam standar kompetensi Depdiknas (2003:1) bahwa fungsi dan tujuan matematika adalah mengembangkan kemampuan menghitung, mengukur, menurunkan dan menggunkan rumus matematika yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari melalui pengukuran dan geometri, aljabar, dan trigonometri. Matematika juga berfungsi untuk mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan gagasan dengan bahasa melalui model matematika yang dapat berupa kalimat dan persamaan matematika, diagram, grafik dan tabel.

  4. Lokasi penelitian. Lokasi penelitian adalah di Sekolah Dasar Negeri Rambeanak I Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang. Adapun peneliti memilih lokasi di sekolah ini karena peneliti bertugas sebagai guru kelas IV di SD Negeri Rambeanak I Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang. Kemungkinan hambatan dan kesulitan yang dihadapi siswa dapat terdeteksi secara jelas sehingga penelitian akan berjalan dengan lancar. Di samping itu kegiatan penelitian tindakan kelas belum pernah dilaksanakan di sekolah tempat peneliti mengajar.

  5. Penggunaan alat peraga lebih efektif dalam meningkatkan keterampilan menyelesaikan soal. Pada hakekatnya belajar dan mengajar merupakan proses komunikasi antara guru dan siswa. Sebagai komunikasi pembelajaran siswa menjadi komunikator terhadap siswa lain dan guru sebagai fasilitator. Maka akan terjadi proses interaksi dengan kader pembelajaran yang tinggi. Proses komunikasi tidak selalu dapat berjalan dengan lancar tanpa diimbangi dengan penggunaan alat peraga. Komunikasi dapat dijadikan sebagai alat kontrol komunikator untuk melakukan perbaikan. Untuk menghindari atau mengurangi kemungkinan kemungkinan yang terjadi salah komunikasi maka diperlukan alat bantu (sarana) yang dapat membantu meningkatkan keterampilan menyelesaikan soal matematika.


Menurut Anderson (Isti Hidayah, Sugiyarto 2003:5). Alat peraga sebagai media atau perlengkapan yang digunakan untuk membantu guru mengajar. Menurut Darhim (Isti Hidayah, Sugiyarto 2003:5) alat peraga yang penggunaanya diintegrasikan dengan tujuan dan isi pengajaran yang telah tertuang dalam Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) dan bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.


Menurut Tim PKG (Isti Hidayah, Sugiyarto 2003:5) alat peraga merupakan benda konkret sebagai model dan ide-ide matematika dan untuk penerapannya. Untuk meningkatkan prestasi belajar matematika lebih efektif bila menggunakan alat peraga maka strategi pendayagunaannya harus memperhatikan kesesuaian alat peraga dengan tujuan pembelajaran, materi Kelipatan dan Kelipatan Persekutuan, strategi (metode), kondisi (ruang kelas), dan kebutuhan siswa. Oleh karena itu peneliti ingin meningkatkan prestasi belajar siswa melalui penggunaan alat bantu turus persekutuan terutama pada pengerjaan hitung Kelipatan dan Kelipatan Persekutuan.


B. Permasalahan


Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut.




  1. Apakah keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal kelipatan dan kelipatan persekutuan dapat ditingkatkan melalui pemanfaatan alat peraga turus persekutuan bagi siswa kelas IV SD Rambeanak I tahun pelajaran 2004/2005?

  2. Apakah melalui pemanfaatan alat peraga turus persekutuan dapat menciptakan pembelajaran matematika yang aktif dan kreatif?

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS VII F SMP I JATI KUDUS DALAM MENYELESAIKAN SOAL-SOAL CERITA PERSAMAAN LINIER SATU VARIABEL MELALUI IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TIPE JIGSAW II TAHUN PEMBELAJARAN 2006/2007

BAB I


PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang Masalah


Sampai sekarang dunia pendidikan matematika khususnya pada tingkat pendidikan dasar masih memiliki berbagai masalah. Dua masalah diantaranya sebagai  berikut.  Pertama,     sampai  sekarang  pelajaran  matematika  disekolah masih  dianggap  merupakan  pelajaran  yang  menakutkan  bagi  banyak  siswa, antara lain karena bagi banyak siswa pelajaran matematika terasa sukar dan tidak menarik. Kedua,  sekalipun dalam banyak kesempatan sering dikatakan bahwa matematika merupakan ilmu yang sangat berguna bagi kehidupan manusia, termasuk bagi kehidupan sehari-hari,  banyak orang belum merasakan manfaat matematika dalam kehidupan sehari-harinya. Diluar beberapa cabang matematika tentu memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis seperti berhitung dan statistik.


Adanya dua masalah tersebut, banyak siswa menjadi kurang termotivasi dalam mempelajari matematika, selain itu dengan adanya dua masalah tersebut juga menyebabkan pendidikan matematika di sekolah kurang memberikan sumbangan yang berarti bagi pendidikan anak secara keseluruhan, baik pengembangan kemampuan berpikir, bagi pembentukan sikap maupun pengembangan kepribadian secara keseluruhan. Dalam bidang pembentukan sikap, pendidikan matematika sangat berguna bagi umat manusia khususnya pada diri siswa. Dalam bidang pengembangan kepribadian, pendidikan matematika di sekolah belum mampu mengambil peran mengenai apa yang paling baik bagi dirinya, demokratis, bersifat jujur dan berani bertanggung jawab terhadap segala hal yang telah dilakukan atau diucapkan, sehingga banyak siswa menempuh pelajaran matematika melulu karena diharuskan oleh sistem yang ada sesuai dengan kurikulum.


Dengan situasi seperti itu pendidikan Matematika di sekolah dan pendidikan formal pada umumnya, cenderung menghasilkan lulusan yang mempunyai banyak pengetahuan, tetapi miskin dalam kemampuan berpikir dan miskin dalam hal kepribadian, termasuk berjiwa penakut, kurang berani mengam bil keputusan dan kurang berani bertanggungjawab atas perbuatan yang telah dilakukan.


Pembelajaran matematika di sekolah bertujuan untuk mengacu kepada fungsi matematika serta kepada tujuan pendidikan nasional yang telah dirumuskan dalam Garis-garis Besar Halauan Negara (GBHN). Diungkapkan dalam Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP), bahwa tujuan utama diberikannya matematika pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, untuk mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan didalam kehidupan dunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efektif dan efisien mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu – pengetahuan, kondisi yang di harapkan agar prestasi belajar siswa meningkat, guru harus dapat menciptakan suasana yang dapat merangsang siswa, agar aktif dan senang mengikuti proses belajar mengajar. Guru harus memiliki kemampuan untuk memiliki model pembelajaran yang tepat dalam proses belajar mengajar. Model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa belajar sesuai dengan materi yang diajarkan.


Berdasarkan data dan pengalaman mengajar di SMP 1 Jati Kudus selama lima tahun menunjukkan, sebagian besar siswa kalas VII mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal cerita persamaan linier satu variabel. Kesulitan yang dialami siswa dalam menyelesaikan soal cerita yang memuat persamaan linier satu variabel disebabkan karena siswa kurang mampu dalam mengubah soal cerita tersebut kedalam kalimat matematika.


Hal ini dapat dibuktikan dengan rendahnya hasil belajar siswa, baik dilihat dari nilai hasil tes formatif  maupun tes sumatif, rata-rata nilai sumatif kelas VII SMP 1 Jati Kudus tahun 2005/2006 semester I menunjukkan nilai rata-rata hanya mencapai 47,0 dan semester II nilai rata-ratanya sedikit meningkat 53,0. Rata-rata yang diperoleh lebih rendah jika dibanding rata-rata nilai mata pelajaran lain sedangkan untuk nilai dalam penyelesaian soal-soal cerita persamaan linier satu variabel juga rendah hanya mencapai nilai rata-rata 52,0 dan siswa yang tuntas belajar 50%. Sedangkan persentase keaktifan siswa hanya mencapai 30%. Oleh karena itu selanjutnya diharapkan bahwa dengan pengalaman guru melalui implementasi  model  pembelajaran Cooperative  Learning Tipe  Jigsaw  II  hasil belajar dan keaktifan siswa dapat ditingkatkan.


Berdasarkan uraian di atas mendorong penulis untuk mengadakan penelitian tentang bagaimanakah cara meningkatkan hasil belajar siswa dalam menyelesaikan soal cerita persamaan linier satu variabel melalui implementasi model pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw II bagi siswa kelas VII F SMP 1 Jati Kabupaten Kudus tahun pembelajaran 2006/2007.


B.  Rumusan Masalah


Rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut .




  1. Apakah dengan implementasi model pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw II ini hasil belajar siswa kelas VII F SMP 1 Jati Kudus tahun pembelajaran 2006/2007 dalam menyelesaikan soal-soal cerita persamaan linier satu variabel dapat ditingkatkan?

  2. Apakah dengan implementasi model pembelajaran Cooperative Learning Tipe Jigsaw II ini keaktifan siswa kelas VII F SMP 1 Jati Kudus tahun pembelajaran 2006/2007 dalam menyelesaikan soal-soal cerita persamaan linier satu variabel dapat ditingkatkan?

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PERHOTELAN DENGAN APLIKASI VISUAL BASIC STUDI KASUS PADA PURI INDRAKILA HOTEL DAN COTTAGE UNGARAN

BAB I


PENDAHULUAN


A.  LATAR BELAKANG


Pendataan administrasi pada manajemen perhotelan memerlukan ketepatan mekanisme dan penataan yang teroganisir agar data dapat terkemas dan terjaga keamanannya dengan baik, seiring pesatnya teknologi dan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan didalamnya, kini instansi-instansi baik swasta maupun negeri memanfaatkan fasilitas teknologi dalam pengolahan data-data yang dulu diolah secara manual diubah kedalam pola komputerisasi yang mempermudah proses pengentrian dan pencarian data-data yang telah tersimpan dalam database. Database tersebut dibuat dengan tujuan agar proses kerja lebih optimal dan dapat dilakukan secara tepat dan tepat dengan tingkat kesalahan yang sedikit.


Perusahaan  perhotelan  memiliki  data-data  diantaranya  adalah  data tamu, data keluar masuk tamu data karyawan dan data administrasi, namun pengolahannya masih bersifat manual dan membutuhkan waktu yang sangat lama dalam proses penyimpanannya, oleh karena itu perlu dicari alternatif dalam penanganan data tersebut. Kalau kita cermati bersama, komputer merupakan solusi terbaik dalam pengolahan data perhotelan.


Komputer mampu memecahkan masalah, bukan hanya dalam perhitungan, tetapi juga dalam kemampuan menyimpan dan memberikan informasi, walaupun demikian dalam masyarakat modern komputer banyak dimanfaatkan sebagai pusat data (database) dibanding pengunaan lainnya. Karena peran database yang sangat menonjol. Pemrosesan basis data menjadi perangkat andalan yang kehadiranya sangat diperlukan, dan tidak hanya mempercepat perolehan informasi, tetapi juga dapat meningkatkan pelayanan terhadap tamu hotel.


Sistem administrasi hotel yang ada pada Puri Indrakila Hotel dan Cottage Ungaran masih memerlukan banyak perubahan, terutama untuk pendataan yang memusat pada server serta pengorganisasian komputer- komputer yang terhubung pada suatu jaringan. Laporan-laporan yang harus menunggu lama masih perlu diperbaiki sehingga diharapkan dapat setiap saat dipantau oleh manager hotel.


Pembuatan suatu sistem server yang sering disebut dengan billing memudahkan  pengoperasian  yang  dilakukan  oleh  front  desk hotel  untuk mengentri data maupun pencarian data. Data yang masuk tidak disimpan pada komputer yang bersangkutan tempat pengentrian data tetapi langsung pada server yang dapat dipantau oleh pemiliknya tanpa harus menanyakan pada petugas front desk hotel. Keefektifan ini memudahkan pemilik hotel untuk mengetahui segala sesuatu yang berhubungan dengan tamu hotel maupun informasi dari tamu hotel.


Perkembangan teknologi database tidak lepas dari perkembangan perangkat lunak dan perangkat keras, salah satu perangkat lunak perkembangan aplikasi yang popular adalah Microsoft Visual Basic. dimana bahas pemrograman yang mutakhir Microsoft Visual Basic didesain untuk dapat memanfaatkan fasilitas yang tersedia dalam Microsoft Windows dan merupakan Softwere yang biasa digunakan untuk membuat program yang cukup sederhana tetapi banyak cakupan yang dapat dikerjakan. Pengunaan bahasa pemprograman Visual Basic dalam penanganan database merupakan kemajuan teknologi dalam perkembangan basis data maupun aplikasi lain yang langsung dapat berhubungan dengan komputer. Dalam menangani data yang besar program Microsof Visual Basic sangat efektif dibanding sistem pemprosesan manual yang lakukan maupun dengan dengan program yang diakses melalui sebuah komputer. Dengan menggunakan Microsof Visual Basic kegiatan ini dimaksudkan untuk membuat program database perhotelan dengan sistem server yang digunakan untuk memantau seluruh kegiatan pengadministrasian.


Pada penulisan tugas akhir ini Microsoft Visual Basic diimplementasikan menciptakan aplikasi sistem administrasi data Puri Indrakila Hotel dan Cottage Ungaran, untuk dapat memudahkan pengadministrasian data hotel yang selalu dapat dipantau oleh manajer hotel.


B.  PERUMUSAN MASALAH DAN PEMBATASANNYA


1.   Rumusan Masalah


Dari latar belakang tersebut di atas, maka permasalahan yang muncul adalah bagaimana cara membuat dan mengolah program database tamu dan data administrasi pada suatu usaha perhotelan yang terhubung dengan satu komputer yang terpusat (server) serta  proses kerja program sehingga dapat menghasilkan sistem database perhotelan yang langsung dapat dipantau oleh pemiliknya?


2.   Pembatasan masalah


Pada  database ini  dibuat  sistem  database untuk  pengolahan  data-data yang ada di hotel yang digunakan untuk mempermudah pengumpulan data supaya dapat dipantau langsung oleh pemilik hotel tanpa harus menunggu laporan bulanan dari petugas front desk hotel. Bahasa pemprograman yang digunakan adalah bahasa pemprograman Microsoft Visual Basic.

PENINGKATAN HASIL BELAJAR KIMIA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 5 SEMARANG TAHUN AJARAN 2006/2007 PADA KONSEP LARUTAN ASAM DAN BASA MELALUI METODE QUANTUM TEACHING

BAB I


PENDAHULUAN


A. Latar Belakang


Ada berbagai macam metode yang diterapkan dalam proses belajar mengajar. Suatu metode belajar mengajar yang cocok diterapkan pada pokok bahasan tertentu belum tentu cocok diterapkan pada pokok bahasan yang lain. Untuk itu seorang guru perlu memilih metode mana yang paling cocok digunakan, sehingga siswa akan memperoleh hasil belajar yang maksimal. Metode belajar merupakan salah satu faktor yang paling penting bagi siswa, sebab pada dasarnya setiap siswa mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda. Meskipun telah banyak dikembangkan berbagai jenis metode belajar, namun masih ditemui guru yang belum mampu menentukan metode yang efektif dan efisien dalam proses belajar mengajar, terutama pada mata pelajaran kimia.


Pada dasarnya proses belajar mengajar merupakan proses komunikasi antara guru dengan siswa. Proses pembelajaran dapat dikatakan berhasil apabila siswa mencapai kompetensi yang diharapkan, karena hal itu merupakan cerminan dari kemampuan siswa dalam menguasai suatu materi. Hal ini tidak terlepas dari kemampuan guru dalam memilih dan menggunakan metode dan media yang tepat dan efektif.


Kimia merupakan bagian dari ilmu pengetahuan alam yang merupakan hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan dan konsep yang terorganisir tentang alam  sekitar  yang  diperoleh  dari  pengalaman  melalui  serangkaian  proses  ilmiah.


Namun  pada  saat  ini  sains  (kimia)  merupakan  salah  satu  mata  pelajaran  yang dianggap sulit oleh sebagian besar siswa sekolah menengah. Hal ini disebabkan oleh banyaknya rumus perhitungan kimia yang memerlukan   analisis perhitungan matematis. Selain hal tersebut, perlu adanya variasi dalam mengajar agar siswa dapat termotivasi dalam pembelajaran didalam kelas. Berdasarkan data ulangan pada bab yang lalu, yaitu Laju dan Orde reaksi mata pelajaran kimia siswa kelas XI – IA 7


SMA Negeri 5 Semarang tahun ajaran 2005/ 2006, diperoleh rata- rata nilai ulangan harian siswa yang masih tidak sesuai dengan yang diharapkan, yaitu 6,4. Padahal dari pihak sekolah mentargetkan nilai minimal 6,5. Hal tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada pokok bahasan Larutan Asam dan Basa masih rendah dan perlu adanya variasi dalam proses pembelajaran di kelas sehingga  siswa dapat termotivasi untuk belajar dengan baik di dalam kelas.


Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh jenis komunikasi yang digunakan guru pada waktu mengajar. Untuk mencapai hasil belajar yang optimal, guru dianjurkan untuk membiasakan diri menggunakan komunikasi yang tidak hanya melibatkan interaksi dinamis antara guru dengan siswa, tetapi juga melibatkan interaksi dinamis antara siswa yang satu dengan siswa yang lain.


Berdasarkan penjelasan tersebut, salah satu upaya yang dapat dilakukan guru untuk  mengatasi  permasalahan  siswa  dalam  mempelajari  pokok  bahasan  Larutan Asam   dan   Basa   adalah   guru   mampu   mengembangkan   kreatifitas   siswa   dan melibatkan siswa dalam proses belajar mengajar serta guru harus mampu memotivasi siswa dengan mengembangkan pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran Quantum Teaching. Pembelajaran Quantum Teaching merupakan salah satu metode pembelajaran yang dapat dipilih agar pembelajaran menjadi efektif, efisien, dan menyenangkan. Quantum Teaching atau yang juga dikenal dengan istilah pembelajaran kuantum merupakan suatu metode pembelajaran yang telah diterapkan di banyak negara dan banyak mendapatkan pujian dari para pakar.


Menurut De Porter (2004: 3) Quantum Teaching merupakan penggubahan belajar yang meriah dengan segala nuansanya yang berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas. Dengan adanya metode pembelajaran Quantum Teaching diharapkan  situasi  pembelajaran  kimia  yang  menegangkan  menjadi  pembelajaran yang menyenangkan sehingga siswa lebih mudah mencapai kompetensi yang diharapkan.


Dengan asas utama ‘ Bawalah Dunia Mereka ke Dalam Dunia Kita dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka ‘. Maksud dari asas ini menunjukkan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan oleh seorang guru sebelum memulai proses pembelajaran adalah memasuki dunia siswa. Caranya dengan mengaitkan materi pelajaran yang akan diberikan dengan sebuah peristiwa yang terjadi dalam kehidupan nyata mereka. Setelah kaitan itu terbentuk, barulah guru memberikan pemahaman kepada siswa tentang materi yang diajarkan.


Metode Quantum Teaching membantu dalam menciptakan lingkungan belajar yang efektif dengan cara memanfaatkan unsur-unsur yang ada pada siswa, misalnya rasa  ingin  tahu  siswa  dan  lingkungan  belajarnya  melalui  interaksi-interaksi  yang terjadi   di   dalam   kelas.   Metode   ini   mempunyai   kerangka   berupa   TANDUR ( Tumbuhkan, Alami, Namai (pemberian kata kunci), Demonstrasikan, Ulangi dan Rayakan).  Penyajian  materi  dalam  model  pembelajaran  Quantum  Teaching  pada konsep kimia terdiri dari 6 (enam) langkah, yaitu 1) penumbuhan minat siswa, 2) pemberian pengalaman langsung kepada siswa sebelum penyajian, 3) penyampaian materi dengan multi metode, 4) adanya demonstrasi oleh guru dan siswa, 5) pengulangan oleh siswa untuk menunjukkan bahwa mereka benar-benar tahu dan 6) penghargaan terhadap siswa (De Porter, 2004 : 88-93).


Teknik  pelaksanaan  model  pembelajaran  Quantum Teaching  meliputi  :  1) penyusunan rencana pembelajaran, 2) pengkondisian awal, pada tahap ini guru menjelaskan kepada siswa tentang model pembelajaran Quantum Teaching yang akan diterapkan, 3) penerapan model pembelajaran Quantum Teaching dalam penyajian materi pelajaran, 4) evaluasi, pada penelitian kali ini data yang akan dievaluasi adalah prestasi belajar siswa (aspek koqnitif) melalui tes tertulis dan aktifitas siswa melalui lembar observasi.


Dengan  memadukan  materi  pelajaran  dengan  kehidupan  sehari-hari  maka siswa akan sangat tertarik dengan proses pembelajaran di dalam kelas. Pembelajaran Quantum Teaching menciptakan ruang kelas yang didalamnya siswa akan menjadi aktif  dan  bukan  hanya  menjadi  pengamat  yang  pasif.  Untuk  meningkatkan  hasil belajar siswa pada konsep larutan asam dan basa, maka dilakukan penelitian dengan menggunakan metode pembelajaran Quantum Teaching yang diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa untuk membantu meningkatkan hasil  belajar.


Penelitian  tindakan  kelas  ini  berpusat  ke  arah  peningkatan  hasil  belajar, dengan melakukan kolaborasi bersama guru bidang studi kimia untuk mencoba menyelesaikan permasalahan yang timbul dalam kelas XI–IA 7 yaitu menurunnya hasil      belajar  siswa.  Salah  satu  upaya  yang  dilakukan  adalah  pembelajaran menggunakan  model  pembelajaran Quantum Teaching.


Berdasarkan   uraian    tersebut,    maka    penulis    mengambil    judul    skripsi “Peningkatan hasil belajar Kimia siswa kelas XI SMA Negeri 5 Semarang tahun ajaran 2006/2007 pada konsep larutan asam dan basa melalui metode Quantum Teaching “


B. Permasalahan


Berdasarkan uraian di atas maka permasalahan dalam penelitian ini adalah :




  1. Apakah dengan penggunaan metode pembelajaran Quantum Teaching dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI  semester II SMA negeri 5 Semarang pada konsep Larutan Asam dan Basa

  2. Apakah dengan penggunaan metode pembelajaran Quantum Teaching dapat meningkatkan keaktifan siswa kelas XI semester II SMA Negeri 5 Semarang pada konsep Larutan Asam dan Basa

PENINGKATAN HASIL BELAJAR KIMIA POKOK BAHASAN STOIKIOMETRI LARUTAN PADA SISWA KELAS XI SEMESTER II SMA WALISONGO SEMARANG MELALUI PERMAINAN KIMIA BERWAWASAN CET (Chemoedutainment)

BAB I


PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang


Pembaharuan di bidang pendidikan terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, di antaranya adalah pemberlakuan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang disempurnakan lagi menjadi Kurikulum Tingkat Satuan pendidikan (KTSP). Kurikulum tersebut menekankan keterlibatan siswa secara aktif dan berusaha menemukan konsep sendiri dalam proses pembelajaran di semua mata pelajaran termasuk kimia. Guru sebagai fasilitator dan pendorong siswa untuk menggunakan keterampilan proses serta menerapkan inovasi model pembelajaran sehingga pembelajaran  kimia  mampu  mengembangkan life skill yang merupakan implementasi dari kurikulum KTSP.


Metode  mengajar  di  sekolah  dasar  sampai  perguruan  tinggi  masih monoton  menggunakan  metode  mengajar  secara  informatif,  pengajar  lebih banyak berbicara dan bercerita untuk menginformasikan semua fakta dan konsep sedangkan siswa hanya sebagai obyek pembelajaran saja. Dari fakta tersebut jelas bahwa siswa hanya mendapat sebatas pengetahuan yang nantinya akan terukur dalam  penilaian  kognitif  saja.  Padahal  dalam  KTSP  siswa  dituntut  untuk mencapai ketuntasan belajar yang dicerminkan oleh nilai kognitif, nilai afektif dan  nilai  psikomotorik.  Nilai  psikom bisa  diambil  dari  nilai  praktikum siswa sedangkan afektif dari tingkah laku siswa sehari-hari .


Salah  satu  prinsip  psikologi  belajar  manyatakan  bahwa  makin  besar keterlibatan  siswa  siswa  dalam  kegiatan,  maka  makin  besar  baginya  untuk mengalami proses belajar. Siswa akan mudah memahami konsep yang rumit dan abstrak jika disertai contoh-contoh yang konkrit, contoh-contoh yang sesuai dengan kondisi sehari-hari dan mempraktekkannya sendiri. Hal ini berarti pembelajaran yang baik harus sesuai dengan indikator KTSP yaitu  meliputi aspek kognitif, aspek psikomotorik dan aspek afektif.


SMA Walisongo Semarang merupakan salah satu SMA swasta di tengah- tengah kota Semarang. Sehingga input siswa di sekolah tersebut masih tergolong rendah. Siswa-siswanya sebagian besar dari kalangan menengah ke bawah. Fasilitas yang ada di sekolah tersebut kurang dimanfaatkan secara maksimal. Fenomena tersebut terlihat bahwa perustakan yang ada jarang sekali dikunjungi. Sebagian besar siswa mengatakan hanya 1 kali dalam seminggu ke perpustakaan. Sehingga guru harus bisa mengembangkan pembelajaran yang bisa memotivasi mereka untuk belajar lebih giat, khususnya pelajaran kimia.


Materi  kimia  merupakan  salah  satu  materi  yang  kurang  diminati  oleh siswa, tidak terkecuali siswa-siswi SMA Walisongo Semarang. Berdasarkan angket yang dibagikan pada siswa, 28 dari 34 siswa menjawab kurang tertarik dengan pelajaran kimia.


Berdasarkan survei dari penulis, di SMA Walisongo metode yang digunakan  sebagian  besar  adalah  ceramah  dengan  latihan-latihan  soal.  Hal tersebut sesuai dengan hasil wawancara dengan siswa bahwasanya 19 dari 34 siswa mengatakan metode yang selama ini digunakan adalah ceramah dengan latihan-latihan soal. Selain hal tersebut, mereka mengatakan bahwa mereka baru melakukan praktikum 1 kali di laboratorium. Hal tersebut tidak dipungkiri oleh guru pengampu, karena laboratorium yang digunakan masih bergabung dengan laboratorium biologi dan fisika. Sehingga penggunaan laboratorium kurang maksimal. Guru juga kesulitan dalam melakukan persiapan praktikum karena tidak ada laboran yang membantu dalam persiapan praktikum. Dari fakta tersebut jelas bahwa metode yang digunakan hanya mampu mengukur aspek kognitif dan afektif saja sedangkan aspek psikomotorik belum maksimal terukur.


Selain beberapa hal di atas nilai ulangan blok I yang disurvei menunjukkan bahwa nilai rata-rata siswa kelas XI hanya mencapai 36,91 dengan nilai tertinggi 80 dan nilai terendah 0. Standar ketuntasan belajar belum bisa tercapai karena standar   ketuntasan   belajar   yang   dicapai   hanya  29,41%.   Oleh   karena   itu dibutuhkan suatu metode atau media  yang dapat mencakup ketiga aspek tersebut dan meningkatkan ketertarikan siswa terhadap pelajaran kimia, sehingga nilainya meningkat tetapi tidak menambah waktu yang tersedia.


Bertolak dari uraian di atas diajukan suatu penelitian yang menawarkan suatu tindakan dalam proses belajar mengajar di kelas untuk meningkatkan hasil belajar siswa yang ditunjukkan dengan adanya perubahan pada indikator lebih dari 75% siswa mendapatkan nilai ulangan minimal 60 dan terciptanya suasana kelas yang kondusif untuk pembelajaran. Maka beberapa pokok pikiran bagi penulis memilih judul skripsi :


PENINGKATAN HASIL BELAJAR  KIMIA POKOK BAHASAN STOKIOMETRI  LARUTAN  PADA  SISWA  KELAS  XI  SEMESTER  II SMA WALISONGO SEMARANG MELALUI PERMAINAN KIMIA BERWAWASAN CET (Chemoedutainment)”


Penelitian ini berfokus pada peningkatan hasil belajar kimia materi stokiometri  larutan siswa  kelas  XI.  Penelitian ini direncanakan  dan dikolaborasikan dengan guru pengampu mata pelajaran setiap periode tertentu dilaksanakan iskusi refleksi untuk  meningkatkan  validitas  pengamatan. Intensifnya pelaksanan penelitian ini tercermin 3 siklus yang direncanakan dan disusun dengan penekanan daya tarik siswa dengan Praktikum Percobaan Permainan  Kimia    sebagai  penerapan  CET dalam  pembelajaran  pada  setiap siklusnya.


1.2 Identifikasi Masalah


Berdasarkan observasi dan kolaborasi antara peneliti dan guru pengampu di SMA Walisongo Semarang diperoleh identifikasi masalah pada gambar 1. Dari pohon masalah tersebut dapat dibuat pohon sasaran untuk menggambarkan apa yang diinginkan sesuai dengan gambar 2.


1.3 Rumusan Masalah


Dari identifikasi masalah di atas dapat ditemukan suatu rumusan masalah apakah dengan penerapan permainan kimia berwawasan CET (Chemoedutainment) siswa kelas XI SMA Walisongo Semarang dapat mencapai peningkatan  ketuntasan  hasil  belajar  kimia  pada  pokok  materi  stoikiometri larutan?

PENGARUH TEPUNG TEMPE TERHADAP UKURAN JARINGAN KANKER MAMMA DAN GAMBARAN MIKROANATOMI HEPAR MENCIT (Mus muscullus) GALUR C3H SETELAH DITRANSPLANTASI SEL Adenocarcinoma mammae.

BAB I


PENDAHULUAN


A. Alasan Pemilihan Judul


Penyakit kanker merupakan salah satu penyebab kematian yang cukup tinggi. Di Indonesia, diperkirakan setiap tahun terdapat penderita baru dari setiap seratus ribu penduduk dan penyakit kanker menduduki urutan ketiga penyebab kematian setelah penyakit jantung dan paru-paru (Nugroho dkk., 2000). Di Semarang pada tahun 1995 kanker payudara menduduki urutan pertama dengan jumlah penderita sebanyak 10,25 per seratus ribu orang. Begitu pula insiden kanker payudara yang terjadi di Ujungpandang dan Yogyakarta menduduki urutan pertama (Soetiarto,


1996). Menurut Tambunan (1997) kanker payudara (Karsinoma mammae) termasuk 10 jenis kanker terbanyak di Indonesia yang merupakan penyebab kematian nomor dua setelah kanker rahim (Karsinoma cervik uteri) pada wanita, dan terkesan meningkat sebagai refleksi perubahan pola hidup dan makanan masyarakat Indonesia.


Di negara maju telah dilakukan berbagai cara pengobatan untuk mengatasi penyakit kanker, pengobatan spesifik untuk penyakit kanker sampai saat ini belum di temukan tetapi pengobatan dan pencegahan secara medis melalui pemberian obat anti kanker, kemoterapi dan operasi yang tergolong mahal masih terus dilakukan, akan tetapi semua cara tersebut belum menghasilkan penyembuhan yang memuaskan. Ditengan-tengah keputusasaan itu muncul harapan baru yaitu beralih ke pencegahan  dengan pemberdayaan hidup sehat dan alami antara lain dengan menggunakan diet nutrisi.


Pencegahan adalah cara terbaik dalam penanganan suatu penyakit, tetapi jika penyakit sudah timbul perlu ditingkatkan daya tahan tubuh untuk menghilangkan penyakit tersebut. Defisiensi zat gizi akan melumpuhkan sistem kekebalan tubuh dan akhirnya tubuh tidak mampu membendung karsinogen. Gizi seimbang merupakan  cara  paling  baik  untuk  meningkatkan  kemampuan  tubuh  untuk melawan penyakit dan makanan merupakan sumber utama nutrisi yang sangat di butuhkan oleh tubuh (Khomsan, 2004).


Nutrisi yang digunakan untuk penyakit kanker menggunakan diet fitoestrogen yang merupakan bahan yang berasal dari tumbuhan yang mempunyai struktur kimia dan aktivitas biologis menyerupai hormon estrogen dalam tubuh. Salah satu jenis fitoestrogen yang banyak diteliti penggunaanya adalah isoflavon, yaitu fitoestrogen yang antara lain terdapat pada protein kedelai dan produk-produk kedelai seperti tempe.


Hasil penelitian diberbagai bidang kesehatan telah membuktikan bahwa konsumsi produk-produk kedelai berperan penting dalam menurunkan resiko terkena berbagai penyakit degeneratif. Isoflavon merupakan faktor kunci dalam kedelai  yang  memiliki  potensi  memerangi  penyakit  tertentu  (Koswara, 2006). Tempe  merupakan   produk   makanan   dari   kacang   kedelai   yang   berkhasiat mencegah penyakit kanker salah satunya kanker payudara, melindungi jantung dari penyakit jantung koroner (PJK), mencegah osteoporosis dan  menurunkan kolesterol (Pawiroharsono, 2001).


Hipotesis yang menyatakan bahwa tempe dapat mencegah penyakit kanker didukung fakta pada kebanyakan bangsa Asia yang banyak mengkonsumsi makanan produk kedelai ini angka penderita kanker payudaranya lebih rendah daripada negara lain seperti di Amerika dan Eropa yang jarang mengkonsumsi kedelai. Berdasarkan penelitian tahun 1997 yang diterbitkan jurnal kedokteran Inggris, The Lancet, juga menemukan konsumsi kedelai yang banyak mengandung senyawa fitoestrogen akan menurunkan resiko kanker payudara (Health, 2005).


Penelitian mengenai khasiat tempe sudah banyak dilakukan, namun laporan mengenai  kekuatan  penghambatan tempe  terhadap  munculnya kanker  mamma beserta  efek  samping konsumsi tempe  yang berlebihan terhadap  tubuh  belum diketahui, karena tidak menutup kemungkinan zat-zat kimia yang terkandung di dalam tempe dapat mempengaruhi organ-organ tubuh terutama hepar. Mengingat hepar merupakan tempat untuk metabolisme dan detoksikasi zat-zat kimia yang masuk ke dalam tubuh. Untuk itu perlu dilakukan penelitian mengenai pengaruh pemberian tepung tempe sebagai agensia penghambat kanker mamma dan efek yang ditimbulkan pada organ lain ditubuh manusia. Penelitian dilakukan dengan pemberian suplemen tepung tempe pada mencit C3H yang kemudian mendapatkan perlakuan transplantasi sel Adenocarsinoma mammae dari mencit Mus musculus galur C3H donor.


B. Permasalahan


Apakah pemberian tepung tempe dapat berpengaruh pada ukuran jaringan kanker mamma dan bagaimana gambaran mikroanatomi hepar mencit (Mus muscullus) galur C3H yang ditransplantasi sel Adenocarcinoma mammae.

MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH UNTUK MENGEMBANGKAN KECAKAPAN MATEMATIKA SISWA SD KELAS V SEBAGAI IMPLEMENTASI KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK)

BAB I


PENDAHULUAN


A. Alasan Pemilihan Judul


Perubahan  cepat  dan  pesat  sering  terjadi  dalam berbagai  bidang,  seperti politik/ketatanegaraan,  ekonomi,  ilmu  pengetahuan, teknologi,  budaya, ini merupakan ciri atau karakter dari dinamika di abad ke-21 yang merupakan abad informasi. Seiring dengan perubahan yang pesat ini, lembaga pendidikan memiliki peran sentral dalam membantu mempersiapkan peserta didik, baik secara individual maupun kolektif, agar mampu hidup secara produktif di tengah masyarakat dengan berbagai permasalahan atau problema yang dihadapinya.


Agar dapat mengantisipasi perubahan yang pesat itu, maka pendidikan yang hanya menekankan pada penanaman konsep (produk) menjadi tidak sesuai lagi. Selain penanaman konsep, pendidikan dewasa ini harus mampu mengembangkan kecakapan-kecakapan  yang berguna  untuk  menghadapi  permasalahan  dalam kehidupan. Kecakapan ini sering disebut dengan istilah life skill. Sedangkan kecakapan  matematika  merupakan bagian  tak terpisahkan dari  kecakapan  hidup tersebut dan diperlukan untuk dapat memahami dunia di sekitarnya, serta untuk berhasil dalam kariernya.


Tim Peneliti FMIPA ITB (2002) telah melakukan Kajian Kurikulum dan Model Pembelajaran Mata Pelajaran Matematika. Model pembelajaran yang dikembangkan telah diujicobakan pada 660 SD yang tersebar dalam 10 propinsi, diantaranya adalah propinsi Jawa Tengah dengan lokasi ujicoba di 66 SD di kota Semarang. Tim peneliti telah menyusun Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) beserta model pembelajaran matematika sekolah dasar sebagai jabaran dari implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). GBPP beserta model pembelajaran yang diwujudkan sebagai rencana pembelajaran alternatif merupakan contoh yang dapat dikembangkan oleh guru. Dikatakan bahwa hasil ujicoba belum optimal, guru masih belum mampu menangkap pesan-pesan yang termuat dalam GBPP dan pembelajaran yang diujicobakan, guru masih belum mempunyai persepsi yang tepat tentang kecakapan matematika. Disamping itu, temuan dalam observasi ujicoba di Jawa Tengah oleh observer lokal adalah terdapat beberapa guru yang tidak memanfaatkan alat peraga yang diperlukan, terdapat guru yang menggunakan alat peraga pembelajaran, namun tidak tepat. Masih terdapat guru yang kurang memberdayakan siswa (siswa cenderung pasif). Masih banyak guru yang menggunakan masalah saat mengenalkan suatu konsep (sesuai dengan prinsip- prinsip  pembelajaran  yang  dianjurkan  dalam  ujicoba).  Kenyataan  di  lapangan, model pembelajaran yang biasa diterapkan selama ini cenderung hanya membahas masalah nyata (melalui soal cerita) justru pada bagian akhir pokok bahasan sebagai penerapan konsep. Salah satu rekomendasi dari penelitian tentang kajian kurikulum tersebut, bahwa perlu dilakukan intervensi kepada guru untuk memperjelas pemahaman tentang perubahan paradigma dalam pendidikan secara umum dan pendidikan matematika. Dalam intervensi ini perlu ditekankan tentang pemahaman terhadap kompetensi, kecakapan  hidup (dalam   matematika    terkait    dengan kecakapan matematika serta prinsip-prinsip dalam pembelajarannya), pembelajaran yang berpusat pada siswa, serta peran guru.


Model pembelajaran berbasis masalah dengan contoh perangkat pembelajarannya sebagai produk  dari penelitian ini  diharapkan akan membantu/memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran matematika, yang disamping mampu meningkatkan prestasi siswa (mencapai ketuntasan belajar), juga mampu mengembangkan kecakapan-kecakapan matematika, seperti    yang diharapkan dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Kecakapan tersebut seperti siswa terbiasa bekerja dengan orang lain, mendengarkan dengan aktif, berani bertanya, menjawab pertanyaan atau menyampaikan pendapat, dan kreatif dalam memecahkan masalah. Dan yang tak kalah penting adalah mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan (Joyful learning), dan memotivasi siswa. Dengan pembelajaran berbasis masalah diharapkan akan  membantu    siswa mengembangkan  keterampilan  berpikir  dan  keterampilan  memecahkan  masalah, serta membantu siswa menjadi pembelajar yang mandiri.


B. Rumusan Masalah


Masalah dalam penelitian ini, dirumuskan sebagai berikut: Bagaimanakah model pembelajaran berbasis masalah yang mampu mengembangkan kecakapan matematika siswa SD Kelas V?

MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN MATERI PENGELOLAAN LINGKUNGAN DENGAN PENDEKATAN JAS MELALUI PEMBELAJARAN KOOPERATIF THINK-PAIR-SHARE DAN PENILAIAN AUTENTIK DI SMPN 37 SEMARANG

BAB I


PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang


Kualitas  pembelajaran  pada suatu sekolah  dapat dilihat  dari segi proses dan  segi  hasil  pembelajaran  pada  sekolah  tersebut  (Mulyasa,  2004).  Apabila proses dan produknya baik, maka dapat dikatakan bahwa kualitas pembelajaran juga baik. Keberhasilan  suatu pembelajaran  dapat dipengaruhi  oleh pendekatan pembelajaran  yang  digunakan  guru.  Jika  pendekatan  pembelajarannya  menarik dan terpusat pada siswa (student-centered learning) maka motivasi dan perhatian siswa  akan  terbangkitkan  sehingga  akan  terjadi  peningkatan  interaksi  siswa dengan siswa dan siswa dengan guru sehingga kualitas pembelajaran dapat meningkat.


Berdasarkan hasil wawancara dengan guru Pengetahuan Alam-Biologi SMPN 37 Semarang kelas VII D diperoleh keterangan bahwa kelas VII D mempunyai aktivitas pembelajaran yang rendah. Hal ini dapat ditunjukkan dengan kurangnya frekuensi tanya jawab,  kurangnya perhatian siswa terhadap pembelajaran,  kurangnya keberanian siswa untuk mengemukakan  pendapat, dan siswa  pasif.  Selain  itu  juga  teramatinya  minat  yang  kurang  pada  siswa  saat mengikuti  proses  pembelajaran,  motivasi  belajar  siswa  yang  rendah  sehingga siswa hanya belajar jika ada tugas atau hendak ulangan, kegiatan kelompok yang tidak berjalan, dan belum ada kerjasama yang baik antar anggota kelompok.


Kurangnya   aktivitas   siswa   dalam   pembelajaran   tersebut   berakibat terhadap  hasil  belajar  siswa  yang  masih  kurang  dan  belum  sesuai  dengan potensinya yaitu ditunjukkan dari hasil nilai rata-rata ulangan harian materi Saling Ketergantungan  tahun 2004/2005 sebesar 64,6 dan nilai rata-rata kinerja ilmiah sebesar 67,22   dengan ketuntasan belajar klasikal 66,67% dari jumlah siswa 45 terdiri dari 21 putra dan 24 putri.


Berdasarkan hasil wawancara tidak terstruktur terhadap siswa, mereka mengatakan bahwa selama ini metode yang lebih sering digunakan dalam pembelajaran adalah metode ceramah sedangkan siswa lebih banyak berperan sebagai pendengar  dan pencatat.  Siswa juga mengharapkan  suasana kelas yang mendukung proses pembelajaran yaitu tercipta suasana yang tidak membosankan, rileks,   serta  siswa   dapat   berperan   aktif.   Penggunaan   metode   pembelajaran seharusnya bervariasi agar siswa tidak merasa jenuh.


Materi Pengelolaan Lingkungan untuk kelas VII semester genap erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari dan lingkungan sekitar siswa. Dalam Kurikulum 2004 SMP, kompetensi dasar yang hendak dicapai pada materi Pengelolaan  Lingkungan  yaitu  siswa  mampu  mendeskripsikan  peran  manusia dalam pengelolaan lingkungan untuk mengatasi pencemaran dan kerusakan lingkungan dan melaporkan dalam bentuk karya tulis, laporan pengamatan  atau percobaan.  Pada  materi  Pengelolaan  Lingkungan  terdapat  beberapa  submateri yang  menekankan  perlunya  dilakukan  pengamatan  atau  eksplorasi  lingkungan alam sekitar. Maka dari itu perlu diterapkan pendekatan pembelajaran yang dapat mengeksplorasi lingkungan alam sekitar siswa. Menurut Ridlo (2005), pendekatan Jelajah Alam  Sekitar (JAS) merupakan pendekatan pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan alam sekitar peserta didik baik lingkungan fisik, sosial, maupun  budaya  sebagai  obyek  belajar  biologi  yang  fenomenanya  dipelajari melalui  kerja ilmiah.  Pembelajaran  yang dilakukan  dengan  cara memanfaatkan lingkungan sebagai sumber atau bahan pembelajaran adalah suatu cara menyampaikan konsep-konsep biologi agar lebih bermakna,  dengan menggunakan lingkungan sekitarnya sebagai sumber belajar.


Salah  satu  strategi  pembelajaran  yang  cocok  untuk  implementasi  JAS adalah pembelajaran kooperatif (Anggraito dkk, 2005). Langkah ketiga dalam pembelajaran kooperatif adalah pembentukan kelompok. Pembentukan kelompok dalam pembelajaran kooperatif berdasarkan latar belakang kemampuan (tingkat) yang berbeda dengan jumlah anggota kelompok maksimal lima. Sedangkan pembentukan  kelompok  yang  sudah  dilakukan  guru  di kelas  VII D SMPN  37


Semarang   berdasarkan pemilihan   anggota   oleh   guru   secara acak tanpa mempertimbangkan kemampuan akademis. Jumlah kelompok sebanyak 8 dengan masing-masing anggota sebanyak   7  siswa.   Dalam   pembelajaran   kelompok tersebut pada umumnya  didominasi  oleh mereka yang mempunyai  kemampuan akademik yang  tinggi sehingga  siswa  berkemampuan akademik rendah beranggapan bahwa pembentukan kelompok dalam kegiatan kerja ilmiah kurang memberikan nilai lebih bagi mereka. Siswa yang berkemampuan akademik rendah cenderung   menarik  diri  dalam  pembelajaran.   Akibatnya    terjadi  kurangnya kerjasama  antar  anggota  kelompok  sehingga  pembentukan  kelompok  menjadi tidak bermakna.


Ada berbagai model pembelajaran kooperatif, misalnya adalah STAD, Jigsaw, TGT, dan Think-Pair-Share. Strategi pembelajaran Think-Pair-Share membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok  kecil terdiri empat siswa dengan tingkat kemampuan yang berbeda. Teknik ini memberi siswa kesempatan untuk bekerja   sendiri   serta   bekerjasama   dengan   orang   lain,   mengoptimalisasikan partisipasi siswa, dan memberi kesempatan sedikitnya delapan kali lebih banyak kepada setiap siswa untuk dikenali dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain (Lie,  2004). Siswa dapat lebih berperan aktif dalam kelompok dengan jumlah anggota yang sedikit karena interaksi dalam kelompok dipengaruhi juga oleh banyaknya anggota dalam kelompok. Makin besar kelompok, makin kurang intensif interaksi dan makin lama proses kerja yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.


Salah  satu  ciri  utama  Kurikulum  Berbasis  Kompetensi  yaitu  penilaian yang menekankan  pada proses  dan hasil belajar  dalam upaya  penguasaan  atau pencapaian suatu kompetensi. Untuk menilai kemajuan siswa dalam belajar pada Kurikulum 2004 menggunakan  pendekatan Penilaian Berbasis Kelas yang biasa disebut penilaian autentik  (authentic  assessment).  Penilaian  autentik  sendiri sebenarnya  bertujuan  untuk  meningkatkan  kualitas  hasil  proses  pembelajaran melalui sistem penilaian. Dengan penilaian autentik diharapkan siswa tidak hanya memahami  materi yang dipelajari  dalam proses pembelajaran  tetapi melakukan tindakan dan menghasilkan suatu produk sebagai wujud dari pemahamannya akan materi yang dipelajari (Suhardi dkk, 2003).


B.  Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat dirumuskan masalah yaitu apakah melalui pendekatan Jelajah Alam Sekitar dengan pembelajaran kooperatif Think-Pair-Share dan penilaian autentik dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas VII D SMP Negeri 37 Semarang pada materi Pengelolaan Lingkungan?

MENINGKATKAN KETERAMPILAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN PERSAMAAN LINIER SATU VARIABEL DENGAN PEMBELAJARAN BERBANTUAN ALAT PERAGA KARTU VARIABEL DAN KARTU BILANGAN PADA SISWA KELAS VII C SMP NEGERI 2 GRABAG TAHUN 2004/2005

BAB I


PENDAHULUAN


Latar Belakang Masalah


Perhatian  pemerintah  Republik  Indonesia  terhadap dunia pendidikan  di negeri ini begitu besar. Anggaran pendidikan yang dialokasikan tiap tahunnya selalu besar. Pembangunan unit gedung sekolah baru, pengangkatan guru baru, pelatihan  guru,  pemberian  bantuan  sarana  dan  prasarana.  Tidak  lain  segala usaha  ini dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan penyelenggaraannya,   sebagaimana  diamanatkan  oleh  Undang-Undang  Dasar 1945.


Usaha  pemerintah  tersebut  perlu  didukung  oleh  guru-guru  di  sekolah. Salah  satu  usahanya  adalah  mengoptimalkan  pengajaran  dengan  penggunaan alat peraga/media pengajaran. Alat peraga/media merupakan satu komponen pengajaran yang mendukung keberhasilan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Proses kegiatan belajar mengajar  (KBM) dapat berlangsung  lebih efektif dan optimal jika semua komponen pengajaran saling mendukung.


Kurikulum yang saat ini berlaku adalah Kurikulum 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), yang memberikan wewenang lebih bagi sekolah dan guru  untuk  mengelola  pengajaran  yang  berlangsung  di sekolah tersebut. Juga dengan dimunculkannya Menejemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) diharapkan mutu pendidikan di sekolah tersebut benar-benar menjadi lebih baik.


Banyak cara yang dapat dilakukan guru dalam upaya meningkatkan mutu pengajaran  disekolah  sehingga  tujuan pengajaran  dapat tercapai dengan baik. Salah  satu diantaranya adalah mengajar dengan menggunakan alat peraga/media. Mengingat alat peraga/media begitu penting maka perlu menjadi pemikiran bagi setiap guru di sekolah. Selain mengusahakan adanya alat peraga dan  memahami  penggunaannya,  seorang  guru  harus  dapat  mengembangkan kreasi dan keterampilannya untuk membuat sendiri alat bantu pengajaran yang dibutuhkan tersebut, disesuaikan dengan kondisi sekolah dan lingkungan. Agar pengajaran matematika berhasil baik maka guru harus juga merancang proses belajar mengajar yang melibatkan siswa secara aktif, kreatif dan terampil.


Pengalaman Peneliti selama mengajar di SMPN 2 Grabag   dalam mengajar  pokok  bahasan  persamaan  belum  pernah  menggunakan  alat peraga kartu variabel. Berdasarkan pengalaman pula bahwa kemampuan siswa dalam menyelesaikan persamaan linier satu variabel masih rendah, sering salah, sering tidak dapat membuat persamaan ekuivalen dengan persamaan semula. Padahal bentuk-bentuk persamaan linier satu variabel sering dijumpai pada materi penerapan pada pokok bahasan lain atau pada mata pelajaran lain.


Kartu  variabel  dan kartu bilangan  adalah  salah satu alat peraga  kreasi penulis yang diharapkan dapat menjadi media dalam menyampaikan informasi pelajaran pada pokok bahasan persamaan linier satu variabel. Alat peraga kartu ini  dapat   dibuat   oleh  guru,   juga   siswa-siswa   dalam   kelompok   sehingga melibatkan  siswa  secara  efektif.  Kartu  variabel  dibuat  dari  kertas  berbentuk persegi panjang bertuliskan variabel (misal x dan -x) kartu bilangan bertuliskan bilangan (misal 1 dan -1).


Permasalahan


Sekolah merupakan  tempat pendidikan  bagi siswa-siswa  generasi muda penerus bangsa. Tentu banyak masalah yang timbul berkenaan dengan proses pendidikannya.  Salah  satunya  adalah  rendahnya  prestasi  siswa.  Bagian  dari upaya untuk meningkatkan prestasi adalah mengoptimalkan proses belajar mengajar.  Kreatifitas  guru dalam  menyampaikan  materi  pelajaran  merupakan bagian  dari  keberhasilan  dari  proses tersebut.  Upaya  untuk  mengoptimalkan proses kegiatan belajar mengajar tersebut, harus mengacu pada efektifitas pengajaran, kreatifitas, minat dan prestasi siswa.


Penggunaan alat peraga/media pengajaran perlu dipertimbangkan sebagai salah  satu  variasi  dan  kreatifitas  dalam  pengajaran.  Media  dapat  membawa siswa  ke  dalam  kondisi  belajar  yang  tidak  monoton  atau  membosankan. Pemilihan alat peraga harus tepat sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran. Kartu variabel dan kartu bilangan dapat digunakan untuk menerangkan materi persamaan linier satu variabel pada kelas VII. Diharapkan dengan penggunaan alat peraga ini siswa lebih mudah dan sistematis dalam mengerjakan soal-soal persamaan linier.


Permasalahan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah :




  1. Apakah dengan pembelajaran berbantuan alat peraga kartu dapat membuat siswa aktif dalam belajar?

  2. Apakah  dengan  pembelajaran  berbantuan  alat  peraga  kartu  siswa  dapat menguasai dan terampil menyelesaikan persamaan linier satu variabel?

  3. Apakah hasil belajar siswa dapat ditingkatkan?

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA SUB POKOK BAHASAN OPERASI BILANGAN PECAHAN DENGAN MENGGUNAKAN KARTU PECAHAN PADA SISWA KELAS III MI MIFTAHUL HUDA DESA JATISONO KECAMATAN GAJAH KABUPATEN DEMAK TAHUN AJARAN 2004/ 2005

BAB I


PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang Masalah


Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat dewasa ini akan dapat membawa dampak yang positif pada masyarakat Indonesia berupa usaha untuk selalu meningkatkan diri agar tidak ketinggalan dalam dunia pendidikan. Masalah-masalah pendidikan yang sangat mendesak dan menuntut  prioritas  untuk  segera  ditanggulangi  antara  lain:  pemerataan pendidikan, relevansi pendidikan, dan mutu pendidikan


Guru  merupakan  unsur  penting  dalam  sebuah  sistem  pendidikan. Proses belajar siswa sangat dipengaruhi  oleh bagaimana  siswa memandang guru mereka. Guru yang memberi perhatian, hangat dan supportif (memberi semangat) diyakini bisa memberi motivasi belajar yang pada gilirannya dapat meningkatkan prestasi siswa.


Hal ini dapat  dilihat  dengan  adanya bahan  pembelajaran  yang sulit akan terasa mudah oleh siswa dengan bantuan guru. Tugas utama guru adalah mengelola proses belajar mengajar sehingga terjadi interaksi aktif antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Interaksi tersebut sudah barang tentu akan mengoptimalkan tujuan yang telah dirumuskan.


Upaya peningkatan kualitas pendidikan merupakan salah satu pokok permasalahan. Salah satu pemecahan masalah tersebut adalah pemanfaatan penelitian pendidikan. Penelitian pendidikan yang dimaksud adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas dilakukan dalam usaha memperbaiki proses pembelajaran.


Ada   beberapa   pendapat   mengenai   proses   belajar   mengajar.   Di antaranya menurut Usman proses belajar mengajar adalah suatu proses yang berlangsung  dalam  situasi  edukatif  untuk  mencapai  tujuan  tertentu.  Dalam proses belajar mengajar ada guru, peserta didik, dan sesuatu yang diajarkan. Menurut William Burton Proses belajar ialah pengalaman, berbuat, mereaksi, dan melampaui (Under going). Proses belajar dan hasil belajar disyarati  oleh hereditas  dan lingkungan.  Bukti bahwa seorang telah belajar ialah  terjadinya  perubahan  tingkah  laku  orang  tersebut  (Oemar  Hamalik, 2003: 30 -31)


Suatu proses belajar yang aktif ditandai  dengan  adanya keterlibatan siswa secara komprehensif baik fisik, mental, maupun emosional. Pembelajaran matematika memerlukan kemampuan guru dalam mengelola proses belajar mengajar sehingga keterlibatan siswa dapat optimal, yang akhirnya berdampak pada perolehan hasil belajar. Pengelolaan ini dapat dilakukan  dengan  melakukan  variasi  metode mengajar,  disesuaikan  dengan sub pokok bahasan yang sedang diberikan.


Menurut pengamatan  penulis, kenyataan menunjukkan  bahwa masih banyak siswa Madrasah Ibtida’iyah Miftahul Huda Desa Jatisono Kecamatan Gajah Kabupaten Demak rendah kemampuan berhitungnya, termasuk dalam hal itu kemampuan  berhitung dalam pecahan. Hal tersebut disebabkan oleh proses   belajar   mengajar   pelajaran   matematika   yang   cenderung   siswa mendengarkan informasi dari guru, bahkan banyak di antara siswa melakukan aktifitas  di  luar pelajaran matematika seperti mencoret-coret   buku, mengganggu temannya dan sebagainya.


Matematika berangkat dari hal-hal   yang   abstrak   sehingga   sulit diterima dan dipahami oleh  siswa,  termasuk  di dalamnya  pada  sub pokok bahasan  pengerjaan  operasi  hitung  pecahan.  Faktor  lain  mungkin  karena banyak  guru  yang enggan  menggunakan  alat peraga  dalam  menyampaikan materi  pelajaran,  terlebih  lagi  jika  alat  peraga  tersebut  tidak  tersedia  di sekolah. Guru enggan menciptakan alat peraga sendiri sebagai penunjang keberhasilan di dalam menyampaikan materi pelajaran.


Peneliti tertarik untuk mengadakan  penelitian tindakan kelas dengan menggunakan alat peraga dalam proses pembelajaran. Alasan penulis dalam penggunaan alat peraga kartu pecahan, adalah sebagai berikut.




  1. Alat  peraga  yang  sesuai  dengan  materi  pelajaran  dapat  memberikan motivasi siswa dalam belajar,

  2. Masalah hasil belajar tetap menjadi masalah yang menarik untuk dijadikan objek penelitian,

  3. Dengan  penelitian  ini diharapkan  hasil  yang diperoleh  dapat  digunakan oleh guru matematika dalam proses belajar mengajar


B.  Masalah


Masalah  yang  akan  diungkapkan  adalah  sebagai  berikut  :  “Bagaimana pengaruh penggunaan Kartu Pecahan dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas III MI Miftahul Huda Jatisono Gajah Demak pada sub pokok bahasan pecahan tahun ajaran 2004/ 2005”

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PERKALIAN BILANGAN CACAH DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PERAGA POTONGAN LIDI PADA SISWA KELAS II SD GUNUNGPATI 03 TAHUN PELAJARAN 2004/2005

BAB I


PENDAHULUAN


A. Latar Belakang


Matematika  sebagai salah satu ilmu dasar dewasa ini berkembang sangat pesat baik materi maupun kegunaannya.   Dengan   demikian   maka   setiap penyusunan kembali kurikulum matematika sekolah harus selalu mempertimbangkan  perkembangan  matematika.  Pengalaman-pengalaman   masa lalu dan kemungkinan untuk masa depan.


Ilmu matematika memiliki nilai-nilai yang sangat penting dalam memhentuk sumber daya manusia yang berkualitas karena matematika mempunyai obyek yang abstrak dan memiliki pola pikir deduktif aksiomatis. Nilai-nilai tersebut diperlukan dalam pengajaran  matematika  yang bertujuan dapat menumbuhkemhangkan dan membentuk pribadi siswa dengan menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masa kini.


Banyak pendapat  yang tampak berlainan tetapi dapat ditarik ciri-ciri yang sama yaitu “matematika   memiliki obyek kajian yang abstrak. matematika mendasarkan diri pada kesepakatan-kesepakatan, matematika sepenuhnya menggunakan pola fikir deduktif dan matematika dijiwai dengan kebenaran konsistensi (Soedjadi dan Marsiyah dalam Amin Suyitno, 1997:2).


Fungsi matematika sekolah adalah sebagai masukan instrumental yang memiliki  obyek dasar yang abstrak  dan berlandaskan  kebenaran  konsistensi. Dalam  sistem   proses   pembelajaran   untuk   mencapai   tujuan   pendidikan Nasional. Matematika sekolah merupakan bagian dan matematika yang dipilih atas dasar pengembangan kemampuan dan kepribadian  siswa atas perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.


Seirama dan sejalan dengan fungsi matematika sekolah maka fungsi matematika di sekolah dasar adalah sebagai berikut.




  1. Menumbuhkan  dan mengembangkan  keterampilan berhitung sebagai alat dalam kehidupan sehari-hari.

  2. Menumbuhkan   kemampuan   siswa   yang  dapat   dialihgunakan   melalui kegiatan matematika.

  3. Mengembangkan  pengetahuan  dasar  matematika  sebagai  bekal  belajar siswa  yang  dapat  digunakan  lebih  lanjut  di  sekolah  lanjutan  tingkat pertama (SLTP).

  4. Membentuk sikap logis, kritis. hemat, kreatif dan disiplin.


Namun  sampai  saat  ini  prestasi  belajar  siswa  bidang  studi  matematika masih rendah. Rendahnya nilai matematika siswa dalam menyelesaikan soal-soal disebabkan antara lain oleh pengajar sendiri di dalam menyampaikan materi baru kurang memperhatikan  metode dan atau alat-alat bantu agar siswa lebih mudah berfikir logis. Perlu disadari bahwa setiap siswa adalah manusia yang rnemiliki berbagai perbedaan antara lain keadaan fisik, mental, kepribadian, kondisi lingkungan  keluarga,  kemampuan  intelektual,  minat  dan  bakat.  Maka  seorang guru  harus  bisa  memahami  perbedaan-perbedaan  kondisi  siswa  tersebut  agar tujuan pembelajaran bisa tercapai.


Salah satu pokok pembahasan dan mata pelajaran matematika yang menerangkan hasil perkalian bilangan sampai dengan 45 kajiannya melalui benda- benda abstrak. Dalam hal ini alat bantu yang digunakan bertujuan memudahkan mencari hasil perkalian hilangan dengan cara yang cepat dan mudah.


Oleh karena itu di sini penulis mengambil alat bantu untuk membantu belajar  matematika  yang  berupa  potongan-potongan  lidi  dan  bambu  untuk belajar matematika  yang diraut sedemikian  rupa dan diberi warna.  Lidi-lidi tersebut digunakan oleh siswa kelas II Sekolah Dasar untuk membantu dalam pengerjaan  hitung  yaitu  pada  pengerjaan  perkalian  bilangan  cacah  sampai dengan  45. Alat peraga  tersebut  tidak harus membeli  dengan  harga mahal, tetapi   yang   mudah   didapat  dan  menarik  minat  siswa   dalam   belajar matematika.


Dengan  menggunakan  alat peraga  berupa  potongan-potongan  lidi ini diharapkan siswa tidak merasa kesulitan dalam mengerjakan hitung dan pembelajaran   matematika dan siswa akan lebih cepat menerima   dan memahami apa yang diajarkan oleh guru.


B.        Permasalahan


Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas maka permasalahan dalam penelitian ini adalah “Apakah dengan menggunakan alat peraga potongan lidi dapat meningkatkan  hasil belajar siswa kelas II SD N Gungungpati 03 pada pokok bahasan perkalian?”.

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA POKOK BAHASAN TRIGONOMETRI SISWA KELAS X SMA NEGERI 2 SLAWI TAHUN PELAJARAN 2004/2005 MELALUI IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH

BAB I


PENDAHULUAN


A.   Alasan Pemilihan Judul


Matematika merupakan salah satu cabang ilmu yang dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia, di samping itu matematika juga merupakan faktor pendukung dalam laju perkembangan dan persaingan di berbagai  bidang.  Matematika  lahir  karena  dorongan  kebutuhan  manusia, dengan bantuan matematika, banyak peristiwa atau kejadian alam semesta ini dapat dipelajari.


Sebagai ilmu dasar, matematika dewasa ini telah berkembang amat pesat, baik materi maupun kegunaannya, sehingga dalam perkembangannya atau pembelajarannya di sekolah harus memperhatikan perkembangan- perkembangannya, baik masa lalu, masa sekarang maupun kemungkinan- kemungkinan untuk masa depan. Namun hal itu kurang mendapat dukungan, baik  dari  segi  kurikulum,  sarana  dan  prasarana,  guru,  siswa dan  metode belajar. Sehingga masih banyak sekolah–sekolah   masih rendah  hasil belajarnya, terutama pada mata pelajaran matematika.


Seperti  halnya  pada  hasil  belajar  matematika  siswa  kelas  I  SMA Negeri  2  Slawi  yang  masih  tergolong  rendah,  ini  dapat  dilihat  dari  hasil ulangan harian yang diperolehnya. Dari 40 siswa yang nilainya lebih dari 6,5 hanya berkisar 10–15 siswa. Seperti halnya pada nilai matematika pokok bahasan trigonometri yang ditunjukkan dari hasil ulangan selama 2 tahun terakhir yang disajikan pada Tabel 1.


Tabel 1. Hasil Ulangan Matematika Pokok Bahasan Trigonometri Siswa SMAN 2 Slawi Selama 2 Tahun Terakhir























No.Tahun PelajaranSiswaRata-rata

1.


2002/2003

315



5,1



2.


2003/2004

310



5,3



Masih rendahnya hasil belajar matematika di SMA Negeri 2 Slawi diakibatkan oleh beberapa faktor antara lain :


1.   Faktor siswa, sebagai berikut


a.   Potensi siswa yang kurang (dilihat dari penerimaan siswa baru tahun pelajaran 2004/2005 dengan rata-rata NEM 6,3).


b.   Siswa beranggapan bahwa matematika sulit. Hal ini karena matematika adalah  suatu  mata  pelajaran yang  mempunyai  objek  kajian  yang abstrak yaitu berupa fakta, konsep, ketrampilan dan prinsip, serta banyaknya rumus yang digunakan.


c.   Motivasi belajar siswa yang rendah, ini dapat dilihat dari cara siswa dalam mengikuti pelajaran, yaitu:




  1. Siswa tidak begitu memperhatikan pada waktu guru menerangkan.

  2. Siswa senantiasa pasrah bila diberi soal-soal latihan.

  3. Siswa masih pasif atau tidak mau bertanya walaupun belum paham dengan apa yang disampaikan guru.


d.   Kesempatan belajar siswa yang relatif sedikit sebab mata pelajaran yang banyak dan waktu yang kurang.


e.   Siswa  kurang  percaya  diri  sehingga  takut  salah  untuk  mencoba menyelesaikan soal-soal matematika.


2.   Faktor guru, sebagai berikut


a.   Guru tidak membuat satuan palajaran maupun rencana pengajaran.


b.   Guru kurang mempersiapkan pengajaran secara matang.


c.   Guru tidak menggunakan alat peraga.


d.   Guru belum menemukan metode pengajaran yang tepat  (guru cenderung menggunakan metode ceramah dan latihan soal-soal saja). Untuk itu peneliti akan menggunakan suatu model pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa yaitu dengan menerapkan pembelajaran berbasis masalah dengan pendayagunaan media (alat bantu ajar).


Dalam hal ini pembelajaran berbasis masalah bukanlah sekedar pembelajaran yang dipenuhi dengan latihan-latihan saja, tetapi dalam pembelajaran berbasis masalah siswa dihadapkan dengan permasalahan yang membangkitkan rasa keingintahuan untuk melakukan penyelidikan sehingga dapat  menemukan  sendiri  jawabannya,  dan  mengemukakan  hasilnya  pada orang  lain.  Dalam  melakukan  penyelidikan  sering  dilakukan  kerja  sama dengan temannya.


Selain itu pembelajaran berbasis masalah ini bercirikan penggunaan masalah kehidupan nyata sebagai suatu yang harus dipelajari siswa untuk melatih dan meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah, serta mendapatkan pengetahuan dan konsep penting.


Guru dalam pembelajaran berbasis masalah berperan sebagai penyaji masalah, penanya, mengadakan dialog, membantu menemukan masalah dan memberikan fasilitas penelitian. Selain itu, guru menyiapkan dukungan dan dorongan yang dapat meningkatkan pertumbuhan inkuiri dan intelektual siswa. Dan dalam hal ini guru berperan sebagai pemberi rangsangan, pembimbing kegiatan siswa dan penentu arah belajar siswa.


Dari uraian di atas peneliti mengambil judul “MENINGKATKAN HASIL BELAJAR  METEMATIKA PADA POKOK  BAHASAN TRIGONOMETRI SISWA KELAS X SMA NEGERI 2 SLAWI TAHUN PELAJARAN 2004/2005  MELALUI IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH”.


B.    Permasalahan


Dalam penelitian ini penulis akan membatasi masalah yang akan diteliti  yaitu  “Apakah  pembelajaran  berbasis  masalah  dapat  meningkatkan hasil belajar matematika pada pokok bahasan trigonometri siswa kelas X SMA Negeri 2 Slawi?”