Tampilkan postingan dengan label Skripsi Teknik Sipil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Skripsi Teknik Sipil. Tampilkan semua postingan

PENGENDALIAN GERUSAN LOKAL DI PILAR DENGAN CHASING PENGAMAN

BAB I


PENDAHULUAN


1.1    Latarbelakang Masalah


Peranan  sungai  sebagai  penunjang  kebutuhan  manusia   pada  saat  ini sungguh  tidak  bisa  di  pungkiri.  Hal  ini  menyebabkan  fungsi  sungai  bukan sekedar  sarana  mengalirkan  air,  akan  tetapi  mampu  memberi  nilai  ekonomis dalam  berbagai  bidang,  mulai  dari  pembangkit  listrik,  penyediaan  air  baku, sarana transportasi, pertanian dan sebagainya.


Sungai secara umum memiliki suatu karakteristik sifat yaitu terjadinya perubahan  morfologi  pada bentuk  tampang  aliran.  Perubahan  ini bisa terjadi dikarenakan oleh  faktor  alam  dan  faktor  manusia  seperti  halnya  pembuatan bangunan-bangunan  air  seperti  pilar,  abutmen,  bendung  dan  sebagainya.  Sifat sungai yang dinamis, dalam waktu tertentu   akan mampu menjadikan  pengaruh kerusakan  terhadap  bangunan  yang  ada  disekitarnya.  Oleh  karena  itu,  proses gerusan yang terjadi perlu dipelajari  untuk dicari cara-cara pengendaliannya agar bangunan yang dibuat dapat bertahan dari pengaruh kerusakan.


Gerusan  dipilar  pada    umumnya  bisa  terjadi  disebabkan  oleh  adanya gangguan oleh pilar dan aliran akan kembali seimbang dengan efek sedimentasi. Akibat  dari  dibangunnya  pilar  pada  sungai,  aliran  air yang  menuju  pilar  akan membentur dan bergerak tegak lurus kearah dasar saluran. Aliran yang bergerak tersebut  membentuk  pola  tapal  kuda  (Horse  Vortek) yang  punya  peran  sangat dominan dalam terjadinya gerusan di pilar ataupun sekitar pilar.


Keruntuhan  jembatan  yang  sering  terjadi  bukan  hanya  disebabkan  oleh gerusan semata akan tetapi juga disebabkan oleh faktor liquifaction, atau getaran yang diakibatkan oleh beban kendaraan yang lewat.  Akibat dari dua kejadian ini, pilar  jembatan   akan  berada  pada  posisi  tergantung,   dan  akan  mengalami keruntuhan (rapture).   Untuk mengendalikan  gerusan yang terjadi akibat vortek system ini maka dipakai tabung   (chasing formed) yang di tempatkan pada pilar dengan ketinggian tertentu.


1.2    Keaslian Penelitian


Di Indonesia banyak sekali penelitian yang mengambil  tema gerusan atau pengendalian  gerusan.  Munadi  (2002)  mengambil  tema gerusan  gerusan  akibat bentuk pilar tapi belum membahas tentang proteksi, Bonasoundas (1973) dalam Brouser  (1991)  dan  Graf  (1998)  melakukan  proteksi  gerusan  disekitar  pilar jembatan  dengan membuat riprap. Rinaldi (2002) mengendalikan gerusan dengan plat  yang  dipasang     melingkar  terhadap  abutmen.  Hal  inilah  yang  mendorong perlunya dilakukan studi eksperimen tentang pemasangan chasing atau selubung pada  lingkaran   pilar  guna  mengendalikan   gerusan   dipilar   jembatan.  Dari eksperimen  ini diharapkan  dapat mengetahui  pola aliran di sekitar plat dengan menempatkan sebuah pipa chasing yang menyelubungi pilar.


1.3    Batasan Masalah



Penelitian  ini  dilakukan  di  Laboratorium  Hidrolika  Universitas  Negeri Semarang dengan alat Reciculating  Sediment Flume, dengan panjang   6m lebar 0,21m dan tinggi  0,40m.  Model pilar yang digunakan adalah pipa PVC  warna putih dengan diameter 32,95, dengan diameter chasing 2d pilar. Kondisi aliran adalah  permanen  seragam  (steady-  uniform  flow).  Material  dasar  adalah  pasir yang  lolos  saringan  ayakan  no  10  dan  tertahan  diayakan  200.  Aliran  yang digunakan  adalah  aliran  tanpa  kandungan  sedimen  (clear-water  scour).  Pola gerusan yang diamati adalah pola tiga dimensi dengan pengukuran arah X,Y,Z.


1.4    Rumusan Masalah


Pokok   masalah  dalam penelitian ini adalah  bagaimana pengaruh penempatan chasing yang dipasang pada pilar terhadap pola aliran, pengaruh pemakaian chasing terhadap kedalaman gerusan dan posisi penempatan chasing yang paling efektif untuk pengendalian gerusan.

PENGARUH PERUBAHAN PENAMPANG TERHADAP KEHILANGAN ENERGI PADA PIPA POLIVINIL CHLORIDA (PVC)

BAB I


PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang Masalah


Sistem jaringan pipa merupakan komponen utama dari sistem distribusi air bersih atau air minum suatu perkotaan. Dalam perkembanganya sistem instalasi pipa memerlukan pengawasan dan perawatan yang kontinyu, hal ini untuk mengurangi kerugian-kerugian akibat kondisi instalasi yang salah satunya dipengaruhi umur pipa. Permasalahan-permasalahan yang sering timbul akibat kurangnya perawatan dan umur pipa antara lain : a) kebocoran, b) lebih sering terjadi kerusakan pipa atau komponen lainnya, c) besarnya tinggi energi yang hilang dan d) penurunan tingkat layanan penyediaan air bersih untuk konsumen (Kodoatie, 2002: 262). Permasalahan-permasalahan di atas diperparah lagi dengan meningkatnya  sambungan-sambungan  baru  di  daerah  permukiman   maupun industri dengan  tanpa memperhatikan   kemampuan ketersediaan air  dan kemampuan sistem jaringan air minum tersebut.


Jaringan pipa air bersih atau instalasi air bersih adalah suatu jaringan pipa yang  digunakan  untuk  mengalirkan  atau  mendistribusikan  air  ke  masyarakat. Aliran terjadi karena adanya perbedaan tinggi tekanan dikedua tempat, tekanan terjadi  karena  adanya  perbedaan  elevasi  muka  air  atau  karena  digunakannya pompa yang lebih sering untuk mengalirkan air dari tempat yang rendah ketempat


yang lebih tinggi. Penggunaan pompa dapat pula bertujuan untuk mengurangi adanya faktor gesekan antara aliran air dengan dinding basah pipa yang timbul di sepanjang saluran pipa sebagai akibat adanya viskositas cairan.


Pada saat ini, masih banyak digunakan pipa besi (galvanis ) dan pipa jenis polivinil chlorida (PVC) oleh masyarakat, pipa-pipa tersebut tersedia dipasaran dengan berbagai merek baik yang diproduksi oleh industri dalam negeri maupun dari produk impor. Penggunaan pipa oleh masyarakat tentunya dengan berbagai pertimbangan sesuai dengan kebutuhan, misalnya : saluran pipa harus lebih tahan terhadap korosi, tahan terhadap temperatur tinggi, tidak mudah pecah atau bocor dan mudah dipasang secara flexible.


Salah satu gangguan atau hambatan yang sering terjadi dan tidak dapat diabaikan pada aliran air yang menggunakan pipa adalah kehilangan energi akibat gesekan dan perubahan penampang atau pada tikungan serta gangguan–gangguan lain yang mengganggu aliran normal. Hal ini menyebabkan aliran air semakin lemah dan mengecil.


Perencanaan sistem distribusi air didasarkan pada 2 (dua) faktor utama yaitu kebutuhan air dan tekanan (Brebbia & Ferrante, 1983 dalam Triatmojo 1996 : 58). Kebutuhan air yang harus dipenuhi akan menentukan ukuran dan tipe sistem distribusi yang di inginkan misalnya dipakai kebutuhan 125 liter / orang untuk suatu jaringan, maka kita harus merencanakan debit dan tekanan yang akan diberikan. Sedangkan tekanan menjadi penting karena tekanan rendah akan mengakibatkan masalah dalam distribusi jaringan pipa, namun bila tekanan besar akan memperbesar kehilangan energi. (Triatmojo 1996 : 58).


Kehilangan energi adalah besar tingkat kehilangan energi yang dapat mengakibatkan berkurangnya kecepatan aliran air dalam saluran. Secara umum kehilangan energi dikelompokan menjadi 2 (dua) :


1.1.1.   Kehilangan energi akibat gesekan.


Kehilangan energi akibat gesekan disebut juga kehilangan energi primer (Triatmojo, 1996 : 58) atau major loss (Kodoatie 2002 : 245). Terjadi pada pipa lurus berdiameter konstan.


1.1.2.   Kehilangan energi akibat perubahan penampang dan aksesoris lainnya.


Kehilangan energi akibat perubahan penampang dan aksesoris lainnya disebut juga kehilangan energi skunder (Triatmojo 1996 : 58)  atau minor loss (Kodoatie 2002 : 245). Misalnya terjadi pada pembesaran tampang (expansion), pengecilan penampang (contraction), belokan atau tikungan.


Pemakaian jaringan pipa dalam bidang teknik sipil terdapat pada sistem distribusi jaringan air minum. Sistem jaringan ini merupakan bagian yang paling mahal dari suatu perusahaan air minum. Oleh karena itu harus dibuat perencanaan yang teliti untuk mendapatkan sistem distribusi yang efisien. Jumlah atau debit air yang disediakan tergantung pada jumlah penduduk dan industri yang dilayani, serta perlu diperhitungkan pertumbuhannya dimasa yang akan datang.


Dalam perencanaan jaringan pipa air bersih di tentukan oleh kebutuhan air dan tekanan aliran yang diperlukan. Tekanan akan menimbulkan energi aliran, tekanan kecil akan mengakibatkan masalah dalam distribusi, sedang bila tekanan besar akan mempertinggi kehilangan energi.


Perlunya penelitian mengenai kehilangan energi pada pipa lurus maupun adanya perubahan penampang terutama pada pipa jenis polivinil chlorida (PVC) berdiameter ½ “dan ¾”, hal ini mengingat pipa jenis ini masih banyak dipergunakan pada pemukiman penduduk maupun industri. Selain itu pipa jenis PVC sangatlah berbeda dengan pipa jenis lainya sehingga sangat dibutuhkan informasi tentang berapa besar kehilangan energi pada pipa jenis ini.


1.2       Permasalahan


Selama ini pada jaringan yang luas membutuhkan pipa yang banyak dan mungkin berbeda diameternya, hal ini tentu diperlukan kecermatan dalam perencanaan dan penelitian terlebih dahulu. Salah satu yang harus diketahui dalam perencanaan jaringan pipa adalah besarnya kehilangan energi yang terjadi pada saluran atau pipa yang akan digunakan, sehingga meminimalisir kerugian – kerugian yang akan terjadi. Oleh karena itu dalam penelitian ini peneliti merumuskan suatu permasalahan berapa besar kehilangan energi pada pipa lurus dan adanya perubahan penampang khususnya pada saluran pipa jenis PVC merk maspion dengan diameter ½ inchi dan ¾ inchi.

PENGARUH PENAMBAHAN SERBUK GERGAJI KAYU JATI (Tectona grandis L.f) PADA MORTAR SEMEN DITINJAU DARI KUAT TEKAN, KUAT TARIK DAN DAYA SERAP AIR

BAB I


PENDAHULUAN


1.1 Alasan Pemilihan Judul


Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi diakhir abad lalu demikian pesat, bahkan diabad 21 IPTEK akan menjadi ciri utama dalam hidup manusia. Hanya manusia yang berkualitas, yang mampu mengembangkan, menyerap dan mengolah iptek secara benar, akan berhasil menjawab tantangan jaman. Peningkatan  dan  pengembangan  sumber  daya  manusia  (SDM)  secara  terus menerus dan benar akan mampu menghantarkan manusia untuk mengolah dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada, guna mencapai peningkatan dan pemerataan kesejahteraan serta kemakmuran masyarakat, bangsa dan negara.


Sumber daya alam di negara kita tersedia cukup melimpah, namun tidak bisa dikatakan  tak  terbatas,  bahkan  kadang-kadang  cukup  menggelisahkan. Pemanfaatan sumber daya alam haruslah diusahakan sehingga mencapai daya guna dan tepat guna yang sebesar-besarnya, dengan demikian optimasi dapat dicapai.


Dalam sejarah selalu menuntut untuk meningkakan pembangunan sarana dan prasarana yang dianggap vital oleh suatu negara, misalnya pembangunan perumahan, perkantoran ataupun untuk pendidikan. Oleh karena itu diperlukan suatu kreatifitas dalam menciptakan kreasi kontruksi dengan melakukan rekayasa- rekayasa konstruksi yang bersifat sederhana maupun yang fundamental. Namun dalam rekayasa kontruksi ini harus diperhatikan juga bagaimana tingkat keamanan dan kelayakan dari rekayasa tersebut di dalam perekayasaan kontruksi bangunan suatu gedung, misalnya mortar yang digunakan sebagai plesteran dinding bata perlu dilakukan perekayasaan tanpa meninggalkan faktor keamanan.


Mortar (sering disebut juga mortel atau spesi) adalah campuran yang terdiri dari  pasir,  bahan  perekat  serta  air,  dan  diaduk  sampai  homogen.  Mortar mempunyai fungsi yang penting dalam suatu bangunan seperti pada pekerjaan pasangan pondasi, pasangan batu bata ataupun pada pekerjaan dinding. Khusus untuk pekerjaan dinding, sekarang banyak dijumpai pekerjaan dinding yang retak pada plesterannya dan tidak kedap air, akibat dari retaknya plesteran yang ada pada pasangan diding akan mengakibatkan pada pasangan dinding ini selalu terlihat basah akibatnya rembesan air dari bagian luar dinding yang dapat menyebabkan rusaknya cat dan timbulnya jamur pada dinding tersebut. Untuk saat ini campuran mortar yang banyak dipakai untuk plesteran dinding menggunakan perbandingan semen dan pasir adalah 1 : 2, hingga 1 : 6, tetapi dengan campuran yang ada ini masih terdapat banyak kelemahannya.


Melihat kenyataan tersebut diatas, disuatu sisi kebutuhan manusia akan perumahan  semakin  meningkat  dan  di  sisi  lain  semakin  mahalnya  harga bangunan, sementara limbah industri kehutanan yang begitu besar belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan, maka penulis terdorong untuk meneliti masalah pemanfaatan limbah  industri  kehutanan  tersebut,  khususnya  serbuk  gergaji sebagai bahan isian pada mortar semen.


Pada saat ini serbuk gergaji merupakan permasalahan aktual yang sering kali menjadi beban bagi industri perkayuan karena selain makan tempat juga kurang sedap  dipandang  dan  hanya  sebagaian  kecil  yang  dimanfaatkan  yaitu  sebagai bahan  bakar  di  pedesaan.  Upaya  yang  telah  dilakukan  dalam  memanfaatkan serbuk gergaji pada industri bahan bangunan antara lain untuk pembuatan papan semen  (cementboard),  papan  partikel  (partikcleboard),  dan  mortar  ringan. Menurut Kurdi (1987, dalam Ismeddiyanto (1998)) keuntungan yang diperoleh dengan memanfaatkan bahan tersebut adalah




  1. Memiliki berat yang relatif ringan sehingga sangat cocok digunakan untuk bangunan bertingkat tinggi.

  2. Memiliki daya hantar panas dan listrik yang relatif rendah.

  3. Mempunyai sifat isolasi dan akustik yang baik sehingga bahan ini cocok untuk ruang kedap suara.

  4. Relatif lebih tahan terhadap serangan rayap dan jamur dibandingkan dengan papan  kayu,  karena  selain  berfungsi  sebagai  perekat  pasta  semen  juga berfungsi sebagai pelindung (isolator) dan pengawat serbuk gergaji dari pengaruh lingkungan yang merusak.


Dengan  memanfaatkan  serbuk  gergaji  sebagai  bahan  isian  pada  mortar semen diharapkan diperoleh keuntungan dari bahan dan dapat meningkatkan nilai tambah dan nilai guna bahan sehingga dapat meningkatkan nilai ekonominya, diversifikasi jenis bahan konstruksi, menunjang pengadaan bahan dan sedikit banyak    dapat   mengatasi    dampak   negatif    limbah    industri    kayu    terhadap lingkungan.


Tidak ada bahan (material) yang ada di dunia ini yang tidak dapat dimanfaatkan. Setiap bahan pasti dapat dimanfaatkan asalkan sesuai dengan bidangnya (Gurcharan Singh 1979, dalam Tjokrodimuljo 2004). Berdasarkan uraian tersebut diatas maka mendorong peneliti untuk mengangkat dalam bentuk skripsi dengan judul : “Pengaruh Penambahan Serbuk Gergaji Kayu Jati (Tectona Grandis L.F) pada Mortar Semen Ditinjau dari Kuat Tekan, Kuat Tarik dan Daya Serap Air”.


1.2 Permasalahan


Berdasarkan uraian diatas, permasalahan yang diajukan dalam penelitian adalah seberapa besar pengaruh penambahan serbuk gergaji kayu jati (Tectona Grandis L.f) terhadap subsitusi berat pasir dan subsitusi berat semen pada mortar semen ditinjau dari kuat tekan, kuat tarik dan daya serap air.

PENGARUH PENAMBAHAN SERAT KAWAT BENDRAT PADA CAMPURAN BETON (Tinjauan Terhadap Kuat Tarik Belah, Kuat Tekan, dan Modulus Elastisitas Beton pada Kosentrasi Panjang Serat 8 Cm, Berat Semen 350 Kg/m3, Faktor Air Semen 0,5)

BAB I


PENDAHULUAN


1.1.  Latar Belakang


Beton merupakan bahan konstruksi yang sangat penting dan paling dominan digunakan pada struktur bangunan. Beton sangat diminati karena bahan ini merupakan bahan konstruksi yang mempunyai banyak kelebihan antara lain, mudah dikerjakan dengan cara mencampur semen, agregat, air, dan bahan tambahan lain bila diperlukan dengan perbandingan tertentu. Kelebihan  beton   yang  lain adalah, ekonomis (dalam  pembuatannya menggunakan  bahan  dasar  lokal  yang  mudah  diperoleh),  dapat  dibentuk sesuai dengan kebutuhan yang dikehendaki, mampu menerima kuat tekan dengan baik, tahan aus, rapat air, awet dan mudah perawatannya, maka beton sangat populer dipakai baik untuk  struktur – struktur besar maupun kecil. Untuk itu bahan konstruksi ini dianggap sangat penting untuk terus dikembangkan.


Salah satu usaha pengembangannya ialah dengan cara memperbaiki sifat dari kelemahan beton yaitu tidak mampu menahan gaya tarik, dimana nilai kuat tarik beton berkisar  9%-15 % dari kuat desaknya (Dipohusodo, 1994).  Setiap    usaha    perbaikan    mutu   kekuatan    tekan   hanya   disertai peningkatan kecil kuat tariknya. Nilai pendekatan yang diperoleh dari hasil pengujian berulang kali mencapai kekuatan 0,50–0,60?fc’, sehingga untuk beton normal digunakan nilai 0,57?fc’ (Dipohosodo 1999: 10).


Anggapan lain mengatakan bahwa dalam perencanaan struktur, beton dianggap  hanya  mampu  menahan  tegangan  desak,  walaupun  sebenarnya beton mampu menahan tegangan tarik sebesar 27 kg / cm2 (Suhendro, 1991), sehingga hal ini dianggap tidak efisien terutama pada perencanaan yang didomonasi tarik dan lentur. Bagian tarik pada balok akan mengalami retak sekalipun hanya mendapatkan tegangan yang tidak begitu besar. Hal ini disebabkan karena adanya retak rambut yang merupakan sifat alami dari beton.  Secara  struktural  kondisi  semacam  ini  sering  diabaikan  karena tegangan tarik telah didukung sepenuhnya oleh tulangan dalam jumlah yang cukup dan ditempatkan secara benar.


Berkembang pesatnya teknologi pada saat ini semakin dituntut adanya alternatif yang terlahir dari beberapa penelitian yang intinya adalah dapat menciptakan suatu temuan baru atau paling tidak dapat mengembangkan penelitian terdahulu, sehingga diharapkan dapat menghasilkan produk teknologi beton yang semakin bermutu dan efisien. Para peneliti dari negara- negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris telah melakukan beberapa eksperimen  dengan  menambahkan   bahan  tambah  yang  bersifat  kimiawi ataupun fisikal pada adukan beton. Salah satu alternatif  bahan tambah yang digunakan yang bersifat fisikal adalah serat baja (steel fibers). Ide dasarnya yaitu menulangi (memberi tulangan pada beton) dengan serat baja yang disebarkan secara merata (uniform) kedalam adukan beton dengan orientasi random. Sehingga beton tidak mengalami retakan-retakan yang terlalu dini akibat pembebanan maupun panas hidrasi (Sorousihan dan Bayasi, 1987).


Dengan demikian diharapkan kemampuan beton untuk mendukung tegangan- tegangan internal (aksial, lentur, dan geser) akan meningkat.


Berbagai macam serat yang biasa digunakan diantaranya adalah baja, kaca, plastik dan karbon. Untuk keperluan non struktural, fiber dari bahan alami  sperti  ijuk,  atau  serat  tumbuh-tumbuhan  yang  lain  juga  dapat digunakan. Masing-masing bahan serat tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan  dalam  memperbaiki  karakteristik  beton.  Untuk  itu  pemilihan jenis bahan serat perlu disesuaikan dengan sifat yang akan diperbaiki.


Tabel    1.1.   Spesifikasi    fiber    yang   sering    digunakan   (Sorousian    dan Bayasi,1978).




















































Fiber


Berat jenis

(ton/m3)


Kuat Tarik (Ksi)


Modulus

Youngs


( 103 Ksi )



Vf


( % )



Diameter


( in )



Panjang


( in )




Baja

7,56




100 - 300

30




0,75–3


0,0005- 0,04


0,5 - 1,5


Kaca

2,70



Up to


100



11




2 – 8


0,004 – 0,03


0,5 - 1,5


Plastik

0,91



Up to


100




0,14 – 1,42


1 – 3


Up to 0,10


0,5 - 1,5


Karbon

1,60



Up to


100




Up to 100


1 – 5


0,0004-0,0008


0,02-0,50

Dewasa ini jenis fiber yang paling populer dipakai di luar negeri adalah fiber baja ( steel fiber ),yang memiliki diameter sekitar 0,5 mm dan panjangnya sekitar 50 mm dengan bentuk geometri yang beraneka ragam. Serat baja lebih banyak digunakan untuk keperluan struktur karena jenis serat tersebut mempunyai faktor-faktor prinsip penguat beton, antara lain kekuatan leleh, modulus elastisitas yang cukup tinggi, dan lekatan yang cukup. Selain itu fiber baja tidak mengalami perubahan bentuk terhadap pengaruh alkali dalam semen. Ikatan dalam komposisi campuran dapat meningkat karena pencampuran secara mekanik.


Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada beton fiber ini adalah : (1) terjadinya korosi pada serat, apabila serat tidak terlindung dengan baik oleh beton, (2) Sifat kohesi yang tinggi dari serat baja ini juga akan mengakibatkan terjadinya balling  effect, yaitu fiber menggumpal seperti bola dan tidak menyebar secara merata pada saat pencampuran, sehingga perlu diusahakan  cara  penyebaran  serat  baja  secara  merata  pada  adukan,  (3) masalah workability, yang menyangkut kemudahan dalam   proses pengerjaan/pemadatan,  (4) masalah mix design/proportion untuk memperoleh mutu tertentu dengan kelecakan yang memadai, untuk itu perlu diteliti.


Pemakaian serat baja sebagai bahan campuran pada adukan beton untuk struktur bangunan belum banyak dikenal dan jarang digunakan di Indonesia. Hal tersebut disebabkan karena serat baja yang dimaksud sulit didapatkan karena keberadaannya harus mendatangkan dulu dari luar negeri, sehingga sangat tidak ekonomis. Untuk mengatasi masalah tersebut beberapa peneliti terdahulu telah mencoba menggunakan bahan lokal yang banyak tersedia di pasaran dengan harga yang lebih murah, yaitu serat kawat bendrat.


Kawat   bendrat   merupakan material terpilih karena disamping mempunyai faktor – faktor prinsip penguat beton, kawat bendrat juga merupakan bahan yang mudah diperoleh. Dari pertimbangan – pertimbangan itulah selanjutnya penulis bermaksud melakukan penelitian tentang : “PENGARUH PENAMBAHAN SERAT KAWAT BENDRAT PADA CAMPURAN BETON (Tinjauan Tehadap Kuat Tarik Belah, Kuat Tekan, dan Modulus Elastisitas Pada Kosentrasi Panjang Serat 8 cm, BS 250, fas 0,5)


1.2. Penelitian Sejenis.


Penelitian  terdahulu  tentang  penggunaan  serat  kawat  bendrat  pada bahan campuran adukan beton  memberikan hasil sebagai berikut :




  1. Ferry Eko Mardiyanto (STTNAS), penambahan serat bendrat pada beton non pasir didapatkan adanya peningkatan kuat tekan sebesar 10,203 % pada kosentrasi fas 0,45 dan serat bendrat 1 %. Peningkatan kuat tarik sebesar 58,932 % dengan fas 0,35 dan serat 1 %. Peningkatan kuat lentur sebesar 31,7 % pada fas 0,35 dan serat 1 %. Sedangkan kemampuan optimal beton dalam menahan gaya tekan, tarik, dan lentur dicapai pada kadar serat 1 % dan faktor air semen 0.40.

  2. Sri Mulyono (STTNAS), penambahan serat bendrat dalam adukan beton menghasilkan kenaikan kuat tekan sebesar 11,014 % pada kosentrasi serat 5,75 % dan 10,986 % pada kosentrasi serat 6,25 %. Pada kosentrasi serat 6,75 % dan 7,25 % terjadi penurunan kuat tekan masing – masing sebesar 9,386 % dan 25,924 5. Penamabahan serat bendrat dalam adukan beton ternyata dapat meningkatkan kuat lentur sebesar 11,72 %, 24,38 %, 21,79 % dan 17,46 % masing–masing pada kosentrasi serat 5,75 %, 6,25 %, 6,75 %, dan 7,25 %.

  3. Bambang Suhendro 1990, penambahan serat kawat bendrat sebagai bahan susun beton akan memberikan hasil sebagai berikut. Beton biasa (BB) memiliki kuat tarik sebasar 2,8 MPa, sedangkan beton fiber baja (BFS-0,5 dan BFS-1,0), beton fiber bendrat (BFB-0,5) dan beton fiber kawat (BFK- 0,5), berturut-turut mempunyai kuat tarik sebesar 3,77 Mpa, 4,50 MPa, 4,425 MPa, dan 3,5 Mpa. Dengan kata lain terdapat peningkatan kuat tarik berturut-turut sebesar 34%, 61%, 58%, 25%.

  4. Sudarmoko  (dalam  Tjokrodimuljo  1996:  122),  hasil  penelitian  yang menggunakan kawat bendrat dengan panjang 60 mm, 80 mm, dan 100 mm menunjukkan bahwa tambahan 1% dari volume beton mampu menaikkan kuat  tekan  beton  sekitar  25%,  kuat  tarik  sekitar  47%,  dan  modulus elastisitas sekitar 10% .


Untuk  menjaga keaslian penelitian  ini terhadap penelitian sebelumnya, maka peneliti akan melakukan penelitian dengan ketentuan sebagai berikut :




  1. Menggunakan serat kawat bendrat lurus dengan kosentrasi panjang serat 80 mm dan diameter 1 mm, berat semen 350 kg/m3, faktor air semen 0,5, komposisi serat  0 %; 2,5 %; 5 %; 7,5 %; 10 % (dari berat semen).

  2. Untuk mengetahui pengaruh penambahan serat kawat bendrat terhadap kuat tekan, modulus elastisitas, dan kuat tarik belah beton.


1.3. Pemasalahan.


Permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini antara lain :




  1. Bagaimana  pengaruh  penambahan  serat  kawat  bendrat  terhadap  kuat tekan, modulus elastisitas, dan kuat tarik belah beton pada kosentrasi serat lurus dengan panjang 8 cm dan diameter 0,1 cm, berat semen 350 kg/m3, faktor air semen 0,5, dan komposisi campuran  0 %; 2,5 %; 5 %; 7,5 %; 10 % (dari berat semen)

  2. Pada komposisi campuran serat berapa persenkah beton mampu menahan gaya tekan, modulus elastisitas, dan kuat tarik belah yang paling optimal.

ANALISA STABILITAS LERENG DI PERBUKITAN SEKARAN SEMARANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA PLAXIS

BAB I


PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah


Kota   Semarang   merupakan   wilayah   yang   memiliki   topografi   yang bervariasi. Luas wilayah Semarang 373,7 Km2 yang terdiri dari 16 kecamatan dan 177    kelurahan    (Http://Students.ukdw.ac.id). Berdasarkan kondisi topografi tersebut  kota  Semarang  dibagi  menjadi  dua  wilayah  geografis  yaitu  Semarang bagian atas dan Semarang bagian bawah. Semarang bagian atas merupakan daerah perbukitan meliputi daerah Mijen, Gunungpati, Banyumanik, Ngalian, Tembalang (lihat Gambar 1.1)


Daerah    Semarang    khususnya   perbukitan   desa    Sekaran    kecamatan Gunungpati mempunyai kelandaian yang tinggi bahkan lebih 200. Daerah tersebut sebaiknya berfungsi sebagai daerah resapan air, tapi karena perkembangan jaman dan peningkatan kebutuhan tempat tinggal, disekitar daerah tersebut beralih fungsi sebagai daerah perumahan  diantaranya  yaitu perumahan  Ayodya Puri Nugraha. Perumahan   dengan   luas   areal   26,8360   Ha   tersebut   terletak   dekat   dengan Universitas Negeri Semarang (UNNES) berjarak 2 Km arah kota Semarang. Kawasan tersebut seharusnya tidak layak untuk perumahan dan lahan pertanian karena  struktur  topografi  yang  landai,  sedikit  wilayah  yang  datar  dan terdapat lereng  agak  curam  bahkan  sampai  curam.  Perbukitan  tersebut  harusnya  layak untuk  daerah  penghijauan  dengan  ditanami  berbagai  tumbuhan  pengikat  yang berfungsi sebagai daerah resapan air wilayah Semarang dan sekitarnya.


Laut jawa


Kendal


Demak


Ungaran


Perbukitan Desa Sekaran


Gambar 1.1 Peta kota Semarang


Keterangan gambar:


1. Kecamatan Semarang Tengah   9. Kecamatan Gajahmungkur


2. Kecamatan Semarang Utara  10. Kecamatan Tembalang


3. Kecamatan Semarang Timur 11. Kecamatan Banyumanik


4. Kecamatan Gayamsari           12. Kecamatan Gpati


5. Kecamatan Genuk                   13. Kecamatan Semarang Barat


6. Kecamatan Pedurungan          14. Kecamatan Tugu


7. Kecamatan Semarang Selatan   15. Kecamatan Semarang Mijen


8. Kecamatan Candisari              16. Kecamatan Ngalian


Jenis tanah di perbukitan Sekaran yaitu tanah lempung sampai lempung kepasiran dan sebagai batuan dasarnya terdiri dari breksi dan tufa yang merupakan hasil kegiatan gunung Ungaran dimasa lampau yang bersifat stabil. Jenis tanah lempung ini mempunyai sifat kembang susut yaitu sifat tanah yang akan mudah berubah   kadar   airnya.   Perubahan   kadar   air  pada  tanah   lempung   ini  akan menurunkan kekuatan geser dalam lapisan tanah dan akan menambah beban tanah yang harus ditahan oleh lereng pada bidang longsornya. Longsor biasanya terjadi pada saat musim hujan karena pada saat musim penghujan,  air akan masuk ke permukaan kedalam tanah atau batuan yang akan menambah tekanan air pori dan berat volume tanah memicu gerakan tanah longsor. Dengan bentuk lereng yang terjal  semakin  meningkatkan   gaya  pendorong  tanah  untuk  bergerak.  Tanah longsor  mudah  terjadi  karena  perubahan  kadar  air,  daya  rembesan  air  dan besarnya sudut lereng. Semakin besar sudut lereng maka semakin mudah daerah tersebut longsor.


Hujan yang deras dengan intensitas lama dan tinggi di desa Sekaran kecamatan Gunungpati   menyebabkan perumahan Ayodya Puri Nugraha Sekaran mengalami  kelongsoran  pada  bulan  Februari  2006.  Akibatnya  merobohkan  45 rumah dan merusak fasilitas pendukung lainnya seperti saluran air, tiang listrik. Bencana  tanah  longsor  yang  lainnya  yaitu  di lereng  Gunung  Lawe  atau  Bukit Pawinihan yang menimbun ratusan rumah di empat rukun tetangga di dusun Gunungraja   desa   Sijeruk   kecamatan   Banjarmangu   kabupaten   Banjarnegara propinsi   Jawa  Tengah  pada  bulan  januari  2006  dan  di  desa  Tumpangsari kecamatan Tembalang kabupaten Semarang yang merusak beberapa rumah disekitarnya. Ketiga bencana longsor tersebut terjadi karena daerah tersebut merupakan daerah perbukitan dengan sudut lereng yang curam. Saat terjadi hujan, air akan langsung mengalir deras dari daerah yang lebih tinggi ke tempat yang rendah sehingga beban tanah bertambah dan terjadi pergerakan tanah.


Longsor  biasanya  terjadi  saat  musim  penghujan  karena  air  hujan  akan masuk ke dalam tanah dan akan menyebabkan tanah menjadi jenuh, tanah yang jenuh terdapat tekanan air pori, karena hujan yang lama maka tekanan air pori akan naik, naiknya tekanan air pori menyebabkan kuat geser tanah menjadi kecil dan pada akhirnya tanah menjadi labil dan rawan longsor.   untuk itu perlu suatu pencegahan  dengan  cara  menganalisis  tanah  yang  rawan  longsor  khususnya daerah yang berpotensi rawan yaitu di daerah perbukitan dengan struktur tanah yang labil seperti didaerah perbukitan Sekaran Semarang.


1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan uraian diatas permasalahan yang muncul adalah untuk mengetahui  penyebab kelongsoran  tanah di perbukitan desa Sekaran kecamatan Gunungpati kabupaten Semarang khususnya di perumahan Ayodya Puri Nugraha Sekaran Semarang dengan meninjau besarnya sudut lereng dan tingkat kejenuhan tanahnya.